Celebrity

Wawancara dengan Rachel Amanda: Aksi Gen Z untuk Women Empowerment

  by: Givania Diwiya Citta       8/4/2021
  • ICYMI, beberapa waktu lalu, Cosmo berkesempatan untuk berbincang bersama Rachel Amanda dalam sebuah sesi IG Live, untuk memperingati bulan Maret yang didedikasikan untuk perempuan, mengingat kita merayakan Hari Perempuan Internasional sampai Women’s History Month secara anual. Aktris muda tanah air ini pun angkat bicara tentang kekuatan perempuan serta menjadi perempuan yang berdaya di era modern ini, terlebih bagi Gen Z yang penuh aksi. We’re inspired, and we bet you’ll be too. Simak wawancaranya berikut ini!


    Pertama-tama, bagaimana cara kamu memaknai dan merayakan momen yang didedikasikan untuk perempuan ini, seperti Hari Perempuan Internasional dan Women’s History Month?

    Saya pribadi memaknai Hari Perempuan Internasional sebagai waktu untuk saling menghargai pencapaian satu sama lain, menghargai posisi perempuan, dan merayakan semua yang telah perempuan suarakan selama ini. Mulai dari hak mendapatkan pendidikan, hak untuk memilih, dan hak yang perempuan puluhan tahun lalu belum sempat dapatkan. Tapi selain itu, saya rasa momen ini juga adalah untuk terus menyuarakan hal-hal yang masih meresahkan kita, seperti pelecehan dalam bentuk apapun – apalagi saya sangat galak terhadap catcalling – begitu juga untuk perpecahan stigma antara perempuan yang jadi ibu rumah tangga ataupun perempuan karier. Hal ini juga membuat saya berpikir bahwa jangan-jangan selama ini bukan hanya orang di luar sana yang meributkan hal ini, tapi kita sebagai sesama perempuan jangan-jangan masih memiliki stigma tersebut di dalam diri.





    Apa satu isu tentang perempuan yang paling jadi concern kamu?

    Meski belum banyak aksi yang saya lakukan terhadapnya, tapi saya concern dalam child marriage dan forced marriage. Meskipun angka data kekerasan dalam pernikahan itu menurun di Indonesia, tapi kasus ini masihlah ada. Artinya, masalah ini belum selesai. Lalu beberapa waktu lalu saya juga berkesempatan ikut menjadi relawan untuk salah satu badan PBB yang berfokus pada perempuan dan populasi. Saya pun beruntung bisa ikut konferensi besar dan menemukan fakta bahwa masalah yang jadi concern saya tadi, tak hanya merupakan masalah negara kita saja. Child marriage dan forced marriage adalah isu global. Saya akan sangat tertarik jika ada yang bisa membicarakan isu ini. Saya biasanya mengikuti pembicaraan tentang isu ini ketika ada ahli yang menyuarakannya. 


    Bagi kamu pribadi, bagaimana cara kamu mendeskripsikan kekuatan sesungguhnya dari seorang perempuan?

    Perempuan itu kuat karena dirinya utuh. Bagi saya, perempuan itu utuh tanpa embel-embel apapun – tanpa status sosial, pekerjaan, pendidikan, pasangan, memiliki keturunan atau tidak. Perempuan itu spesial karena kita diberi anugerah untuk melahirkan, punya masa menstruasi, punya hormon-hormon yang secara biologis tak laki-laki miliki. Mungkin ada orang yang merasa bahwa menjadi perempuan itu repot, but that’s what makes us strong! Itulah perempuan, ia utuh tanpa embel-embel apapun. Ini pula yang akan menjadikan kekuatan perempuan beragam, contohnya ada yang ahli dalam bidang pekerjaannya, atau ada yang memilih untuk menempuh pendidikan dahulu. Tidak perlu ada satu hal spesifik yang mendeskripsikan dirinya, karena sedari awal perempuan itu sudah kuat.


    Mungkin ada orang yang merasa bahwa menjadi perempuan itu repot, but that’s what makes us strong!


    Apa saja hal-hal yang kamu lakukan untuk diri sendiri agar selalu merasa berdaya dan kuat?

    Pertama adalah belajar memahami diri sendiri – mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan diri, juga kesukaan dan ketidaksukaan kita. Dari sana kita bisa berangkat untuk bersuara di bidang tertentu. Semisal jika kita memilih untuk sekolah atau bekerja, kita pasti telah mempertimbangkan keputusan berdasarkan sudah memahami diri sendiri terlebih dahulu. Tapi menurut saya, pendidikan masihlah amat penting, namun ia tak selalu harus dalam konteks formal. Pendidikan informal seperti life skills juga sama pentingnya. Berdaya juga bukan hanya berarti tentang diri sendiri, tapi juga tentang aware terhadap orang-orang di sekitar. Jadi, kita pun harus belajar berlatih untuk empati. Mulai dari mendengarkan cerita dari teman-teman, atau mengetahui apa yang sedang dialami oleh para perempuan di sekitar kita. Jika kita menjadi orang yang lebih aware dan membuka mata terhadap apa yang terjadi di kiri-kanan kita, maka menurut saya, kita sudah termasuk menjadi orang yang berdaya sekaligus memberdayakan orang-orang di sekitar kita. Mendengarkan juga bisa menjadi aksi kecil yang mampu memberi impact pada lingkungan sekitar. Meskipun mendengarkan itu sulit, namun ini adalah sesuatu yang harus dilatih terus menerus.


    Berdaya bukan hanya berarti tentang diri sendiri, tapi juga tentang aware terhadap orang-orang di sekitar.


    Mengapa penting untuk saling mendorong perempuan agar sama-sama maju? Dan apa hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan kepada sesama perempuan untuk saling memberi dukungan dan kekuatan?

    Saya senang karena beberapa tahun ke belakang, awareness tentang perempuan membantu sesama perempuan sudah mulai naik di berbagai belahan dunia. Yang saya ingat, ada satu teman saya, seorang psikolog anak yang sekaligus merupakan seorang ibu. Ia bernama Fathya Artha, ia pun membuat suatu wadah komunitas Ibu Punya Mimpi. Itu adalah wadah khusus untuk para ibu yang mempunyai mimpi-mimpi lain, yang perlu dibicarakan atau ingin melakukan sesuatu tapi bingung cara menyalurkannya. Itu adalah salah satu bentuk perempuan mendukung perempuan untuk sama-sama maju. Selain itu, saya percaya ada banyak komunitas lain yang saling membantu korban kekerasan seksual.

    Namun kita sebagai individu, kita bisa saling mendukung dengan cara aware terhadap keadaan yang dialami orang di kiri-kanan kita. Setelah itu, cobalah untuk mengobrol empat mata. Contohnya, kita sadar bahwa ada teman kita yang terlibat dalam hubungan toxic. Bagi kita yang sudah punya pengetahuan lebih jauh tentang hubungan toxic, kita bisa melakukan hal seperti sesederhana mengajak teman kita bicara, menanyakan mereka apakah hubungan yang mereka jalin adalah hubungan yang sehat, dan sebutkan bahwa mereka itu berharga. Datanglah sebagai teman, tidak perlu menjadi orang yang expert lalu menceramahi perempuan-perempuan di sekitar. Menjadi teman yang baik menurut saya adalah salah satu langkah yang tepat untuk sesama perempuan bisa saling mendukung. 

    Menjadi teman yang baik adalah salah satu langkah yang tepat untuk sesama perempuan bisa saling mendukung. 

    Saya juga ingin bercerita, tentang data yang saya temukan tiga tahun lalu. Saya mengerjakan skripsi dengan topik yang kurang lebih menyinggung tentang hal ini. Yaitu tentang bagaimana orang mempersepsikan kemampuan perempuan dalam berpolitik. Semisal jika perempuan memberikan komentar di artikel berita politik online, maka akan dipertanyakan validitasnya. Penelitian eksperimental saya ini melibatkan komentar dari laki-laki dan perempuan. Ternyata, hasilnya cukup signifikan bahwa artikel berita yang dikomentari oleh perempuan dianggap tidak sevalid komentar laki-laki. Ternyata, hampir dua per tiga peserta penelitian saya adalah perempuan. Artinya, perempuan sendirilah yang meragukan kemampuan sesamanya untuk punya kompetensi berbicara di bidang politik. Saya pun mengambil kesimpulan, mungkin memang benar di luar sana ada banyak laki-laki yang meragukan perempuan, tapi mari cek dulu, kita sendiri – sebagai sesama perempuan – juga sama meragukan kemampuan sesama tidak? Jangan-jangan, kita sendiri yang tidak percaya bahwa teman perempuan kita sebenarnya mampu. Jadi, memang dari kita, perempuan, sendiri yang harus memulainya untuk saling percaya satu sama lain. 


    Menurut kamu, apakah ada batasan dalam empowering perempuan? 

    Mengapa kita memiliki pikiran bahwa empowering perempuan itu harus ada batasnya? Apakah itu berasal dari stigma lingkungan yang menyebutkan bahwa perempuan tak perlu punya kedudukan tinggi atau khawatir jika perempuan tidak bisa mendapatkan pasangan kalau punya power? Menurut saya, kalau pasangan yang tepat, maka pada akhirnya ia akan menjadi teman yang baik buatmu juga. Batasan itu bukan berarti perempuan hanya didukung untuk sampai posisi tertentu saja. Semisal dalam konteks hubungan, terkadang ada waktu untuk kita berkompromi, tapi itu bukan berarti kita benar-benar berhenti dari mimpi kita. Semisal ada yang ingin menyelesaikan S1 terlebih dahulu, kemudian melakukan rencana bareng pasangan atau melakukan prioritas lain bersama keluarga. Jadi menurut saya, ini bukan tentang batasan, tapi hanya lini waktunya saja yang berbeda. Ada yang bisa dilakukan sekarang, ada yang bisa dilakukan nanti. Bukan berarti mimpi seseorang atau bentuk empowerment itu selesai. 



    Peluang dan kesempatan apa saja yang bisa dioptimalkan oleh para perempuan muda, khususnya para anggota Gen Z, untuk menjadi berdaya di era modern ini?

    Saya pernah baca di suatu artikel, Gen Z diprediksi akan menjadi generasi yang “paling kaya” sepanjang sejarah. Mungkin itu adalah karena kesempatan yang tersedia sudah sangat luas, apalagi secara teknologi sudah sangat memadai. Jadi, untuk memberdayakan diri sendiri serta orang lain akan terasa lebih mudah. Let’s say, saya saja sangat salut pada Kylie Jenner yang sudah punya Kylie Beauty dan perusahaannya sendiri di usia yang sangat muda. Belum lagi ia adalah seorang ibu yang berdaya dan memiliki putri yang punya manner baik. Di zaman modern ini, kesempatannya besar untuk bisa memberdayakan diri serta orang lain. Tapi di satu sisi, saya juga merasa bahwa pilihan bisa menjadi terlalu banyak, karena informasi yang tersedia pun banyak. Lantas yang perlu kita latih adalah tentang memilah informasi dan mencoba fokus pada satu bidang. Itulah yang menurut saya akan agak tricky bagi Gen Z. Tapi yang perlu disadari, di era Gen Z ini, gerakan dimulai dari diri sendiri. Jika dulu apapun yang digerakkan harus ada hirarki, namun untuk era sekarang, kita sebagai individu sudah bisa bergerak sendiri. Itulah kekuatan Gen Z. 


    Di era Gen Z ini, gerakan dimulai dari diri sendiri.


    BTW, bagaimana caranya untuk mencegah bullying antar sesama perempuan?

    Saya tidak akan bilang ini adalah cara yang mudah, tapi mungkin ini adalah cara paling cepat yang bisa kita lakukan. Yaitu jangan bully diri sendiri dahulu. Ketika kita punya gambaran yang baik tentang kita sebagai perempuan, bahwa kita memiliki berbagai kelebihan juga sekaligus kekurangan, lalu menerima bahwa tubuh kita beragam – yang mungkin bukan tampak seperti model ideal – tapi badan ini sehat untuk membawa kita beraktivitas ke mana pun. Saya pribadi juga masih belajar tentang hal itu, karena dengan menerima diri sendiri, maka akan memudahkan kita sedikit banyak untuk melihat orang lain pula. Mungkin itu sebabnya ada orang-orang yang mudah membicarakan orang lain, karena biasanya ia memiliki rasa insecurity terhadap dirinya sendiri. Jadi, mari cobalah untuk melihat diri sendiri sebagai perempuan yang punya kelebihan juga kekurangan, lalu begitulah pula pada semua orang. Itulah cara agar tidak mudah refleks untuk bully orang lain. 




    Apakah ini artinya segala sesuatunya berakar dari self-love, untuk bisa memperlakukan orang lain seperti cara kita memperlakukan diri sendiri, dengan kata-kata lembut dan perilaku yang tidak negatif?

    Ya. Mungkin akhir-akhir ini, self-love dianggap overrated. Tapi sesungguhnya, konsep itu nyata. Saya sendiri merasakannya, semisal seperti cara kita memandang diri sendiri secara fisik. Saya senang sekali karena sekarang sudah banyak ahli nutrisi seperti Alvina Olivia yang encourage kita sebagai perempuan untuk olahraga dan diet sesuai akar sayang terhadap diri sendiri terlebih dahulu. Karena kalau starting point dimulai dari pikiran bahwa tubuh sendiri sangat buruk atau tidak menyukai tubuh sendiri, atau ingin langsing seperti perempuan tertentu, maka seluruh olahraga dan diet yang dilakukan akan cenderung tidak bertahan lama. Menurut saya pun, pemikiran seperti ini bisa diterapkan pada banyak hal. Salah satunya adalah dengan kita memandang diri sendiri meski tidak sempurna namun tetap menyayanginya, maka akan lebih mudah pula untuk kita menerapkannya pada orang lain.



    Adakah sosok perempuan yang kamu jadikan mentor atau acuan untuk memberdayakan diri sendiri serta orang lain? 

    Saya mengagumi Michelle Obama, saya pun membaca bukunya. Meski saya sadar ia memiliki privilege untuk pendidikan yang baik berkat keluarga yang sangat mendukungnya dalam pendidikan, terlebih karena ia tidak berangkat dari keluarga yang berada. Tapi yang saya senangi, betapa ia sangat mendukung para perempuan muda untuk sekolah lebih tinggi, untuk punya project. Bahkan ia pun memiliki yayasan untuk pendidikan para perempuan. 

    Selain itu, saya juga memiliki seorang dosen kuliah saya dulu, sekaligus seorang psikolog, saya memanggilnya Mbak Vivi. Saya mengingat nasihatnya yang cukup menempel di kepala saya hingga sekarang. Saya pernah curhat padanya tentang permasalahan dalam hidup – mumpung kuliah psikologi, bisa curhat pada dosen! Ia bilang, “Manda, pertama-tama, merasa ‘tidak enakan’ adalah masalah besar.” Saya adalah orang yang lumayan tidak enakan… ia melanjutkan, “Kamu harus belajar untuk lebih speak up dengan apa yang ada di kepala dan di hati, tapi dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang menyakiti orang. Namun kita harus cukup asertif dengan apa yang menjadi pendapat kita. Kedua, mau seberapapun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Mungkin bisa, tapi kamu akan sangat lelah.” Itulah kata-kata darinya yang menguatkan saya saat sedang down atau meragu.

    Dan menurut saya, itu pun bisa diterapkan di mana-mana. Apalagi kalau merasa tidak enakan pada kasus seperti pelecehan seksual sesederhana catcalling, maka kita betul harus speak up. Karena jika tidak, siapa lagi yang akan bersuara? Siapa tahu dengan kita berani bicara, bukan hanya kita saja yang tertolong, tapi banyak perempuan di luar sana ikut tertolong karena kita berani speak up. Begitu pula tentang tidak bisa menyenangkan semua orang. Saya rasa kita harus berangkat dari hal yang kita yakini benar terlebih dahulu, selama itu tidak merugikan orang lain. 


    Siapa tahu dengan kita berani bicara, bukan hanya kita saja yang tertolong, tapi banyak perempuan di luar sana ikut tertolong karena kita berani speak up.


    Bagaimana cara kita menanggapi orang-orang di sekitar yang masih mengecilkan perempuan? Seperti stigma ‘jangan tempuh pendidikan terlalu tinggi karena takut tidak bertemu jodoh’.

    Menurut saya, jika perempuan setelah tamat sekolah lalu memutuskan apapun bidang kerja yang dipilihnya, pendidikan tetaplah penting. Mungkin ada yang bilang, “Untuk apa sekolah tinggi kalau akhirnya hanya di rumah saja?” Hei, di rumah saja itu bukan ‘hanya’. Berat, lho, untuk mengurus anak, dan besar pula tanggung jawabnya. Karena siapa yang akan mendidik anak selama di rumah kecuali ibunya? Apalagi di masa pandemi ketika tidak ada yang berangkat ke sekolah. Jika ibu tidak paham banyak hal, maka akan sulit untuk menjalankan perannya. Jadi menurut saya, pasangan yang baik untukmu nanti akan mengerti tentang pilihan hidupmu. Seperti keinginan untuk sekolah yang tinggi. Saya pun memiliki teman yang bersekolah sangat tinggi, sementara tingkat pendidikan pasangannya tidak setinggi dengannya, tapi pasangannya adalah orang yang sangat suportif. Artinya, pasti ada orang di luar sana yang senang dan mendukung ketika perempuan mengembangkan dirinya. Saran saya, jangan takut. Karena ketika kita menempuh pendidikan yang tinggi, maka kita juga akan menjadi bermanfaat untuk orang banyak.



    Apakah kamu pernah menghadapi tantangan terberat dalam karier, karena masih ada batasan dalam gender di bidang kerja kamu? Jika pernah, bagaimana cara kamu menghadapinya?

    Saya bersyukur tidak pernah merasa ada batasan yang jadi hambatan. Saya bersyukur bertemu dengan orang-orang dalam film yang sangat sadar bahwa mereka mempercayakan saya dalam film bukan karena saya perempuan atau alasan apapun yang terhubung dengan gender, namun karena kemampuan akting saya. Bahkan mungkin bukan dinilai dari fisik juga, tapi lebih karena saya masuk ke dalam deskripsi suatu karakter untuk satu film. Saya juga senang karena sekarang sudah ada lebih banyak filmmaker perempuan, terlebih yang feminis juga, seperti Gina S. Noer yang aware dengan isu pelecehan seksual di lokasi shooting. Ia pun membuat aturan bagi siapapun – perempuan ataupun laki-laki – yang terkena pelecehan, bisa menghubungi produser dengan nomor yang terpampang di seluruh sudut lokasi shooting.

    Meski saya belum pernah – dan jangan sampai – mengalaminya, tapi saya tahu bahwa ada beberapa pekerja film yang masih dianggap tidak kompeten karena dirinya perempuan. Semisal dalam film, ada beberapa bidang kerja yang masih didominasi oleh laki-laki, seperti untuk pegang kamera dan lighting. Tapi sekarang, ada lebih banyak perempuan yang bekerja di bidang itu, meski mereka sempat direndahkan karena pekerjaan tersebut biasanya dikaitkan dengan kekuatan fisik. Itu sempat terjadi, namun sekarang pun sudah ada lebih banyak orang yang sadar bahwa untuk pekerjaan, tak semata-mata hanya dinilai dari gender saja. Bahkan beberapa waktu lalu, saya pernah bekerja sama dengan director of cinematography perempuan, dan mereka tidak kalah keren. Hasilnya pun sama memukaunya apabila posisi tersebut dipegang oleh laki-laki sekalipun. Semoga di masa depan, batasan ini semakin hilang. 


    Apa saja optimisme yang ingin kamu lihat di masa depan, untuk perubahan-perubahan baik di masa depan kita semua, terutama bagi para perempuan di Indonesia? 

    Semoga kita sebagai sesama perempuan bisa saling mendukung dalam hal apapun. Semoga kita tidak mudah meremehkan satu sama lain dalam konteks pekerjaan atau status, ataupun pilihan dalam hidup personal. Harapan saya juga, semoga bukan hanya perempuan saja yang menyadari hal ini, namun juga kelompok gender lainnya supaya bisa menjadi teman yang sama-sama baik dan saling mendukung hak-hak perempuan.


    Apa saja perubahan baik yang bisa kamu amati tentang gerakan perempuan di Indonesia, khususnya dari keterlibatan Gen Z yang kian melek terhadap isu-isu sosial?

    Dengan Gen Z yang merupakan digital native, saya sudah melihat banyak gerakan yang melibatkan mereka, bahkan bukan hanya tentang isu perempuan. Contohnya saja Greta Thunberg yang memperjuangkan isu global warming dari usia sedini itu. Ia bahkan sudah bisa berbicara di depan para pimpinan negara hingga di depan perkumpulan negara-negara. Kemudian, dengan adanya teknologi ini, saya melihat banyak perempuan yang cukup berani untuk angkat suara tentang kejadian yang tak mengenakkan. Dulu penyebaran informasi tidak secepat sekarang, itulah mengapa Gen Z punya fasilitas untuk bicara lebih aktif secara digital. Namun di saat yang sama, kita harus sadar bahwa kita memiliki tanggung jawab besar dalam bersuara. Artinya, kita harus sadar betul tentang apa yang kita bicarakan, siapa yang kita sasar, hingga kita sadar apa yang dapat kita bagikan di media sosial dan apa yang tidak. Agar kita bisa memilih untuk mengunggah konten yang positif, yang bisa menambah wawasan baru untuk orang lain, atau yang bisa membantu sesama perempuan. Jangan sampai konten yang dibagikan malah menyudutkan atau merendahkan orang lain, terutama jika mengingat masa-masa sekarang ini ada banyak hal yang tak terkontrol. 



    Last but not least, saran apa yang akan kamu beri pada perempuan muda di luar sana yang baru saja memulai perjalanan mimpinya, apalagi bagi para Gen Z yang baru memulai masa-masanya memasuki workforce

    Ini seperti menceramahi diri saya sendiri, karena sampai sekarang saya pun masih melatih diri untuk hal ini. Dengan kita yang hidup di dunia dengan berbagai teknologi digital yang ada, di mana comparison sangat mudah terjadi dan terkadang merupakan di luar kontrol kita, saya ingin bilang, your work and profession and status and love life doesn’t define your worth. Kamu adalah diri kamu sendiri saja sudah penting. Kamu ada pun sudah penting. Tidak harus pekerjaan yang membuatmu penting, tidak harus kamu punya pasangan atau tidak, tidak harus kamu berada di status ekonomi tertentu untuk menjadi penting. Sayangi dulu dirimu. Saya pun kerap merasa bahwa saya bisa ada hingga titik ini dan melewati berbagai ups-and-downs yang ada, itu adalah karena tubuh ini yang sudah membawa saya melangkah jauh. Itulah yang saya pelajari sampai sekarang, bahwa bukan hanya hal-hal eksternal yang membuat diri ini berharga. Diri ini ada saja sudah berharga. 


    Your work and profession and status and love life doesn’t define your worth.


    (Givania Diwiya / FT / Images: Dok. Rachel Amanda / Layout: Severinus Dewantara)