Better You

Bagaimana Krisis Corona Bisa Mempengaruhi Siklus Menstruasi

  by: Shamira Priyanka Natanagara       3/4/2020
  • Tak ada yang terasa normal saat ini, tentu saja berkat pandemi virus corona yang berdampak pada seluruh dunia. Penghidupan banyak orang telah terpengaruh, begitu pula dengan kehidupan sosial, kesehatan mental, dan siklus menstruasi kita pun bisa terkena dampak pandemi ini.

    Kecemasan yang disebabkan oleh ketidakpastian virus corona telah membuat banyak orang semakin stres dan, tanpa disadari, ini bisa mempengaruhi siklus menstruasi.

    "Stres bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Untuk orang-orang yang menstruasi, stres bisa mempengaruhi siklus datang bulan," Dr. Sarah Toler, dokter praktik keperawatan dan penulis sains untuk aplikasi kesehatan Clue, memberi tahu Cosmo. So, bagaimana, secara lebih spesifik, stres ini akan menjadi nyata? Hmm... rasanya ada sejumlah jawaban untuk pertanyaan ini.




    Stres bisa menyebabkan terlambat atau absen menstruasi

    Jika menstruasimu terlambat, atau belum datang sama sekali, ini bukan berarti kamu mengandung. "Stres mengaktifkan jalur hormonal dalam tubuh yang bernama sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA)," jelas Dr. Sarah. "Aktivasi ini mendorong pelepasan hormon stres, kortisol, dan hormon pelepas kortikotropin (CRH). Bersama, ketiga komponen ini (yaitu sumbu HPA, kortisol, dan CRH) membantu mengontrol respon stres di dalam tubuh. Namun, menurut penjelasan sang dokter, "pelepasan kortisol yang berlebihan bisa menekan kadar hormon reproduksi yang normal, kemungkinan menyebabkan ovulasi abnormal, yang bisa mengganggu siklusmu."

    Gangguan tersebut bisa, sebagai gantinya, menyebabkan keterlambatan siklus menstruasi—atau dalam beberapa kasus kemungkinan sama sekali tidak menstruasi, yang disebut 'amenorea'. Dr. Sarah mengatakan bahwa, meskipun ada sedikit riset ilmiah untuk membuktikan adanya korelasi langsung antara stres dan gangguan siklus menstruasi (karena ada faktor terkait lainnya yang bisa berpengaruh), "perang, berpisah dari keluarga, dan kelaparan adalah beberapa hal yang terkait ameroea dalam laporan dokter dan epidemiologi (ilmu kesehatan yang terkait dengan tingkat populasi).



    Panjang siklusmu bisa berubah

    "Selain itu, stres dalam kehidupan sehari-hari pun bisa mempengaruhi durasi siklusmu," jelas sang dokter. "Sebuah penelitian mengenai stres pada perawat wanita menemukan hubungan antara stres tingkat tinggi dan anovulasi (ketiadaan ovulasi) serta stress tingkat tinggi dan siklus yang lebih panjang. Sebaliknya, stress tinggi tapi pekerjaan low control, di mana seseorang memiliki sedikit kontrol atas tugas-tugas dan keputusan mereka, telah diasosiasikan dengan siklus lebih pendek."




    PMS bisa terasa lebih parah

    Inilah yang Cosmo harap tidak akan terjadi, karena hal terakhir yang kami sukai ketika sedang self-quarantine adalah menghadapi mood swings dan kram intens. Dr. Sarah menjelaskan: "Meningkatnya nyeri saat menstruasi bisa menjadi salah satu efek samping dari situasi yang penuh stres ini. Dismenore (nyeri haid) telah dikaitkan dengan pekerjaan low control, insecure, dan dukungan dari rekan kerja rendah." Jika skenario stres dalam situasi kerja ini bisa menyebabkan PMS yang intens, maka secara teori, situasi yang penuh stres lainnya bisa menyebabkan hal yang sama.

    Meskipun begitu, sang dokter juga menjelaskan bahwa kemungkinan kamu tidak merasakan efek ini selama beberapa saat. "Stres dari bulan sebelumnya bisa mempengaruhi frekuensi dismenore, jadi seseorang mungkin tidak mengalami menstruasi yang nyeri sebagai dampak dari stres sampai bulan berikutnya," katanya. Sang ahli pun menambahkan bahwa kemungkinan kamu akan merasakan kram yang lebih parah jika memiliki riwayat dismenore.



    Apa yang bisa dilakukan agar siklus tetap normal?

    "Penting untuk mengingat bahwa kemungkinan wabah ini tak akan mempengaruhi siklusmu," kata Dr. Sarah. Namun jika kamu ingin lebih memperhatikan cara tubuhmu bereaksi terhadap situasi self-quarantine yang mungkin kurang familier ini, kamu bisa mengamati perubahan apa pun menggunakan aplikasi smartphone, seperti Clue. "Yang paling penting, ingat bahwa stres kemungkinan besar adalah biang dari perubahan pada siklus yang kamu sadari, bukan virus corona itu sendiri," lanjutnya.

    Dari sudut pandang kesehatan mental, ia menyarankan: "Jika kamu merasa terpengaruh secara mental oleh berita virus corona, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah fokus pada dirimu dan lakukan aktivitas self-care. Daripada terus-menerus memantau berita soal perkembangan COVID-19, coba lakukan sedikit stretching dan deep breathing setiap hari. Jika kamu tinggal bersama pasangan, roomate, atau keluarga, gunakan waktu ini untuk berkomunikasi dan memelihara hubungan. Hubungi teman dan tetanggamu melalui telepon atau video call—persahabatan virtual bisa membantu menghadapi situasi ini dan membuatmu tetap bersosialisasi.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Shamira Natanagara / Ed. / Opening image: Anna Shvets from Pexels, GIPHY)