Celebrity

Sheila Dara Aisha Bicara Mengenai Musik, Akting & Sisi Introvernya

  by: Alvin Yoga       24/4/2021
  • Tak pernah terpikir bahwa dirinya yang introver akan memantapkan kaki di dunia hiburan. Kini, Sheila Dara Aisha bersyukur bisa mendapat banyak kesempatan yang mengubah hidupnya menjadi lebih awesome. Ya, ia sedang menikmati momen-momen terbaiknya. Simak wawancara Cosmo dengan aktris sekaligus penyanyi kelahiran Bandung ini!


    C: Hai Sheila! Boleh ceritakan sedikit mengenai aktivitas keseharian Anda di tengah pandemi ini? Apa perubahan terbesar yang Anda rasakan dengan adanya pandemi?

    S: Jujur, selama pandemi aktivitas saya tidak banyak berubah. Mungkin karena saya tipe homebody, jadi saat tidak pandemi pun, ketika tidak bekerja saya tetap akan stay di rumah. Perbedaannya, sekarang rekaman lagu ikut dilakukan di rumah. Sedangkan untuk syuting, prosesnya masih berjalan seperti biasa, namun kini ditambah dengan protokol kesehatan yang ketat.




    Kalau begitu, apa saja aktivitas yang Anda lakukan di rumah?

    Banyak! Tapi kegiatan favorit saya adalah membaca buku dan main dengan kucing peliharaan. Oh ya, pandemi ini membuat saya memiliki sembilan kucing! Tadinya jumlah kucing di rumah “hanya” enam, tapi kini bertambah menjadi sembilan. Mungkin ini ya, perubahan terbesar yang saya rasakan di tengah pandemi: jumlah peliharaan saya yang bertambah.



    Adakah hal yang Anda rindukan dengan adanya situasi pandemi ini?

    Menonton di bioskop dan datang ke konser. Memang, sekarang sudah banyak layanan streaming untuk menonton film, dan konser pun kini banyak diadakan secara virtual. Pengalaman virtual ini seru juga, sih, tapi sensasinya berbeda. Semisal, biasanya saat nonton konser secara langsung, muncul perasaan engaged dengan musisi yang sedang tampil di atas panggung. Begitu juga ketika menonton bioskop, kita biasa menonton dengan layar yang lebar dan kondisi bioskop yang sepi, feel-nya berbeda.



    Ada hobi atau kesukaan tertentu yang mulai Anda jalani dengan adanya kondisi pandemi?

    Sejujurnya tidak, karena bagi saya karantina-di-rumah ini mirip dengan kehidupan saya sehari-hari. Ketika teman-teman saya yang ekstrover merasa sulit dan berat banget menjalani karantina, saya justru merasa biasa saja.


    Pernahkah Anda merasa bosan terus-menerus berada di rumah?

    Tidak, malah saya merasa waktu yang saya habiskan dengan keluarga kini jadi lebih banyak. Sebelum pandemi, dengan jadwal kerja saya yang cukup padat, saya dan keluarga jarang bertemu. Ketika saya pulang kerja mereka sudah tidur, dan saat saya berangkat mereka belum bangun. Sekarang, karena mereka work from home, saya jadi punya banyak quality time dengan keluarga. Belum lagi sekarang ada tambahan tiga ekor kucing, ini jadi "proyek" kecil kita untuk mengurus mereka.


    Mari bicara soal single terbaru Anda bersama Donne Maula, "Peka". Cosmo suka sekali kombinasi suara Anda yang dreamy serta musiknya yang light hearted. Bagaimana perasaan Anda setelah merilis single tersebut?

    Deg-degan, dan di sisi lain saya juga merasa senang dan lega. Senang karena topik yang diangkat oleh lagu ini menurutku banyak dialami oleh orang lain. Begini, ada banyak pasangan di luar sana yang seringkali bertengkar atas suatu masalah yang sama, dan kemudian salah satu pihak berpikir, “Kok, pasangan saya tidak peka dan apa yang saya rasakan ketika masalah ini kembali terjadi?” Atau banyak juga yang merasa, “Saya sudah memberikan yang terbaik, tapi sepertinya pasangan saya tidak menyadari usaha tersebut.” Inilah yang kemudian menjadi inspirasi saya dan Donne ketika menulis lagu. Jadi ya, senang sekali ketika lagu saya bisa relate dengan banyak orang.


    Bagaimana respons para pendengar sejauh ini?

    Saya senang sekali ada banyak orang yang setelah mendengar lagu tersebut kemudian bercerita mengenai pengalamannya lewat direct message. Hal ini memberikan kita energi baru lagi untuk berkarya.


    Apakah Anda turut berkontribusi dalam penulisan "Peka"?

    Untuk seluruh lagu yang saya rilis bersama Donne, yang menulis itu semuanya Donne. Memang, waktu menulis lagu, kita duduk bareng sambil saling bertukar pikiran. Tapi secara keseluruhan semua ditulis oleh Donne. Nah, karena saya punya passion di backing vocal, biasanya untuk lagu-lagu saya dan Donne, saya yang kemudian membuat arrangement untuk backing vocal.



    2020 merupakan tahun yang sangat menantang bagi banyak orang. Namun Anda justru menulis dua single bersama Donne Maula di tengah pandemi, dan kini kalian merilis single ketiga. Adakah tantangan tersendiri saat mempersiapkan single-single tersebut? Bagaimana cara Anda melewatinya?

    Saya dan Donne sama-sama merasa takut dengan situasi pandemi ini, jadi di awal pandemi, kami lumayan bingung harus melakukan apa. Untungnya untuk single pertama, kami masih sempat melakukan proses rekaman secara proper sebelum ada situasi pandemi. Memasuki single kedua, semua mulai kita kerjakan di tengah karantina. Kami sempat berpikir, “Duh, kalau ke studio rekaman, aman tidak, ya?” Kami berpikir bahwa kami pasti akan bertemu dengan circle baru yang tidak biasa kami temui. Jadi pada akhirnya kami memutuskan untuk rekaman di kamar saja, di rumah Donne.

    Kami menggunakan lemari sebaik mungkin. Pintu lemarinya kami buka lebar-lebar, lalu kami selimuti dengan bed cover, dan di dalamnya kami pasang mic. Ini menjadi salah satu cara kami untuk produksi lagu ketika tidak bisa keluar rumah. Jadi, ya, salah satu tantangan terbesarnya adalah membuat studio rekaman sendiri, mencari space kerja yang membuat kami nyaman.

    Selain itu tantangan lainnya adalah proses promo. Kalau sebelum pandemi kami bisa keluar dan melakukan banyak wawancara atau promosi, sekarang kami berdua harus lebih kreatif membuat konten promo sendiri. Kami banyak berpikir mengenai bagaimana caranya untuk tetap bisa berkomunikasi dengan para pendengar ketika tidak bisa bertemu langsung. Kami juga berusaha untuk terus melibatkan mereka di setiap karya kami. Dan jujur, pada akhirnya kami malah lebih produktif dibandingkan sebelumnya!


    Bagaimana cara Anda untuk bisa tetap seimbang antara bernyanyi dan berakting?

    Jujur, tidak bisa seimbang. Bahkan setelah bertahun-tahun berkarier, saya tetap tidak bisa menyeimbangkannya, hahaha. Satu hal yang saya sadari, saya bukan tipe orang yang bisa multitasking, jadi ketika aku sedang fokus ke satu proyek, aku akan fokus ke hal tersebut sampai selesai.

    Supaya terlihat “seimbang”, saya hanya akan produksi musik ketika saya tidak produksi film. Dan begitu juga sebaliknya, saat syuting, saya tidak akan workshop atau rekaman atau produksi single. Terutama ketika saya syuting film, saya biasa akan “memutuskan diri” dengan dunia luar. Sebisa mungkin saya tidak ingin ada distraksi, karena takut apa yang ada di diri Sheila Dara akan terbawa ke karakter yang saya perankan.


    Adakah perbedaan terbesar dari proses syuting selama pandemi?

    Yang pasti sekarang semua harus pakai masker, dan lima hari sekali kita semua akan swab test. Ketika syuting pun dijaga banget, seluruh kru dan pemain tidak boleh ke mana-mana. Sebelum pandemi, ketika syuting ke luar kota, ketika break kita bisa jalan-jalan untuk melihat-lihat dan mencari makanan. Sekarang kalau break di kamar hotel saja. Keuntungannya, jam kerja kini jadi lebih teratur, dijaga sebaik mungkin agar tidak ada yang sakit, dan menurut saya jam kerjanya kini lebih “pengertian” dibanding sebelumnya.


    Sebagai seorang aktris yang banyak mengeksplorasi peran, Sheila ingin dikenal seperti aktris yang bagaimana?

    Saya ingin dikenal sebagai aktris yang versatile. Saya tidak ingin dikotakkan atau diberi label tertentu, seperti, “Oh, kalau peran ini Sheila saja yang main”. Saya ingin bisa mengeksplor lebih banyak lagi peran yang sebelumnya belum pernah saya coba. Saya ingin lebih banyak belajar, dan harapannya ketika orang menonton peran saya, mereka berkomentar, “Oh, ternyata Sheila juga bisa seperti ini.”


    Saya ingin dikenal sebagai aktris yang versatile. Saya tidak ingin dikotakkan atau diberi label tertentu.


    Adakah peran tertentu yang ingin Anda mainkan?

    Saya tak punya peran spesifik yang ingin dimainkan. Karena bagi saya, setiap karakter itu layaknya manusia; masing-masing memiliki karateristik, kekurangan dan kelebihan, dan saya senang mengeksplor semua itu. Kalau bisa, saya ingin mencoba semua karakter yang ditawarkan.


    Anda berkata bahwa Anda tidak bisa multitasking. Jika di satu waktu yang sama Anda mendapat dua tawaran: duet dengan musisi favorit atau berakting dengan aktris/aktor favorit, mana yang akan Anda pilih?

    Musisi favorit saya saat ini Donne Maula, dan karena saya sudah pernah duet dengan dia, jadi saya akan pilih berakting bersama aktris favorit. Hahaha.


    Kalau begitu, siapa aktris favorit Anda?

    Sosok yang memberikan saya joy of acting adalah Acha Septriasa. Saya pernah bekerja bersama kak Acha untuk film Sabtu Bersama Bapak, dan dari pengalaman tersebut saya jadi belajar, “Oh, ternyata akting itu bisa seperti itu, ya.” Dulu saya sempat berpikir bahwa akting itu sebatas membaca skrip, tapi ternyata bermain peran lebih dari itu. Dan saya senang banget bisa menemukan hal tersebut karena kak Acha. Kalau ada kesempatan, saya ingin sekali bekerja bersama kak Acha lagi.


    Apa hal terbaik yang Anda pelajari dari aktris favorit Anda?

    Saya suka melihat cara kak Acha “menyelami” karakter yang ia mainkan. Ia senang menggunakan imajinasinya untuk memikirkan segala hal yang bahkan tidak tertulis di skrip. Semisal, di skrip tertulis bahwa karakter yang ia perankan adalah seorang perempuan yang telah menikah dan memiliki dua orang anak. Yang bikin saya tertarik adalah, kak Acha akan berpikir, “Oke, sekarang saya sudah menikah. Tapi, sebelum punya dua orang anak, saya bertemu dengan suami saya di mana, ya? Apa saja yang saya lakukan?” Kak Acha senang membangun ceritanya sendiri. Ia membuat karakter tersebut tidak dua dimensi, namun menjadikannya benar-benar seperti seorang manusia pada umumnya.





    Kalau untuk musisi, adakah musisi favorit?

    Musisi favorit saya saat ini Donne Maula. Saya senang sekali bisa menjadi partner kerjanya. Setiap kali berkarya, dia jujur sekali menyampaikan perasaannya. Dan setiap kali membuat lagu, saya menyadari bahwa apa yang ia pikirkan bukanlah, “Nanti yang mendengarkan akan ada berapa banyak, ya?” atau “Nanti mereka suka tidak, ya, dengan lagu seperti ini?” Yang ada di benaknya adalah “Saya membuat lagu ini karena saya memang ingin menulis tentang hal ini.”


    Apakah menjadi musisi serta aktris adalah mimpi Anda sejak kecil? Apa cita-cita Anda kala itu?

    Saya tak pernah terpikir akan menjadi seorang aktris. Sejak TK, ketika ada pertanyaan ingin jadi apa, saya akan menjawab jadi penyanyi. Mungkin karena keluarga saya juga menyukai musik, jadi sejak kecil sudah terarah ke musik. Tapi menjadi seorang aktris pun seru sekali. Satu hal yang saya syukuri, saya adalah orang yang go with the flow, jadi tawaran apapun yang diberikan biasanya akan saya terima, dan dari situ saya justru mendapat banyak pengalaman baru yang awesome.


    Apa pengalaman Anda yang paling awesome selama bergelut di dunia hiburan?

    Banyak! Tapi yang paling membekas mungkin kesempatan untuk bisa berkarier di dunia hiburan. Sebagai anak rumahan dengan jumlah teman dekat yang bisa “dihitung jari”—jujur saja teman dekat saya di dunia hiburan mungkin hanya dua orang—jika tidak terjun ke dunia seni peran, mungkin saya tidak akan mengenal berbagai macam karakter orang yang menarik. Saya senang sekali kini tiap syuting bisa mengenal karakter orang yang baru.


    Seorang homebody biasa identik sebagai seorang introver. Bagaimana dengan Anda?

    Saya setuju, tapi menurut saya introver itu bukan sulit berkomunikasi, tapi punya “batas” ketika bersosialisasi. Saya pribadi menyebutnya sebagai “kuota” bersosialisasi, yang jumlahnya lebih sedikit dibanding orang kebanyakan. Semisal, saya sehabis bertemu banyak orang lalu saya pulang ke rumah, saya harus “charging kuota” sosialisasi saya dulu. Biasanya saya akan menyendiri sambil bermain bersama kucing peliharaan sebentar, setelah itu barulah saya siap untuk mengobrol bersama keluarga.


    Mari bicara soal kegemaran fotografi Anda, yang membuat Anda memiliki akun media sosial khusus hasil jepretan Anda. Sejak kapan Anda memiliki hobi memotret? Dan apa obyek favorit Anda?

    Saya jatuh cinta dengan fotografi sejak mengenal Instagram. Tapi sepertinya ini hanya sebatas hobi. Saya suka sekali mengambil foto atau capturing momen yang menarik, karena seringnya ada beberapa momen yang kadang mudah kita lupakan jika tidak ada dokumentasinya. Jadi sebisa mungkin ketika saya sedang menikmati momen tertentu, saya akan mengambil foto. Tak ada obyek foto favorit sih, karena biasa yang saya foto adalah teman-teman dan keluarga saya.



    Apakah kalau begitu Anda sering mengambil foto, terutama foto keseharian, lewat ponsel?

    Betul, sekarang saya lebih sering mengabadikan momen lewat ponsel, mungkin karena saya lebih sering memegang ponsel dan membawanya ke mana-mana ya. Apalagi sekarang kamera ponsel semakin lama semakin canggih dan bagus, jadi senang sekali sekarang kalau mengambil foto pakai ponsel hasilnya sudah bagus dan bisa dipamerkan di media sosial.


    Bicara soal media sosial, seberapa sering Anda bermain media sosial lewat ponsel setiap harinya? Dan konten apa saja yang biasa Anda bagikan?

    Kalau sedang tidak syuting, saya senang scrolling media sosial, karena saya sering penasaran apa yang sedang dilakukan teman-teman saya. Konten yang saya bagikan sebetulnya tak ada yang spesifik, saya lebih suka membagikan momen hidup apa adanya. Seperti misalnya, saya baru saja memberitahu semua orang bahwa saya sedang naksir dengan musisi Korea DPR IAN. Hahaha.


    Apakah Anda sering membaca berbagai komentar yang muncul di media sosial Anda; seperti komentar di Instagram dan Twitter?

    Hmm, mungkin bukan membaca komentar, namun lebih ke berkomunikasi dengan para followers. Saya suka sekali membaca direct message dari para penggemar, apalagi kalau baru saja rilis film atau lagu, biasanya banyak yang curhat dan menceritakan pengalaman mereka. Sebisa mungkin saya berusaha untuk membaca semuanya.


    Mengingat jadwal Anda yang cukup sibuk setiap harinya, adakah hal tertentu yang harus Anda bawa untuk menemani keseharian?

    Smartphone. Wajib banget! Karena saya mengambil foto lewat smartphone, berkomunikasi lewat smartphone, main media sosial lewat smartphone, bahkan untuk bayar apapun sekarang pakai smartphone! Sepertinya lebih baik lupa membawa dompet dibanding lupa membawa smartphone. Saya sudah jarang sekali membawa dompet. 


    Kalau begitu, adakah fitur tertentu yang membuat Anda jatuh cinta pada sebuah smartphone?

    Buat saya, kamera smartphone jadi hal yang paling penting, karena saya suka banget mengabadikan momen yang saya suka, dan pastinya harus siap dipakai kapan saja.


    Ponsel apa yang Anda gunakan untuk memotret?

    Smartphone Samsung Galaxy A72. Menurut saya kameranya sangat awesome. Samsung Galaxy A72 memiliki empat kamera di bagian belakang. Yang pertama, ada kamera utama 64 MP dengan optical image stabilization, sehingga kualitas foto yang saya ambil sangat tinggi, dan video yang saya ambil super-stabil dan jernih berkat fitur 4K Video Snap. Selain itu, ada satu kamera 12 MP Ultra Wide, kamera 8 MP Tele3x, serta satu kamera Macro 5 MP dan satu kamera depan dengan resolusi 32 MP untuk selfie dengan hasil yang lebih memuaskan.


    Pertanyaan terakhir, menurut opini Anda, apa perbedaan terbesar dari seorang Sheila Dara yang sekarang dengan sosok Anda lima tahun yang lalu?

    Sheila lima tahun yang lalu sedang bingung memilih jalan mana yang ingin diambil. Di tahun 2016, saya masih benar-benar tidak yakin ingin fokus berkarier sebagai apa. Saat itu saya masih baru dalam menjalani semua hal; saya mencoba berakting, saya bernyanyi, menjadi host juga. Memang, sebetulnya tak ada pressure dari luar, tapi dari diri saya sendiri, saya ingin “meng-kotak-kan” diri di satu karier saja. Saat itu saya berpikir, “Kalau ingin jadi aktris, ya aktris saja. Kalau ingin jadi penyanyi, ya penyanyi saja.”

    Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan saya mau fokus di jalur mana. Dan pada akhirnya, saya tetap tidak bisa membuat keputusan. Tapi kini saya bersyukur tidak melakukannya, karena setelah semua yang saya jalani, saya merasa bisa memperkaya diri dengan banyaknya kesempatan yang ada. Saya juga merasa telah mengalami banyak perubahan. Namun saya akan membiarkan orang lain yang menilai sejauh apa saya telah berubah.


    Baca artikel lengkapnya di majalah Cosmopolitan edisi April 2021.

    Seluruh foto diambil menggunakan smartphone Samsung Galaxy A72.


    Photographer: Hadi Cahyono

    Digital Imaging: Raghamanyu Sura

    Fashion Stylist: Dheniel Algamar

    Asst. Fashion Stylist: Nabila Nida Rafida

    Makeup Artist: Archangela Chelsea

    Hair: Linda Kusumadewi

    Lokasi: The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place