Career

Apa Itu Financial Feminist & Mengapa Hal Ini Penting Bagi Perempuan

  by: Alvin Yoga       27/4/2021
  • Bicara mengenai kesetaraan gender berarti bicara mengenai persamaan dalam banyak hal, tak hanya di bidang politik dan sosial, namun juga ekonomi—atau dengan kata lain, keuangan.

    Uang telah lama menjadi isu bagi perempuan. Salah satu topik yang tak pernah bosan kita gaungkan tentu saja gender pay gap. Dan di samping itu, ada juga hal-hal yang lebih jarang dibicarakan di permukaan, seperti investing gap, pension gap serta confidence gap. Sayangnya, dengan adanya pandemi, perbedaan kesenjangan dalam seluruh hal tersebut semakin lebar.

    Menurut laporan UN Women: COVID-19 and its economic toll on women, dampak dari krisis tak pernah gender-neutral, begitu juga pengaruh COVID-19 terhadap ekonomi perempuan. Faktanya, secara keseluruhan di seluruh dunia, di tengah kondisi pandemi ini perempuan mendapatkan gaji yang lebih sedikit, menabung dalam jumlah yang lebih sedikit, mendapatkan proporsi yang tidak seimbang dalam hal ekonomi informal, lebih sedikit akses dalam hal proteksi keuangan, serta lebih rentan terhadap PHK.



    Menurut data dari Badan Pusat Statistik atau BPS, tingkat pengangguran terbuka perempuan di tahun 2020 meningkat menjadi 6,46% atau sekitar 631 ribu jiwa. Dibandingkan dengan tahun 2019, jumlah ini meningkat sebesar 1,24%. Dan ya, "Terjadi disrupsi pada kondisi ketenagakerjaan akibat munculnya pandemi COVID-19," tulis data BPS.

    Inilah mengapa urgensi financial feminism semakin penting di era ini. Bagi kamu yang ingin lebih memahami apa itu financial feminist serta bagaimana menjadi financial feminist seutuhnya, tak perlu khawatir. We’ve got you, ladies!


    BACA JUGA: 8 cara menjadi seorang financial feminist


    Apa itu financial feminist, dan apa perbedaannya dengan feminis?

    Mari kita mulai dari istilah feminisme. Cosmo yakin kamu pasti sudah mengerti apa itu feminisme. Yang perlu turut dipahami adalah, “Feminisme lebih dari sekadar label atau pemikiran, dan seharusnya ikut merujuk pada kebebasan finansial bagi para perempuan,” ujar Suzanne McGee, seorang jurnalis finansial dan juga penulis bagi The Wall Street Journal.



    Lalu, adakah perbedaan financial feminist dengan feminis? Jawabannya: tidak ada. “Seorang feminis adalah seseorang yang percaya dan mendukung kesetaraan. Sedangkan seorang ‘financial feminist’ adalah seseorang yang percaya akan konsep kesetaraan finansial bagi seluruh perempuan,” ujar Ashley Feinstein Gerstley, seorang money coach asal New York sekaligus founder dari website personal finance advice The Fiscal Femme.

    Lalu mengapa kita memakai istilah financial feminist dan bukan feminis saja? It’s about driving a specific conversation. “Kenyataannya, mengobrol soal keuangan dapat membuat perempuan merasa...kurang nyaman. Topik tersebut sensitif, bisa memberikan pengertian yang keliru, dan biasanya topik mengenai keuangan dapat menyentuh isu-isu lain yang tidak ingin kita diskusikan,” ujar Jessica Robinson, pengarang Financial Feminism: A Woman’s Guide to Investing for a Sustainable Future.

    Studi menemukan bahwa bagi perempuan, bicara mengenai keuangan merupakan suatu hal yang sulit, dan sepanjang sejarah subjek ini sering dianggap “tabu” untuk dibicarakan oleh perempuan. “Padahal uang merupakan alat yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan berbagai pengalaman hidup yang kita inginkan,” tambah Ashley. “Uang memberikan kekuatan dan kebebasan dalam membuat berbagai pilihan, termasuk dalam hal keluarga, karier dan hampir segalanya.” The bottom line is, istilah financial feminism merupakan pondasi penting agar para perempuan bisa lebih menyuarakan topik mengenai uang dan gaji, investasi, tabungan serta lebih mudah bernegosiasi untuk mendapatkan keadilan di lingkungan kerja. 


    Artikel ini dipublikasikan pada majalah Cosmopolitan Indonesia edisi April 2021. Untuk artikel lengkapnya, dapatkan majalah tersebut di sini.

    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Marcos Paulo Prado on Unsplash / Layout: Rhani Sakurani)