Lifestyle

Gagal Membuat Dalgona Coffee? Ini 5 Alasannya!

  by: Shamira Priyanka Natanagara       5/4/2020
  • Apakah kamu sudah mencoba tren Dalgona Coffee? Minuman ini pada dasarnya adalah whipped coffee yang mulai viral berkat media sosial TikTok dan YouTube. Inovasi ini datang dari Korea, yang sukses membuat banyak orang terkagum-kagum sekaligus frustrasi ketika mencoba membuatnya. 

    Cosmo rasa ada dua hal yang membuat orang-orang frustrasi akan tren minuman kopi ini: bahan-bahannya yang sebenarnya sederhana, serta langkah utama dalam pembuatan kopi ini, yaitu mengocok bahan-bahan hingga memiliki tekstur busa seperti whipped cream. Membuat busa kopi tampak mudah, jadi wajar saja jika banyak yang gagal ketika mencoba membuatnya di rumah.

    So... apa saja yang membuat Dalgona Coffee buatanmu gagal?




    1. Kamu menggunakan kopi instan 3-in-1

    Kesalahan terbesar yang orang-orang lakukan adalah mengira bahwa tipe kopi apa pun bisa digunakan untuk resep ini, termasuk kopi instan 3-in-1 favorit mereka. Sayangnya, jenis kopi tersebut mengandung bahan-bahan lain yang tidak dibutuhkan resep asli Dalgona Coffee, yang hanya membutuhkan butiran kopi instan, gula, dan air untuk membuat busa kopi.

    Mungkin kamu tergoda untuk menggunakan bubuk kopi seduh, dan meskipun ini terdengar seperti sebuah solusi, tapi kecuali kamu bisa membuat rasa kopi lebih intens dengan sedikit air, sebaiknya gunakan butiran kopi instan saja.


    2. Kamu tidak menambahkan cukup gula

    Bahan-bahan untuk membuat Dalgona Coffee bukanlah satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Seperti resep makanan lainnya, pengukuran itu penting—dan sangat penting dalam membuat minuman ini untuk menghindari kegagalan. Ini resep yang Cosmo sarankan:

    • 1 sendok makan kopi instan
    • 2 sendok makan air dingin
    • 8 sendok makan gula


    Ya, ini bukanlah resep yang beredar di internet, tapi ini adalah rasio yang Cosmo rasa paling sempurna. Jumlah gula yang digunakan mungkin mengagetkan, tapi jumlah air yang digunakan pun sedikit, sehingga jumlah gula tersebut penting agar kopimu bisa memiliki tekstur busa layaknya awan yang diinginkan.


    3. Kamu tidak menggunakan pengocok

    Tak perlu menggunakan mixer, pengocok telur pun tak masalah. Kecuali jika kamu ingin membuat resep untuk porsi besar, ada baiknya untuk menggunakan mixer.

    Oh! Apakah kamu sudah mencoba membuatnya menggunakan blender? Nah, walaupun terdengar seperti ide yang cemerlang, blender akan memanaskan campuran sehingga tidak mengembang sesuai keinginan.




    4. Kamu menggunakan terlalu banyak air

    Apakah busa kopimu terlalu cair? Mungkin kamu terlalu banyak menggunakan air. Air yang dibutuhkan memang sedikit, tapi hindari juga menggunakan terlalu sedikit air karena akan membuat kopimu terlalu padat. Dan jika menggunakan terlalu banyak, kamu akan menghabiskan banyak waktu mengocok campuran tersebut. 


    5. Kamu berhenti mengocok setelah beberapa saat

    Resep ini akan benar-benar menguji kesabaranmu karena perlu waktu untuk mengocok campuran kopi, gula, dan air. Campuran tersebut pada awalnya akan berupa cairan, kemudian menjadi berbusa setelah beberapa detik. Nah, namun butuh setidaknya delapan menit agar busa tersebut bisa menjadi lebih padat jika kamu menggunakan mixer, dan 15 menit jika menggunakan pengocok telur.

    There's a good news, though! Kamu bisa istirahat sejenak dan ganti tangan jika mampu. Jika kamu tidak sabar, atur timer agar kamu tahu persis berapa menit yang telah dihabiskan.

    Begitu campuran tersebut terlihat whipped, jangan berhenti mengocok! Untuk resep ini tak ada yang namanya overwhipping alias terlalu banyak mengocok, karena kopi hanya akan menjadi lebih tebal dan lengket. Coba buat tekstur yang tebal dan lengket agar kopi bisa dibentuk sesuka hatimu, seperti di foto berikut ini:



    Minuman yang sedang ngetren ini memang lezat, tapi butuh cukup banyak waktu untuk membuatnya. Anggap saja hasil Dalgona Coffe yang memuaskan sebuah hadiah untuk kesabaranmu, hehehe...


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan Phillipines / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Shamira Natanagara / Ed. / Opening image: Claudiu Hegedus on Unsplash)