Celebrity

Berbincang tentang Musik & Perempuan dengan Anggun C. Sasmi

  by: Givania Diwiya Citta       5/4/2019
  • Devout, compassionate, visionary. Rasanya tiga kata tersebut bisa menggambarkan persona Anggun, salah satu diva kebanggaan Indonesia ini. Dalam salah satu kesempatan, Cosmo menemui penyanyi ini di acara Pantene Perfect On Art Experience yang digelar Maret lalu, dan berbincang tentang album terbarunya yang penuh makna, talenta generasi milenial di industri musik global, hingga perempuan-perempuan berpengaruh yang melintas dalam hidupnya. Be inspired, girls!


    Dengan album terbaru 8, apa tantangan terbesar dalam proses pembuatannya, dan bagaimana cara Anda menaklukannya?

    Tantangannya adalah bagaimana agar tetap jujur, karena saya termasuk tipe penyanyi yang tidak mengikuti tren. Saya pasti out of date jika berbicara tentang tren! Penting untuk jujur terhadap identitas sendiri, karena hal itulah yang akan menjadi kekuatan dari diri kita. Ibaratkan seperti di dunia yang Kardashian ini, saya ingin menjadi Audrey Hepburn yang klasik. Saya ingin menjadi sepertinya, di mana lagu-lagu saya bisa diingat dan dinikmati bahkan hingga 20 tahun setelahnya, atau bahkan selamanya. Dan hal itu bisa dicapai tanpa harus didikte oleh kemauan market yang sekarang.




    "Saya ingin lagu-lagu saya bisa diingat dan dinikmati bahkan hingga 20 tahun setelahnya, atau bahkan selamanya."


    Lagu serta lirik Anda selalu dikenal penuh makna. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan melalui album 8?

    Tentang kesadaran diri bahwa kita hidup di era yang tidak mudah. Era di mana saling menghakimi itu mudah, bahkan oleh orang yang tidak menjalani hidup bersama dengan kita. Juga bahwa terkadang kita mudah mengonsumsi hoax, yang sebenarnya kita harus ekstra hati-hati di era digital ini. Karena era digital ini semakin membuat kita sulit untuk menemukan batasan antara kawan dan musuh. Ada pula pesan yang ingin saya sampaikan lewat single pertama dalam album ini, What We Remember. Lagu ini mengungkapkan bahwa apa yang kita miliki di dunia sesungguhnya tidak banyak. Semua yang kita punya hanyalah yang kita ingat saja. Jadi pesannya adalah agar sebisa mungkin, kita memberi kenangan yang positif untuk orang lain agar – mudah-mudahan – mereka membawa sesuatu yang positif tentang kita dan untuk kita.



    Anda pun terlibat sebagai salah satu juri Asia’s Got Talent, setelah sebelumnya terlibat dalam The Voice Indonesia. Talenta dan karakter seperti apa yang paling Anda banggakan dari para generasi milenial ini?

    Mereka tidak melupakan generasi-generasi sebelumnya, yaitu para musisi pendahulu yang membukakan jalan untuk generasi baru ini. Karena banyak sekali penyanyi-penyanyi dengan talenta suara yang kekinian, yang sangat bisa melakukan cover untuk lagu-lagu penyanyi lain – yang bahkan sudah punya YouTube channel sendiri – tapi sayangnya saat disuruh menyanyikan lagu sendiri, tidak tampak identitasnya. Itu yang saya sayangkan! Perihal teknik vokal, mereka tidak perlu dipertanyakan lagi, rata-rata sangat oke. Tapi yang membentuk seseorang menjadi seniman bukanlah hanya tentang teknik vokal, tapi juga harus memiliki esensi dan substance. Inilah yang saya cari. Penyanyi yang bukan hanya bisa bernyanyi, tapi yang juga bisa menceritakan sesuatu, bisa menulis sesuatu atau memainkan instrumen sendiri, dan bisa menginspirasi orang lain. Kebanyakan dari mereka yang mempunyai faktor-faktor tersebut, adalah mereka yang mempunyai referensi musik yang tahu siapa Rita Butar-butar, Koes Plus, atau bahkan para biduanita zaman dahulu – dan mereka yang menyukai lagu-lagu era ’70-an, ’80-an, ’90-an, sampai sekarang – dengan library musik yang besar. Semakin besar perpustakaan serta referensi musik kita, semakin kita bisa mengeluarkan suatu karya yang lebih menarik. 




    "Anak perempuan saya menjadikan saya perempuan yang lebih mengerti hal-hal dalam hidup." 


    Berbicara tentang perempuan, siapa saja tiga perempuan paling berpengaruh dalam hidup Anda, dan apa pelajaran terbaik yang bisa Anda pelajari dari mereka?

    Pertama adalah Eyang. Tanpa saya ketahui, Eyang mungkin adalah salah satu feminis pertama yang saya kenal. Ia datang dari Yogyakarta, membawa bisnis membuat batik yang mempekerjakan perempuan-perempuan lain di lingkungan tinggalnya. Yang tadinya perempuan-perempuan tersebut hanya bekerja mengurus anak, tapi mereka lantas diberikan pekerjaan kreatif. Bagi saya, itu sangat inspiratif.

    Kedua, Élisabeth Badinter, seorang politikus sekaligus filsuf di Perancis. Ia dan suaminya, Robert Badinter, adalah yang berusaha dan berhasil menghilangkan hukuman mati di Perancis sejak tahun 1981.

    Ketiga adalah anak saya. Anak perempuan saya membuat saya belajar sebagai ibu dengan identitas baru. Menjadikan saya perempuan yang lebih mengerti hal-hal dalam hidup. Saat saya mengandungnya, saya jadi mengerti mengapa saya memiliki payudara, mengapa saya punya rahim. Nyatanya, ini bukanlah aksesori untuk menyenangkan laki-laki, ia memiliki fungsinya masing-masing. Dan sebelum saya memiliki anak, saya tidak tahu hal-hal sepele seperti itu. 


    Selalu tampak fit dan segar, apa rutinitas kecantikan Anda?

    Saya sejujurnya termasuk tipe low maintenance! Mungkin ada banyak flaw yang bisa ditutup oleh makeup dan busana, tapi bagi saya hanya satu yang tidak bisa ditutupi, yaitu mood. Karena akan terlihat dari mata dan aura seseorang. Jika kita bahagia akan hidup dan pekerjaan, maka hal itu akan terpancar. Itulah yang akan saya junjung tinggi, bahwa selalu jujur agar selalu lega dalam menjalani segala sesuatunya. Jadi saat ada pekerjaan yang besar, kita justru akan berpikir, ini adalah challenge. Lihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Sebisa mungkin, selalu melihat sesuatu sebagai half-glass-full, or simply that there’s a water in the glass.


    (Image: Dok. Instagram.com/anggun_cipta)