Lifestyle

Cosmo Review! Belajar Keikhlasan dari Film Mantan Manten

  by: Givania Diwiya Citta       17/4/2019
  • Telah tayang di bioskop, film Mantan Manten memberi warna segar pada industri film nusantara. Jika kamu sudah menontonnya (spoiler alert bagi kamu yang belum!), Cosmo yakin kamu sudah familier dengan plot melihat mantan pasangan yang menikah dengan orang lain. Tapi di sini, Mantan Manten mengemas plot klasik ini dengan twist yang, kalau boleh jujur, menyesakkan namun sekaligus membuat hati lega. 





    Film ini ternyata bukanlah film drama cinta romantis. Film ini justru lebih menyoroti tentang kekuatan dan perjuangan seorang perempuan dalam medan pertempuran. Yang jadi pertanyaan, siapa gerangan yang ia lawan? Terkadang orang lain, namun lebih banyak adalah ego dan dirinya sendiri. Ini adalah cerita tentang perempuan yang memenangi perang dengan negativity yang muncul dari lingkaran eksternal serta internal dirinya.



    Pertama, Yasnina (Atiqah Hasiholan) harus melawan rasa marahnya terhadap Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo) yang menjebaknya dalam politik perusahaan. Membuat Yasnina mengalami kicked out oleh board members, lalu luntang-lantung kehilangan pekerjaan. Segala harta yang dimiliki Yasnina pun disita karena ia dijebak untuk mempertanggungjawabkan kasus investasi yang menyeret namanya sebagai dalang utama. She’s broke to zero, losing her career, and what could be more petrifying than that for an urban woman?



    Kedua, Yasnina harus melawan rasa tidak sabaran terhadap Marjanti (Tutie Kirana), karena Marjanti lah satu-satunya jalan keluar bagi masalah Yasnina. Ia menyusun rencana untuk membawa kasus penjebakan Arifin terhadapnya ke jalan hukum, dengan ide menggunakan uang hasil menjual vila Yasnina yang sempat ia beli dari Marjanti beberapa tahun silam, untuk menyewa pengacara dan perihal proses usutannya. Namun perkara vila yang belum balik nama, Yasnina dan Marjanti membuat perjanjian bahwa Marjanti hanya bersedia menandatangani surat kuasa untuk benar-benar melepas vilanya, jika Yasnina tinggal bersamanya selama tiga bulan, dan menjadi asisten Marjanti sebagai pemaes.



    Ketiga, Yasnina harus melawan rasa angkuhnya untuk belajar dari nol tentang tradisi pernikahan adat Jawa yang dikuasai Marjanti. Yasnina pun dihadapkan dengan pola pikir hingga kebiasaan yang bertolak belakang dengan dinamika kehidupan kaum urban era modern, seperti salah satunya makna bekerja oleh Marjanti yang berarti keikhlasan, bukan berorientasi materi semata. Dan tentu saja, struggle dari proses latihan menjadi pemaes yang nyatanya tidak main-main. Mulai dari rangkaian mutih, mandi di air terjun, bersemedi, berjalan dengan jongkok, memaes, hingga menjadi dukun untuk pengantin. Marjanti pun diam-diam memiliki misi ingin mewariskan tradisi ini pada Yasnina demi kelestarian paes di era Indonesia modern ini.





    Keempat, Yasnina harus melawan rasa kecewanya terhadap sang mantan tunangan sekaligus putra satu-satunya Arifin Iskandar, Surya Iskandar (Arifin Putra), karena absen saat ia berada di titik terendah hidup, dan merelakannya (bahkan membantu melancarkan acara) pernikahan Surya dengan perempuan lain. Seperti yang Yasnina ungkapkan dalam film, “This is my battle,” Yasnina pada akhirnya bertempur untuk belajar keikhlasan, untuk merelakan rasa kesal, marah, pengkhianatan, kehilangan, dari orang-orang yang melintas di hidupnya, dan belajar atasnya.



    Jika bisa dirangkum, jalan cerita yang dikemas dalam Mantan Manten berhasil mengekspos tentang kekuatan memaafkan yang ternyata lebih menyehatkan bagi mental, meski berada di antara ketidaksempurnaan situasi yang menderu. Sutradara Farishad Latjuba juga berhasil membuat film mengalir dengan nyaman, lewat sisipan humor sesuai porsinya, serta injeksi sejarah dan pengetahuan akan nilai-nilai akar budaya Jawa yang kaya dimiliki Indonesia. 



    Meski Cosmo masih bertanya-tanya mengapa Arifin Iskandar harus menjebak Yasnina yang merupakan A-star employee di perusahaannya, (dan ke mana perginya si humoris Darto? We surely miss his presence at the end of the movie!) namun Mantan Manten berhasil mewujudkan makna women empowerment di era kontemporer ini. Yaitu dengan merayakan perempuan-perempuan yang berdaya juang tinggi di antara turbulensi hidupnya, namun sekaligus kuat untuk saling mendukung dan rooting for each other. Kudos!


    (Image: Dok. Instagram.com/mantan.manten. Ilustrasi: Maya Rahmawati Putri)