Lifestyle

Para Perempuan di Balik Dunia Konservasi Jakarta Aquarium & Safari

  by: Alvin Yoga       21/4/2021
  • Ada lebih dari 3500 spesies satwa akuatik maupun non-akuatik—mulai dari yang hampir punah sampai yang belum pernah kamu lihat sebelumnya—di Jakarta Aquarium & Safari (JAQS), Neo Soho Mall, Jakarta Barat. Tentunya, ada orang-orang di balik kesejahteraan para satwa di lembaga konservasi tersebut, tak terkecuali para pekerja perempuan yang dengan lembut merawat para satwa tersebut dengan penuh kasih. Siapa sajakah mereka? Berikut adalah beberapa sosok perempuan yang dengan ulet mengabdikan dirinya demi menjaga kelestarian alam lewat merawat para satwa akuatik di Jakarta Aquarium & Safari. Simak!


    Lindiana, Merawat Satwa dengan Cinta 

    Kamu mungkin jarang mendengar titel pekerjaan ini sebelumnya: aquarist. Untuk kamu yang belum tahu, akuaris adalah seorang pemelihara akuarium, yang juga merawat satwa-satwa akuatik yang berada di akuarium tersebut. Dibalik seluruh satwa-satwa akuatik yang sehat di JAQS, terdapat jerih payah para aquarist yang merawatnya. Salah satunya adalah Lindiana, akrab dipanggil Lin, yang mengawali kariernya di JAQS sebagai JAQS Buddy (pemandu) selama dua tahun.



    Lindiana memiliki kecintaan yang besar terhadap binatang, dan kemudian memilih untuk terjun sebagai aquarist. Demi pekerjaan tersebut, ia kemudian mengambil sertifikasi selam dan belajar lebih dalam mengenai perawatan satwa. “Awalnya, saat menjadi GSA di JAQS, saya banyak mempelajari tentang satwa dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada pengunjung. Namun karena sering bertemu dengan para satwa setiap harinya, lama kelamaan rasa ketertarikan dan rasa ingin tahu lebih dalam mengenai para satwa pun semakin dalam. Karena hal tersebut, saya pun memutuskan untuk menjadi seorang aquarist. Berbagai usaha saya lakukan, mulai dari mengambil sertifikasi selam, belajar mengenal sifat satwa, hingga belajar bagaimana cara merawat para satwa. Saya pun mempunyai harapan yang besar untuk melindungi hewan-hewan yang terancam punah,” ujarnya. 



    "Ada sifat keibuan yang dihadirkan perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki"


    Tugas dan tanggung jawab Lin sebagai aquarist di antaranya menyiapkan pakan satwa, memberi makan secara teratur, membersihkan exhibit satwa, hingga melakukan observasi jika ada satwa yang sedang sakit.

    Lin juga merawat bayi-bayi satwa yang baru lahir hingga bisa mandiri. Sebagai contoh, saat ini ada bayi-bayi berang-berang yang sedang dirawatnya. "Merawat satwa semenjak mereka masih bayi memiliki tantangannya sendiri. Sang satwa harus lebih diperhatikan, dan harus diperlakukan dengan lebih hati-hati karena masih sangat rentan, belum lagi bayi satwa biasanya sangat manja dan ingin terus menerus disayang atau dielus. Momen bahagia saya adalah bisa melihat perkembangan bayi satwa dari waktu ke waktu, yang tadinya belum bisa buka mata sampai kini bisa berjalan mengikuti saya ke mana pun saya pergi," tutur Lin.

    Profesi yang dilakukan Lin tentu saja merupakan profesi yang sangat unik, termasuk bagi kaum perempuan. Tidak banyak sosok perempuan hebat seperti Lin yang berdedikasi tinggi dan memiliki keberanian yang besar untuk merawat para satwa. Profesi ini menuntut kemampuan fisik yang besar yang seringkali menjadi tantangan bagi para perempuan.

    Namun, segala rintangan dalam profesinya sebagai seorang aquarist tidak melunturkan semangat Lin dalam berkarya. Menurut Lin, peran perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam profesinya. "Menurut saya peran perempuan dalam aksi pelestarian satwa atau konservasi itu penting sekali, ada sifat keibuan yang dihadirkan perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki," tuturnya.


    drh. Novi Tandria, Ikut Berbagi Perasaan dengan Para Satwa

    Seluruh satwa di JAQS bisa beraktivitas dan menyapa para pengunjung berkat kondisi mereka yang sehat dan optimal. Adalah sosok drh. Novi Tandria, seorang dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, yang berada di balik layar. Ia merupakan sosok dokter yang sangat sabar, terampil merawat, dan mengobati seluruh satwa di JAQS. Bergabung pertama kali pada Mei 2018, drh. Novi ikut berbagi perasaan dengan para satwa yang ia rawat.


    "Perempuan Indonesia, dengan kelembutan sekaligus kekuatan yang kita miliki, mari berikan kasih sayang dan kemampuan maksimal dalam memelihara dan mengembangbiakkan satwa-satwa Indonesia"


    Tanggung jawab dan peran drh. Novi sangat besar terhadap seluruh satwa di JAQS, baik akuatik maupun terestrial. Karena JAQS merupakan lembaga konservasi bagian dari grup Taman Safari Indonesia (TSI), Novi berkoordinasi dengan para dokter hewan di TSI untuk mengatur manajemen kesehatan hewan, termasuk pengobatan hewan yang sakit, preventif dengan pemberian obat cacing, water treatment dan menjaga kualitas air, serta berkoordinasi dengan tim water quality

    drh. Novi merupakan sosok perempuan hebat yang berdedikasi tinggi dan memiliki keberanian besar untuk menjaga para satwa. Meski bidang akuatik dan wildlife masih menjadi ranah yg belum banyak dipahami dan memiliki banyak tantangan tersendiri, drh. Novi tak pernah lelah untuk selalu belajar. Menurut Novi, perempuan memiliki peran sebagai penyeimbang dalam dinamika tim yang mayoritas laki-laki. "Perempuan Indonesia, dengan kelembutan sekaligus kekuatan yang kita miliki, mari berikan kasih sayang dan kemampuan maksimal dalam memelihara dan mengembangbiakkan satwa-satwa Indonesia," tutur Novi.




    Evelyn, Menyelam dan Berbagi Emosi dengan Satwa

    Mungkin kamu tidak menyangka, ada sosok perempuan tangguh yang rutin menyelam dan memastikan satwa-satwa akuatik terjamin kesehatannya. Geraknya terlihat tangguh, namun juga luwes di saat yang bersamaan. 

    Evelyn merupakan salah satu aquarist di JAQS. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang pariwisata, Evelyn kemudian jatuh cinta dengan wisata bahari. Evelyn mengawali kariernya di JAQS pada April 2019 sebagai staf magang, dan setelah empat bulan Evelyn resmi menjadi aquarist di JAQS.

    Kecintaannya pada dunia bahari membuat Evelyn sangat mencintai profesinya. “Saat kuliah dulu, saya iseng mengikuti unit kegiatan mahasiswa diving, di situ saya mempelajari kemampuan untuk menyelam dengan baik. Ketika dapat menggunakan kemampuan tersebut untuk mengeksplorasi dunia bawah laut Indonesia, saya kemudian jatuh cinta dan ingin mengenal lebih jauh lagi mengenai ekosistem laut. Sekarang di sinilah saya, bekerja di akuarium untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada mereka yang belum pernah merasakannya secara langsung,” ujarnya.

    Profesi yang digeluti Evelyn memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap satwa di JAQS. Evelyn secara langsung terlibat dalam kegiatan perawatan biota-biota laut, dimulai dari menjaga kebersihan akuarium, mencoba mempertahankan kemiripannya dengan ekosistem aslinya, juga melakukan persiapan dan memberikan makanan bagi biota-biota tersebut. Dan yang terpenting adalah melakukan observasi secara terus menerus untuk menghindari biota-biota dari penyakit yang mengancam.

    Profesi yang dimiliki Evelyn merupakan profesi yang belum banyak ditempuh oleh kaum perempuan. Meski begitu, ia percaya kaum perempuan dapat memainkan peran sebagai aquarist dengan baik, "Perempuan cenderung lebih teliti terhadap hal-hal kecil—yang ternyata sangat berpengaruh dalam menjaga ekosistem akuarium," tuturnya.


    Perempuan Berikan Kontribusi dalam Menjaga Alam

    Fira Basuki, Head of Social, Branding, and Communication Jakarta Aquarium & Safari berkata, "Jakarta Aquarium & Safari selalu memberi kesempatan kepada para perempuan untuk berkarya, membuktikan kemampuan, dan berkontribusi terhadap pelestarian satwa dan lingkungan. Justru, perempuan memiliki kelembutan dan keluwesan yang dibutuhkan para satwa dan dunia konservasi. Mereka adalah 'Kartini Modern' JAQS."

    Ayu Saraswati, Putri Indonesia Lingkungan 2020 yang merupakan sahabat JAQS dan sering berkunjung ke Jakarta Aquarium & Safari di Neo Soho Mall, menyatakan kekagumannya pada sosok-sosok perempuan tangguh di balik dunia konservasi JAQS. "Saya kagum pada para perempuan JAQS karena rasa cinta mereka yang tulus pada para satwa, alam serta lingkungan, dan itu terlihat dari cara mereka bekerja. Setelah mengenal lebih dekat dan mengetahui bahwa tanggung jawab mereka sama dengan rekan kerja mereka yang laki-laki, terlihat sekali betapa besarnya rasa cinta dan dedikasi mereka," ujar Ayu.

    "Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pelestarian satwa dan lingkungan, serta mematahkan anggapan bahwa wild life merupakan dunia para pria," tambah Ayu.

    Ketua Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah, berkata, "Lembaga konservasi berfungsi sebagai tempat pendidikan, peragaan, penitipan sementara dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in situ, sarana rekreasi yang sehat, mendidik, dan terjangkau bagi semua kalangan, serta penelitian, peragaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan Jakarta Aquarium & Safari yang merupakan anggota PKBSI, yang memiliki peran fungsi sebagai lembaga konservasi dengan standar internasional yang sangat baik. Jakarta Aquarium & Safari merupakan akuarium indoor modern terbesar yang memiliki lebih dari 3.500 spesies akuatik maupun non-akuatik, yang sudah banyak mendapatkan penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional."

    Rahmat Shah menambahkan, "Apresiasi juga kami berikan kepada Jakarta Aquarium & Safari yang telah mengangkat isu tentang keterlibatan dan kepedulian para perempuan, Kartini Indonesia terutama di bidang lingkungan, pelestarian satwa dan konservasi, merupakan salah satu wujud meneruskan perjuangan Kartini di era modern. Semoga lebih banyak lagi Kartini-Kartini Indonesia di bidang lingkungan dan pelestarian satwa yang berkontribusi nyata." 

    Untuk info lebih lanjut mengenai Jakarta Aquarium & Safari, termasuk kegiatannya, silahkan klik website www.jakartaaquariumsafari.com atau ke Instagram @jakartaaquarium.


    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Jakarta Aquarium & Safari)