Love & Sex

Menurut Ahli, Ini Cara Terbaik untuk Move On dari Mantan

  by: Alvin Yoga       8/4/2021
  • Bahkan jika kamu merupakan pihak yang memutuskan hubungan, perasaan kehilangan ketika kamu baru saja putus dengan seseorang yang pernah kamu cintai tetap saja tidak menyenangkan. Percakapan yang kalian lakukan saat putus biasanya akan terus terngiang dalam ingatan, dan tentu saja setiap kali kamu teringat, hal tersebut dapat membuatmu lelah secara emosional. Belum lagi, setelah putus kamu pun harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru (kini, apa yang harus kamu lakukan ketika akhir pekan, atau ketika kamu sedang bosan? Siapa yang harus kamu hubungi ketika kamu sedang butuh teman mengobrol?), dan yang paling menakutkan adalah kamu harus bersiap membuka diri untuk orang baru ke depannya. 

    Untuk kamu yang pernah patah hati, mungkin kamu sudah belajar bagaimana cara menata hidup setelah putus dengan mantan. Memang, ada banyak cara yang bisa dilakukan seseorang untuk move on. Terkadang, kita mengambil langkah yang keliru, seperti membangun hubungan dengan orang baru tanpa rasa cinta dan melakukan hal-hal yang semestinya tidak kita lakukan (seperti menghambur-hamburkan uang dengan terus menerus berbelanja di berbagai marketplace, ya, ya, Cosmo paham). Beberapa memilih untuk fokus pada diri sendiri dan terus memperbaiki diri.

    Kini, para ahli berusaha untuk memberikan jawaban yang legit terhadap pertanyaan, "Bagaimana cara terbaik untuk move on setelah kita baru saja putus dengan mantan?"



    Penelitian terbaru dari Journal of Neuroscience baru-baru ini menemukan bahwa: "Berpikir kalau kamu sudah berhasil move on bisa menjadi kunci terbaik untuk benar-benar move on". Para peneliti dari University of Colorado Boulder mempelajari sekitar 40 partisipan yang baru saja putus hubungan, dan para partisipan diminta membawa foto sang mantan dan seorang teman dengan gender yang sama.

    Mereka kemudian diminta untuk bercerita mengenai putusnya hubungan antara diri mereka dengan sang mantan pada temannya, dan para ahli akan mengawasi aktivitas otak mereka. Lalu di tengah percakapan, ketika sedang beristirahat, para ahli meminta setengah dari mereka untuk menghirup nasal spray, dan diberi tahu bahwa kandungan dalam spray tersebut dapat membantu memblokir rasa sakit mereka secara emosional (sedangkan setengah lainnya hanya diminta untuk menghirup saline spray biasa untuk membantu mereka bernafas).


    Yang tidak diketahui para partisipan adalah: seluruh spray tersebut ternyata memiliki kandungan nasal spray biasa. Here's the shock twist: Mereka yang diberi tahu bahwa spray tersebut dapat membantu menghilangkan rasa cemas, otak mereka langsung bereaksi serta melakukan aktivitas yang berbeda ketika mereka melanjutkan percakapan mengenai hubungan mereka yang kandas, dan para partisipan tersebut mengaku bahwa mereka lebih mudah menghadapi rasa kehilangan.



    Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari penelitian tersebut? Para ahli berkata, "Hanya dengan berpikir bahwa kamu sedang melakukan sesuatu yang bisa mengurangi rasa kehilangan, ternyata benar-benar membantumu memblokir rasa sakit tersebut." Yes, it's all in the mind, baby. Jadi, lakukan saja hal-hal yang dapat membuatmu berpikir bahwa kamu bisa merasa lebih baik. Habiskan waktu dengan sahabatmu dan nikmatilah hidupmu sebaik mungkin, dan mungkin kamu bisa benar-benar merasa lebih baik setelahnya.


    (Artikel ini disadur dari COSMOPOLITAN UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Fuu J on Unsplash)