Love & Sex

Apa Itu Love Bombing dan Mengapa Hal Ini Berbahaya

  by: Redaksi       8/4/2021
  • Love bombing mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu hal paling mengkhawatirkan yang dapat terjadi ketika kamu sedang menjalin hubungan romantis dengan seseorang. Tidak hanya bersifat manipulatif, tapi sulit untuk dideteksi. (Ya, sangat menakutkan).




    “Love bombing dikenali dengan pemberian perhatian, kekaguman, dan rasa sayang yang terlalu berlebihan dengan tujuan untuk membuat individu yang menerima perlakuan tersebut merasa dependen dan tunduk pada yang memberi,” terang terapis Sasha Jackson. “Dan, bagi yang menerima, love bombing akan terasa sangat menyenangkan karena memicu naiknya dopamin dan endorfin pada diri orang tersebut. Kamu akan merasa spesial, dibutuhkan, dicintai, dan dihargai, yang mana semuanya merupakan komponen pembentuk rasa percaya diri.”


    Awalnya, segala hal akan terlihat sempurna—bahkan mungkin terlalu sempurna. Kamu akan berpikir kalau kamu telah menemukan seseorang yang tidak hanya menyukaimu tetapi juga menghujani dirimu dengan perhatian, cinta, hadiah, dan lain sebagainya. Seolah-olah kamu mendapat validasi yang telah kamu nantikan. Tapi, pada akhirnya, hubunganmu dapat berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak lagi kamu kenali.


    Terdengar menyeramkan, bukan? Maka dari itu, Cosmo akan membantumu mengerti lebih baik tentang love bombing dan perilaku red flags yang dapat kamu ketahui untuk mengidentifikasikannya. Semua yang perlu kamu ketahui ada di bawah ini.


    Apa itu “Love Bombing?”

    Sebagaimana dikatakan sebelumnya, love bombing merupakan sebuah taktik untuk memanipulasi seseorang. “Orang yang melakukan love bombing berusaha untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian secara cepat dari seseorang yang seseorang yang mereka kejar secara romantis dengan menghadirkan citra ideal tentang diri mereka sendiri,” tutur Lori Nixon Bethea, Phd., pemilik International Hearts Counseling Services. Tujuan utamanya? Untuk meningkatkan ego dengan mendapatkan kekuasaan atas mereka yang dikejar.


    Siapapun memiliki kemampuan untuk melakukan love bombing, tetapi hal ini biasanya menjadi “gejala” dari orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik, menurut Ami Kaplan, seorang psikoterapis dari New York.


    Love bombing sebenarnya adalah sebuah perilaku yang tidak kita sadari,” jelas Kaplan. “Ini tentang bagaimana mereka dapat mendapatkan seseorang. Lalu, ketika mereka merasa seperti sudah mendapatkan orang tersebut, merasa seperti hubungannya ada pada rasa aman, orang narsistik biasanya akan berubah dan menjadi seseorang yang manipulatif, kasar, dan sangat sulit untuk diajak bersama.” Ia juga menambahkan bahwa orang yang terlalu mengidolakan pasangannya akan berubah dan mendevaluasi mereka.


    Walau love bombing menjadi perilaku yang umum di antara para narsistik, sebagaimana Kaplan sebutkan, love bombing pertama kali dilakukan oleh para pemimpin sekte, bukan psikolog. Anggota Unification Church of the United States (sebuah sekte yang terkenal dengan panggilan Moonies) melakukan love bombing pada calon anggota barunya untuk mendorong mereka masuk sekte. Pemimpin sekte narsistik lain seperti Jim Jones dan David Koresh melakukan metode yang serupa dengan memberi penguatan positif secara berlebihan dalam rangka membangun rasa kesatuan dan kesetiaan yang kuat.


    Apa cirinya jika kamu sedang merasakan love bombing?

    Berkencan dengan seseorang yang melakukan love bombing tidak dapat disamakan dalam setiap situasi, tetapi ada beberapa pertanda yang dapat kamu perhatikan adalah jika ia memberi hadiah yang terlalu mewah, pujian yang terlalu manis, terlalu sering mengirim pesan teks, dan mengekspektasikan jawaban yang cepat darimu.


    Jika kamu mencari sesuatu yang lebih spesifik, berikut adalah beberapa kalimat yang akan sering kamu dengar dari orang yang melakukan love bombing:

    1. “Saya ingin memanjakanmu.” (Alias jika pasanganmu sering membelikan hadiah.)
    2. “Saya hanya ingin bersama denganmu selamanya.” Jika kamu merasa bersalah ketika ingin memberi sedikit ruang di antara kalian berdua, itu bukanlah pertanda baik.
    3. “Saya suka menanyakan kabarmu karena saya khawatir.” Jika dia memeriksa keadaanmu sesekali, itu hal yang normal. Tapi, jika perlakuan ini dilakukan secara terus menerus dengan pertanyaan tentang keberadaanmu, status pada sosial mediamu dan bahkan password-nya? Itu yang dinamakan love bombing.
    4. “Kita sudah ditakdirkan untuk bersama.” Berhati-hatilah jika hubunganmu terasa begitu intens dengan cepat, atau jika mereka mengatakan kalau kalian berdua sudah ditakdirkan bersama terlalu dini.
    5. “Kita berdua untuk selamanya, kan?”




    Dan beginilah perilaku mereka:

    1. Mereka akan menuntut untuk memberi seluruh perhatianmu pada mereka dan bisa saja sampai mengisolasi dirimu dari teman dan keluarga (contohnya, mereka akan marah dan membuatmu merasa bersalah jika kamu membuat rencana dengan orang lain).
    2. Mereka akan menyiramimu dengan perhatian dan pujian yang berlebihan.
    3. Mereka akan membujukmu untuk membuat sebuah komitmen yang terlalu serius terlalu dini.


    Mengapa love bombing itu berbahaya.

    Love bombing dapat menjadis esuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan jiwamu, bagaimanapun, perilaku ini dapat dikategorikan sebagai bentuk emotional abuse. Menurut Jackson, hal ini berkaitan dengan hukum timbal balik: “Jika seseorang memberimu sesuatu, kamu harus memberi sesuatu yang bernilai sama atau lebih besar sebagai balasannya. Jadi, jika pasanganmu memberi cinta dan perhatian yang berlebih, kamu akan merasa seperti memiliki suatu keharusan untuk bertingkah, berdedikasi, dan setia, mengesampingkan perilaku mereka yang buruk.


    Bethea juga menerangkan kalau hal ini dapat membentuk sebuah siklus berbahaya. “Begitu orang yang dikejar merasa bergantung pada mereka (yang melakukan love bombing), orang tersebut akan memberi seluruh kontrol akan dirinya, baik itu secara hati, fisik, maupun pikiran, sehingga orang yang melakukan love bombing pun egonya meningkat. Di tahap ini, orang yang menjadi target sudah tidak memiliki kuasa apapun akan hubungannya.”


    “Ketika yang melakukan love bombing mulai mengurangi perhatiannya, mereka cenderung akan melakukan emotional abuse pada pasangannya. Mereka bisa mengeluarkan kata benci, merendahkan, gaslighting, dan membuat pasangannya merasa tidak berharga. Orang yang melakukan love bombing sadar akan kekuatan yang mereka miliki atas pasangannya dan bisa secara tiba-tiba pergi dari hubungan tersebut dengan pikiran kalau mereka juga dapat kembali kapan saja dan mengulang kembali siklus tersebut.”


    Apa yang harus dilakukan jika kamu sedang merasakan love bombing

    Ya, love bombing merupakan suatu bentuk manipulasi psikologis dan, ya, normal jika kamu merasa memiliki keterikatan yang kuat dengan orang yang melakukannya atau bahkan membela aksinya. Ketika seorang narsistik sudah memutuskan untuk “mengambil alih” seseorang, mereka akan mencari kekurangan orang tersebut dan mengeksploitasinya. Sebagai contohnya, kamu merasa bahwa orang ini benar-benar mengerti kamu atau melihat dirimu apa adanya. Bisa saja kamu merasa seolah-olah hubunganmu, tidak peduli seberapa terkekangnya dirimu, telah memberi validasi yang kamu inginkan.


    Kalau kamu sudah merasa bahwa pasanganmu melakukan love bombing (atau perilaku manipulatif dalam bentuk apapun), sebisa mungkin kamu harus keluar dari hubungan itu dan mencari support system-mu sendiri.


    Jika kamu masih berada di hubungan yang baru dan kamu merasa kalau perilaku ini hanyalah sebatas rasa cinta yang besar dan bukan love bombing, kamu harus tetap mengungkapkan perasaanmu kepadanya. Sesederhana mengatakan, “Hey, saya merasa hubungan kita bergerak terlalu cepat dan aku butuh sedikit ruang,” sudah menjadi permulaan yang baik.


    Sebisa mungkin secara perlahan hentikan komunikasimu dengan seseorang yang bersifat mengontrol dan manipulatif (baik itu kekasihmu atau orang lain di hidupmu). Kamu tidak memiliki kewajiban (dan kemampuan) untuk mengubah perilaku dari orang yang sering melakukan love bombing ini (berikan tugas ini oleh seseorang yang lebih profesional dan tidak memiliki keterlibatan emosional dengannya). Langkah paling tepat sederhana: Putuskan hubungan, tinggalkan mereka, dan temukan support system yang dapat mendukungmu.


    Kaplan menyarankan untuk mencari seseorang diluar hubunganmu untuk ikut menilai secara objektif apakah pasanganmu sedang melakukan love bombing atau tidak. Carilah temah dekat atau anggota keluarga yang dapat menjaga kepercayaan dirimu, atau kamu juga bisa mencari support group dan psikolog yang biasa menangani hal ini.


    “Kamu akan membutuhkan dukungan dari orang lain yang mungkin pernah berhubungan dengan orang narsistik,” jelas Kaplan. “Dan untuk orang-orang yang dapat memberi dukungan tersebut, pertanyaannya adalah bagaimana untuk mulai memberi batasan agar kamu tidak mengalami emotional abuse. Ambil langkah kecil dan perlahan, sesuaikan dengan keadaanmu saat ini.”


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan US / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Nabila Nida Rafida / Image: Unsplash)