Better You

Apakah Sebenarnya Kamu Pernah Terjangkit COVID-19? Cek di Sini!

  by: Alvin Yoga       15/4/2021
  • Meski kita semua sudah bosan dengan keadaan pandemi yang tak kunjung selesai di Indonesia, COVID-19 masih terus berlangsung. Dan walaupun kita sudah bosan membaca dan mengikuti berita mengenai COVID-19, bukan berarti virus itu tidak ada.

    Faktanya, jumlah kasus harian masih bertambah sekitar kurang lebih 5000 kasus per harinya, dengan total kasus positif per 13 April 2021 adalah 1.577.526 kasus dan total korban jiwa sebanyak 42.782—tertinggi di ASEAN.

    Untuk mereka yang pernah mengalami COVID-19, mereka paham betul seperti apa gejalanya, apa saja yang mereka rasakan selama sakit, dan berapa lama penyakit tersebut bertahan. Namun bagi yang tidak mengalaminya, kamu mungkin tidak yakin apakah informasi yang ada sudah cukup menjelaskan gejala COVID-19, apalagi virus tersebut terus menerus bermutasi. Bukan tidak mungkin ada beberapa orang yang pernah terkena COVID-19 tanpa mereka sadari, dan kalau kamu bertanya-tanya apakah kamu pernah mengalaminya, berikut adalah hal-hal yang perlu kamu ketahui.




    Apakah kamu pernah mengalami COVID-19 tanpa kamu ketahui?

    Bukan tidak mungkin seseorang mengalami COVID-19 tanpa gejala. Dr Dominic Pimenta, seorang kardiolog asal London, memberitahu Cosmopolitan UK: "Kita semua paham bahwa gejala paling umum dari COVID-19 adalah demam tinggi serta batuk kering, namun 80% pasien justru memiliki gejala ringan atau tidak memiliki gejala sama sekali. Ketika gejalanya memburuk, demam dan batuk kemudian baru muncul pada sekitar 50% pasien."


    Di samping dari gejala-gejala utama yang kita semua telah ketahui, berikut ini beberapa tanda lainnya yang mungkin tidak kamu sadari merupakan indikator dari virus corona. Seperti:

    Kamu mengalami sakit kepala yang tak kunjung berhenti

    Menurut Dr Pimenta, 70% penderita COVID-19 mengalami sakit kepala—meski ini bukan gejala paling umum dari COVID-19. Kalau kamu memang sering mengalami sakit kepala bahkan sebelum COVID-19 ada, mungkin rasa sakit kepala tersebut tidak ada hubungannya dengan COVID-19—namun tidak menutup kemungkinan bahwa sakit kepala merupakan salah satu gejala awal dari COVID-19. Salah satu cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes SWAB-PCR.

    Kamu mengalami kelelahan

    Kalau kamu merasa kelelahan selama seminggu penuh, ini bisa menjadi salah satu gejala dari COVID-19. Sekitar 63% pasien yang didiagnosa COVID-19 melaporkan kelelahan sebagai salah satu gejala awal mereka.

    Kamu mengalami sakit tenggorokan

    Sakit tenggorokan bisa menjadi awal gejala dari demam atau bahkan flu—dan bisa menjadi tanda bahwa kamu mengalami COVID-19. Faktanya, 52,9% penderita mengalami sakit tenggorokan, jadi sebaiknya jangan meremehkan gejala tersebut.

    Kamu mual dan muntah, atau mengalami diare

    Ini merupakan gejala yang paling tidak umum, namun sakit perut, mual dan diare juga merupakan gejala awal dari COVID-19—walaupun memang sangat langka—hanya empat persen penderita COVID-19 yang mengalami gejala ini.

    Gejala umum lainnya adalah:

    Kehilangan kemampuan penciuman, tidak bisa mengecap rasa, batuk, dan sesak napas.


    Apakah mungkin mengalami COVID-19 lebih dari satu kali?

    Jawabannya: Ya. Saya bahkan mengenal dua orang yang terkena COVID-19 lebih dari satu kali dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

    Jadi kalau kamu pernah mengalami COVID-19, dan kamu bertanya-tanya apakah kamu masih berisiko terkena virus tersebut, jawabannya adalah ya. Studi menemukan bahwa beberapa pasien kembali terkena COVID-19 dalam rentang waktu kurang dari satu tahun, dan penelitian yang dilakukan oleh King's College London menemukan bahwa level antibodi yang bisa membunuh virus corona memudar dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

    Dr Pimenta menjelaskan,"Problemnya, para ahli masih tidak yakin apakah kamu akan imun dari COVID-19 untuk jangka waktu yang lama setelah kamu terinfeksi. Data yang dikumpulkan masih belum cukup untuk membuat kesimpulan yang valid, sedangkan virus corona terus bermutasi, dan beberapa tipe virus yang hanya menyebabkan gejala ringan seperti demam tidak menciptakan sistem imun yang berlangsung lama (bahkan kurang dari 12 bulan), yang berarti kamu bisa saja mengalami penyakit ini satu kali dalam setahun—atau bahkan lebih—jika tidak berhati-hati."



    "Kami mendapati beberapa laporan bahwa beberapa pasien kembali terinfeksi virus COVID-19 setelah mereka sembuh, jadi tidak menutup kemungkinan seseorang akan terkena virus tersebut setelah sembuh, walau memang angka kemungkinannya masih kecil dan masing-masing individu yang terinfeksi memiliki reaksi awal yang berbeda-beda. Singkatnya, kamu masih bisa terkena COVID-19 bahkan jika sudah sembuh, jadi berhati-hatilah."

    Pada dasarnya, kamu harus selalu berhati-hati dan mengikuti seluruh regulasi kesehatan yang ada. Selalu jalani protokol kesehatan kapan pun dan di mana pun kamu berada, bahkan jika kamu sudah sembuh dari COVID-19.


    Bagaimana cara mengecek apakah kita pernah mengalami COVID-19?

    Ada satu cara yang memperbesar kemungkinan untuk mengetahui apakah kamu pernah menderita COVID-19 atau tidak: dengan melakukan tes antibodi.

    "Ketika kamu terinfeksi dengan sebuah virus, tubuhmu akan melakukan perlawanan dengan dua sistem yang berbeda," jelas Dr Pimenta. "Yang pertama adalah dengan sistem imun 'bawaan', yang bekerja seperti sebuah senapan-cepat, siap untuk menyerang secara langsung kapan pun sebuah patogen masuk ke dalam tubuh, namun dengan cara yang sangat tidak teratur sehingga mungkin melewatkan beberapa virus yang tersisa. Di sisi lain, tubuh juga ikut melawan dengan sistem imun 'perolehan', yang didapat dari hasil perlawanan terhadap virus yang sudah pernah masuk ke dalam tubuh. Sistem imun ini bekerja lebih lambat namun jauh lebih akurat, layaknya seorang sniper, yang dibentuk khusus untuk melawan virus yang mereka kenal melalui sistem antibodi."

    "Normalnya, begitu tubuh mengenali virus tersebut, antibodi atau sistem imun 'perolehan' tersebut akan langsung terbentuk dan bertahan dalam jangka waktu yang lama, meski dibutuhkan jangka waktu berbulan-bulan bagi tubuh untuk bisa mendapatkan jumlah yang sangat banyak setelah infeksi."

    "Tes antibodi biasanya mencari reaksi terhadap sistem imun 'perolehan' tersebut. Dengan mengandalkan sedikit bagian dari virus, para ahli kemudian akan melihat apakah ada antibodi yang melawan virus. Inilah yang akan menunjukkan apakah kamu pernah mengalami COVID-19 atau tidak,"

    "Sayangnya, antibodi ini dapat menghilang setelah beberapa bulan, jadi masih belum bisa dipastikan apakah tes antibodi merupakan salah satu cara terbaik untuk mengecek apakah seseorang pernah mengalami COVID-19."


    Bagaimana membedakan COVID-19 dengan alergi?

    Pertama, lihat kembali musim yang ada. Virus flu biasa mudah terbunuh di musim panas, sedangkan para ahli masih belum bisa memastikan bahwa virus COVID-19 akan menghilang ketika suhu sekitar meningkat. Buktinya, infeksi virus corona di negara-negara dengan iklim ekuator seperti ASEAN justru masih meningkat di musim panas. 

    Jika kamu mengalami batuk dan flu di musim hujan, mungkin saja itu merupakan alergi atau gejala flu biasa, namun tetap tidak menutup kemungkinan kamu terinfeksi virus COVID-19. Pasalnya, ada beberapa gejala yang mirip antara alergi dan COVID-19, seperti batuk, flu, dan mata merah.

    Perbedaan terbesar antara alergi dan COVID-19 adalah gejala COVID-19 biasa diikuti dengan batuk kering, demam, kelelahan dan kehilangan kemampuan untuk mencium bau. Dan tidak seperti flu yang biasa gejalanya cepat hilang, gejala COVID-19 biasanya dimulai dengan rasa lelah yang bertahan lama. Menurut informasi dari New York Times, bersin merupakan salah satu gejala paling tidak umum dari COVID-19, meski tidak menutup kemungkinan bahwa kamu tetap terkena COVID-19 jika diikuti dengan gejala-gejala lain.

    Jika kamu mengalami demam, nyeri di beberapa bagian tubuh, rasa lelah yang tidak kunjung hilang, mual, muntah, serta diare, besar kemungkinan ini bukan alergi melainkan gejala COVID-19.

    Jika kamu tidak yakin dengan apa yang kamu alami, lakukan tes PCR secepatnya untuk mencari tahu hasil yang paling akurat.


    Informasi dalam artikel ini cukup akurat ketika artikel ini dipublikasikan. Cosmopolitan akan terus berusaha agar konten yang dipublikasikan terus up-to-date, namun situasi pandemi COVID-19 terus berkembang secara cepat, jadi tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa informasi dan rekomendasi akan berubah dalam kurun waktu beberapa hari atau beberapa minggu. Untuk informasi lebih lanjut dan saran kesehatan terbaik, kunjungi laman World Health Organization atau kunjungi laman berikut untuk situasi di ASEAN.

    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok.  Volodymyr Hryshchenko on Unsplash)