Lifestyle

3 Pemikiran Inspiratif Kartini yang Tak Lekang Zaman!

  by: Hana A. Devarianti       21/4/2018
  • Selamat Hari Kartini, ladies! Saatnya merayakan hari kelahiran dari tokoh nasional Indonesia yang terkenal karena perjuangannya terhadap pendidikan wanita. Hmmm, tapi kalau dipikir-pikir hanya Kartini lho satu-satunya tokoh nasional Indonesia yang memiliki hari perayaan atas namanya sendiri. Apa yang membuatnya begitu spesial? Menurut Cosmo, pemikirannya yang maju yang membuatnya jadi panutan bagi wanita fun fearless female seperti kamu.


    Yuk, simak pemikiran-pemikiran Kartini yang tak lekang oleh zaman!




    1. Seorang edukator yang percaya akan kekuatan pendidikan dan literasi

    Pemikiran Kartini yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi buat kamu. Ia memang terkenal sebagai salah satu tokoh nasional Indonesia yang percaya akan kekuatan pendidikan dan literasi untuk memajukan seseorang, dan tentunya sebuah bangsa. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah hak setiap orang, tidak terbatas akan gendernya. Inilah yang kemudian mendorongnya untuk memberontak ketika harus mengikuti tradisi pingit. Hal ini karena pada masa itu tradisi pingit memaksa para wanita Jawa, termasuk Kartini, putus sekolah pada usia belia untuk tinggal di rumah agar dapat dinikahkan.

    Bagi Kartini, seorang wanita adalah pengajar dan pendidik pertama dalam sebuah keluarga dan masyarakat. Ya, menurutnya pendidikan bagi wanita adalah tonggak kehidupan. 


    “Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kebaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu. Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”

    (Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa [baca: Indonesia]: Nota RA Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar)


    2. Seorang humanis yang tak memandang orang lain sebelah mata

    Pemikiran Kartini ternyata tak cuma soal pendidikan dan literasi saja lho. Kartini juga seorang humanis, seseorang yang percaya bahwa sesama manusia harus saling memahami, menghargai, dan menjalin hubungan dengan kebajikan. Pemikirannya ini dipengaruhi oleh gagasan dari Eduard Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal oleh Multatuli. Lewat novel dari penulis asal Belanda yang vokal dan kritis soal kekejaman kolonialisme di Indonesia tersebut, Kartini memahami bahwa kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat para era tersebut hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan menindas kelompok yang lain.

    Meski terlahir di keluarga keturunan raja Madura, Kartini menolak untuk mengaitkan dirinya akan hal tersebut. Ia tak ingin dianggap berbeda hanya karena terlahir dari keluarga berdarah biru. Sama halnya dengan dirinya yang tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan kelas sosialnya. Ia menganggap kelas sosial sengaja dilestarikan oleh feodalisme untuk melahirkan hierarki yang dapat memecah belah masyarakat. 




    "Sebelum kau menanyakan, aku tidak pernah memikirkan bahwa aku, seperti katamu, adalah keturunan ningrat tinggi. Apakah aku seorang putri raja? Bukan. Raja terakhir yang menurunkan kami, mungkin sudah berlalu 25 turunan yang lalu. Bagiku hanya ada dua jenis bangsawan: bangsawanan jiwa (akal) dan bangsawanan budi (perasaan). Di manakah gerangan letak jasa orang bergelar graaf atau baron (gelar untuk bangsawan)? Pikiran saya yang picik ini tidak sampai untuk memikirkan hal itu..."

    (Surat Kartini untuk sahabatnya Estella Helena Zeehandelaar, dimuat dalam buku Surat-surat Kartini. Renungan tentang dan untuk Bangsanya)


    3. Seorang pendobrak akan stigma yang melemahkan sosok wanita

    Tak perlu diragukan lagi kalau Kartini adalah sosok wanita fearless pada eranya. Ia berani untuk mendobrak dan melawan stigma yang melemahkan sosok wanita di masyarakat. Salah satunya adalah tidak setuju soal budaya yang memaksa wanita untuk tidak melanjutkan pendidikan karena harus "masuk dapur". Ia beranggapan bahwa seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan dalam masyarakat.

    Kartini sangat peka akan masalah sosial yang satu ini karena melihat wanita pribumi  memiliki status sosial yang rendah di masyarakat dan sangat tertinggal. Lewat surat-surat yang ia kirimkan ke sahabat penanya di Belanda, Estella Helena Zeehandelaar, Kartini kerap kali mengungkapkan soal pemikirannya tentang wanita pribumi. Mengatakan bahwa wanita pribumi berhak diperlakukan sama dalam kehidupan bermasyarakat. Yes ladies, meski berada di tengah penjajahan Belanda yang sering kali "mengecilkan" sosok wanita pribumi, Kartini sudah berani menyuarakan soal emansipasi wanita.

    "Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata emancipatie [baca: emansipasi] belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri."

    (Surat Kartini untuk sahabat penanya Estella Helena Zeehandelaar tahun 1899)


    Dengan pemikirannya yang maju dan melewati zamannya, tak heran kalau Kartini menjadi salah satu tokoh wanita Indonesia yang paling populer. Jadi, rasanya merayakan Hari Kartini bukan cuma dengan memakai kebaya dan pakaian adat. Yang tak kalah penting adalah memahami kembali pemikiran revolusionernya dan meneruskan semangatnya akan pemberdayaan dan keadilan bagi wanita.


    (Hana Devarianti / SW / Image: ilustrasi oleh Lalita Prima. Instagram.com/@lalityeah)