Better You

Ini Sebabnya Kamu Merasa Stres dan Kelelahan Selama Setahun Terakhir

  by: Alvin Yoga       16/4/2021
  • Saya sedang rebahan di sofa favorit untuk meluruskan punggung yang mulai pegal ketika sebuah pesan masuk ke ponsel yang saya genggam. Pesan tersebut ternyata datang dari seorang teman yang saya kenal baik: "Heiii, gue mau pindah dari Jakarta."

    Saya cukup kaget mendengar bahwa ia, seorang "pemuja mal" yang suka sekali belanja dan menikmati jajanan ibu kota yang beragam, akan segera meninggalkan kota ini. Saya buru-buru bangun untuk meneleponnya, tapi punggung saya seakan berkata, "LOL, tidak mau," dan saya berpikir (bukan untuk yang pertama kalinya tahun ini), WTF, sejak kapan saya se-tua dan selemah ini?

    Sedikit informasi (yang sudah sangat obvious): Banyak dari kita yang sekarang sedang menghadapi anxiety, rasa gelisah, serta stres akibat pandemi yang tak kunjung usai. Bahkan bisa dikatakan kita sedang mengalami burnout. Beberapa aktivitas yang tadinya menjadi distraksi dan bisa melepas stres (seperti menonton bioskop, berolahraga di gym, kencan di restoran cantik) sedang MIA. Dan walaupun rasanya Tak-Ada-yang-Terjadi di dalam rumah, ada banyak sekali kekacauan yang terjadi di dalam tubuh kita.




    "Karena kita sedang menghadapi 'lawan yang tak terlihat', tubuh kita terus menerus berjaga tanpa beristirahat."



    Belum lagi ada banyak hal yang terjadi selama setahun terakhir ini, yang membuat kita harus mengambil beberapa keputusan besar sepanjang tahun 2020 kemarin—hal-hal yang mungkin tak ingin kita hadapi sekarang, termasuk hal-hal yang tiba-tiba terjadi dan berkebalikan dengan apa yang kita bayangkan. Contohnya: teman yang mengirimkan pesan pada saya barusan, sebut saja Fira, yang kini telah pindah ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Tadinya, tak pernah terpikir baginya untuk segera meninggalkan kota ini, apalagi meninggalkan pekerjaan yang ia cintai dan kembali ke kota di mana ia dilahirkan.

    Jadi. Yeah. Tubuh yang sakit-sakitan dan mudah lelah, perasaan gelisah dan ingin marah yang terus menerus muncul, keputusan-keputusan kecil dan besar yang harus saya buat setiap harinya, ditambah dengan uang di rekening yang tak kunjung membaik (hai, apa kabar gaji yang masih dipotong?)...cukup membuat seorang manusia biasa seperti saya berubah dari seorang milenial (tadinya saya mau menulis dewasa muda, hey, jangan mencibir) menjadi seorang dewasa-yang-betul-betul-dewasa dalam hitungan semalam. 

    Berikut ini adalah beberapa hal yang terjadi pada tubuh dan pikiran kita sejak Maret tahun kemarin, mengapa tak semua hal seburuk yang kita pikir, dan apa yang bisa kita lakukan sekarang di usia yang tak lagi muda.


    Mengapa kita merasa "tua" dan ringkih

    Jika kamu masih ingat pelajaran ketika SMA dulu, kamu mungkin tahu bahwa ada sederet proses biologi dibalik hal ini: Jatuh dalam stres menyebabkan tubuh kita melepas banyak sekali kortisol, yaitu hormon yang membuat adrenalin kita meningkat dan rasanya ingin melempar laptop ke ujung ruangan. Namun karena kita sedang menghadapi 'lawan yang tak terlihat' (hi, COVID-19) untuk waktu yang sangat lama, tubuh kita terus menerus berjaga tanpa beristirahat, melepaskan banyak sekali hormon kortisol yang kemudian menumpuk di dalam tubuh.

    Masalahnya, "Terlalu banyak kortisol selama periode waktu tertentu ternyata dapat melemahkan sistem imun (oh, waktu yang benar-benar tepat, terima kasih...), meningkatkan inflamasi (what's up, pinggang yang mudah lelah), dan meningkatkan risiko terkena depresi," ujar Crystal T. Clark, MD, seorang asisten profesor untuk psychiatry and behavioral health di Northwestern University.

    Dan ada beberapa dampak serius dari jumlah kortisol yang terlalu banyak dalam sistem saraf tubuh. "Ketika kamu mengalami stres, hal tersebut dapat memicu sakit kepala, otot yang menegang, kelelahan, masalah pencernaan, serta perasaan 'ingin menyerah' dan mudah marah," ujar Nicole Symcox, seorang psychotherapist asal San Fransisco dan juga pembawa acara podcast Mental Health Remix. Dengan kata lain, tubuh *dan* pikiranmu menanggung terlalu banyak beban.

    Situasi yang disebabkan oleh kortisol ini juga bisa bermanifestasi ke dalam perubahan-perubahan yang lebih kecil namun aneh. Seperti, katakan saja, muncul uban di bagian depan kepalamu, atau kebotakan di bagian belakang kepalamu. Jerawat yang kemerahan di wajah. Kesalahan-kesalahan kecil yang tak biasa kamu lakukan di tempat kerja, atau bahkan sulit mengingat nama seseorang.

    Oh, dan yang paling hebat: Stres kronis yang berat dapat merusak DNA kita, membuat kita lebih rentan terhadap penyakit-penyakit yang menyangkut umur seperti osteoporosis (P.S. Maaf jika membaca hal ini membuatmu jadi lebih stres dibanding sebelumnya...)


    Dan tiba-tiba dipaksa menjadi lebih dewasa

    Ambil napas yang panjang, karena sekarang waktunya mengungkap hal lain yang juga terjadi pada kita semua belakangan ini: paksaan untuk me-Marie-Kondo hidup kita. Yang mengejutkan, "Kita semua bisa berterima kasih pada mekanisme insting kita untuk bertahan hidup dalam hal ini," ujar Nicole. "Sekarang kita tidak memiliki lagi cadangan energi untuk berbasa-basi dengan hal-hal yang tadinya bisa kita toleransi." Artinya: Tak ada lagi waktu untuk le bullshit.



    Jadi mungkin, inilah sebabnya banyak teman kita yang tiba-tiba memutuskan untuk lebih serius dalam hubungan asmaranya dan menikah (skenario ini bahkan memiliki sebutan tersendiri, "turbo relationship", JSYK). Atau mungkin kamu telah menyadari bahwa bahkan bekerja dari rumah tidak membuat pekerjaanmu jadi lebih menyenangkan, jadi kamu berpikir untuk mencoba karier di bidang lain. Apapun yang kamu pikirkan saat ini, otakmu fokus membuat keputusan yang dapat meringankan beban stres dalam tubuh dan mentalmu. IRL, hal ini membuatmu (1) menemukan apa yang paling penting untukmu dan (2) melindungi dirimu dengan menghalalkan segala cara. Inilah mengapa, melihat teman saya pindah dari ibu kota ke sebuah kota kecil terlihat sangat masuk akal.


    Rasanya aneh jika kamu *tidak* merasa seperti ditenggelamkan ke dalam sebuah kolam renang yang memaksamu menjadi dewasa di umur 25 tahun, hanya untuk keluar dari dari kolam tersebut dalam keadaan basah, kelelahan, dan merasa seperti berumur 40 tahun.


    Inilah mengapa banyak dari keputusan "dewasa" kita yang mendadak, kini lebih terlihat seperti reaksi hidup versus pilihan yang telah kita pikirkan matang-matang. Lihatlah teman-teman kita yang kini menyisihkan gaji mereka untuk dana darurat atau bermain saham. Atau mereka yang tadinya ingin belajar memasak kini malah lebih aktif di dapur dibanding di meja kerja. Atau mereka yang tadinya suka berbelanja kini memilih untuk memiliki asuransi dan memulai reksa dana. Atau mereka yang tak memiliki banyak pilihan, namun kemudian memutuskan untuk resign dan memilih untuk mencintai dirinya sendiri dibanding memaksakan diri.

    Apapun ~perjalananmu~, jujur saja, rasanya aneh jika kamu *tidak* merasa seperti ditenggelamkan ke dalam sebuah kolam renang yang memaksamu menjadi dewasa di umur 25 tahun, hanya untuk keluar dari dari kolam tersebut dalam keadaan basah, kelelahan, dan merasa seperti berumur 40 tahun.


    Dan mengapa hal ini (sebagian besar) baik untuk kita

    Menjadi lebih dewasa tidak sepenuhnya buruk. Begitu juga dengan dorongan untuk menghadapi berbagai tantangan (LOL) untuk mengubah hidupmu, semoga saja ke arah yang lebih positif.

    Plus, "Memikirkan lebih dalam mengenai apa yang membuat dan tidak membuatmu bahagia berarti kamu akhirnya memilih untuk benar-benar fokus pada kesehatan mental dan tubuhmu," ujar Nicole. Karena pada akhirnya, "Mengambil alih hidup, menentukan tujuan dan impian, serta menjalin hubungan yang lebih erat dengan sesama merupakan kesempatan yang baik bagi tubuhmu dan meningkatkan kesehatan mentalmu," tambah Dr. Clark. Bahkan jika keputusan yang kamu buat hanyalah sebuah keputusan kecil seperti memutuskan untuk berhenti bekerja di jam 8 malam dan menggunakan sisa waktumu untuk mencari piring cantik baru di marketplace, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk hidupmu. (Hey, kamu bisa menggunakan piring-piring tersebut ketika kamu mengundang teman-temanmu untuk makan di rumah setelah co-ro-na ini selesai)


    Pada dasarnya, semua yang biasa kamu lakukan untuk mengurangi stres dapat ikut bekerja untuk menstabilkan tubuhmu.


    Tapi, tentu saja, masih ada masalah dengan rambut yang beruban, DNA-mu yang berubah, tulang dan otot punggungmu yang mudah sakit, dan fakta bahwa kortisol tubuhmu tidak akan turun dalam beberapa waktu ke depan. Kabar baiknya (ya, masih ada, kok) adalah bahwa cara terbaik untuk menurunkan hormon stres tersebut sebetulnya tidak sesulit itu, kamu hanya perlu melakukan hal-hal yang kamu telah ketahui: tidur di saat kamu butuh tidur, pergilah berjemur di bawah matahari (dengan protokol kesehatan, tentunya), ikut terapi (atau minta kantormu membuka sesi konseling, serius, mintalah), berhenti membaca berita yang tidak penting, ambil napas panjang kemudian hembuskan perlahan, hubungi sahabat-sahabatmu ketika kamu butuh dukungan mereka, telepon ibumu atau ayahmu atau adikmu atau kakakmu, bermainlah dengan peliharaanmu, kembalilah membaca buku, jangan lupa makan sayur, dan lainnya...dan lainnya...dan lainnya. Pada dasarnya, semua yang biasa kamu lakukan untuk mengurangi stres dapat ikut bekerja untuk menstabilkan tubuhmu. Jadi, tolong, kirimkan bath bomb ke rumah saya, dan jika kamu butuh bantuan, saya ada di kamar mandi, berendam sambil mengemil selai coklat sampai 2021 selesai.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US)