Lifestyle

Berkenalan dengan Tamara Gondo, Wakil Indonesia untuk Generation17

  by: Givania Diwiya Citta       22/4/2022
  • Girls, setelah mengetahui tentang gerakan dalam mencapai Global Goals di tahun 2030, kamu kini perlu berkenalan dengan sosok young leader dari Generation17 hasil inisiasi Samsung dan UNDP yang akan membantu mencapai misi ini, ehm, apalagi ia adalah perwakilan dari Indonesia! Ya, beberapa waktu lalu, Cosmo telah menemui sosok Tamara Gondo dan berbincang tentang Generation17 hingga misi yang diusungnya lewat bisnis sosialnya, Liberty Society. Inilah Tamara yang menjadi CEO dari bisnis sosial yang didirikannya, yang memberdayakan para perempuan pengungsi untuk berkarya menghasilkan produk fashion beretika serta ramah lingkungan.   


    Lewat produk fashion ramah lingkungan tersebut, Tamara mampu menggerakkan poros sustainability dalam Global Goals no. 12 yaitu Responsible Consumption And Production. Bahkan lebih dari itu, bisnis sosialnya pun menggerakkan pemberdayaan perempuan seperti dalam Global Goals no. 5 yaitu Gender Equality, dan dalam mendorong tumbuhnya perekonomian yang sehat seperti dalam Global Goals no. 8 yaitu Decent Work And Economic Growth. Karena Tamara memberdayakan komunitas marjinal pengungsi perempuan untuk meningkatkan kemampuan mereka lewat berkarya di Liberty Society, sambil mendapatkan dukungan pemasukan untuk menghidupi keluarga mereka, hingga tujuan akhirnya, membuat mereka masuk ke pasar pekerjaan. Kini sebagai salah satu young leader untuk Generation17, ia pun kian menggaungkan pesan, misi, serta cerita inspiratif untuk memercik semangat generasi muda dalam bergerak menuju Global Goals. Let’s follow her path, girls! 






    Kemeja putih, milik stylist. Sweater pink, Uniqlo

    Bisakah ceritakan latar belakang dari gagasan membangun bisnis sosial yang mendorong pemberdayaan perempuan, serta kesadaran terhadap perubahan gaya hidup sustainable ini?

    Saya melihat ada banyak anak muda yang mau berkontribusi secara sosial dan memakai baju ramah lingkungan, namun belum banyak opsi brand yang menawarkannya. Jadi, yang kami lakukan adalah membuat fashion beretika dan ramah lingkungan untuk membangkitkan kesadaran terhadap nilai-nilai tersebut. Kami pun merancang agar setiap pakaian yang dibuat memiliki cerita tersendiri, mulai dari isu yang diangkat hingga desain yang memberikan perasaan ‘look good, feel good’ berkat material yang compatible, hingga memberi rasa bahwa ‘saya bisa melakukan kebaikan lewat pembelian ini’. Namun pada saat yang sama, saya pun melihat adanya komunitas marjinal perempuan pengungsi yang mempunyai kemampuan sekaligus membutuhkan penghasilan. Jadi saya serta bisnis ini mencoba menghubungkan pembeli produk kami dengan misi utama kami, yaitu untuk memberi kesenangan pada para pekerja kami dalam mendapatkan pemasukan demi menghidupi keluarga mereka, dan memberi senyum pada pengguna pakaian kami karena pembelian mereka bisa membuat suatu perubahan yang baik. 


    Apa misi dan tujuan yang ingin Anda capai lewat organisasi yang bergerak di bisnis sosial dan beretika ini, baik dampak langsungnya terhadap lingkungan maupun dampaknya bagi gaya hidup masyarakat?

    Kami ingin menginspirasi masyarakat untuk hidup secara lebih tulus, pertama lewat pembelian produk yang lebih mindful, dan mengenakan pakaian yang jauh lebih sustainable untuk umat manusia dan planet. Selain itu, dampak yang ingin dihasilkan dari bisnis sosial kami adalah untuk mengangkat perempuan dari kemiskinan, dan memberi kemerdekaan untuk planet ini agar menjadi lebih eco. Dan untuk meraih tujuan tersebut, kami selalu memastikan para perempuan di House of Freedom mendapatkan pelatihan, lalu memastikan penghasilan mereka agar bisa melanjutkan masuk ke pasar. Sementara dampak yang ingin dihasilkan terhadap lingkungan adalah agar bisa bekerja sama dengan brand atau perusahaan untuk membantu memproduksi pakaian yang punya cerita berdampak, dan didukung dari packaging yang ramah lingkungan, serta limbah yang bisa diminimalisir.


    Apa tantangan terbesar yang Anda temukan dalam membesarkan bisnis sosial yang bergerak di pasar fashion beretika, terutama di Indonesia? Dan bagaimana trik kreatif Anda dalam menaklukkan tantangan tersebut?

    Di Indonesia, masih terdapat kecenderungan membeli pakaian berharga murah serta membeli fast fashion, yang mengikuti tren, yang tak tahu berasal dari mana, dan entah jika para pekerjanya diberi lingkungan yang aman. Namun kami di sini justru mampu memberi transparansi tentang rantai supply, mulai dari material yang digunakan, kondisi pekerja kami, dan dampak yang bisa dihasilkan oleh pelanggan kami. Ada banyak aspek edukasi yang kami gaungkan lewat video di media sosial, juga melalui webinar kami yang menyampaikan bahwa produk kami memanglah premium, karena kami membayar semua orang dalam supply chain secara adil, dan bahwa material yang sustainable akan bertahan lebih lama, bahkan bisa untuk investasi jangka panjang.



    Kemeja burgundy, crop top, celana, Uniqlo. 


    Bagaimana peran teknologi mendukung Anda dalam menjalani bisnis sosial Anda?

    Teknologi mampu menghubungkan saya dengan klien kami, yang bahkan di mancanegara sekalipun. Teknologi juga membantu saya mendapatkan ide-ide dari bisnis sosial lainnya yang seperti kami, yaitu yang sedang menginovasi solusi lain untuk menyelamatkan planet. Teknologi juga memberi kami fasilitas untuk mengkomunikasikan pada masyarakat tentang dampak yang bisa dihasilkan lewat gerakan ini. Bahkan bagi perusahaan sosial kami, teknologi memungkinkan karyawan untuk bekerja dari jarak jauh, karena tim kami merentang dari Amerika Serikat, Australia, dan Singapura, hingga kami bisa menyingkronkan waktu dan bekerja secara efektif. Pada akhirnya, teknologi bisa membuat produktivitas saya meningkat lewat bekerja menggunakan device. Apalagi akhir-akhir ini, saya merasa terbantu sekali setelah mencoba menggunakan Galaxy S22 Ultra 5G dan Galaxy Tab S8+ 5G. Kedua device ini sangat memudahkan saya dalam mobile meeting dengan klien, memberi feedback pada tim saya, atau melakukan yang selalu saya inginkan dalam membagikan kegiatan sustainability. Saya bisa membagikannya semakin seamless berkat hasil dari kamera S22 yang menyenangkan, tak luput S Pen-nya juga menyenangkan dan memudahkan ketika saya harus coret-coret desain secara langsung di smartphone ataupun tablet, dan langsung mengirimkannya ke tim saya. Kerja mobile pun jadi lebih mudah, saat di jalan, saya bisa tetap produktif dengan S22 Ultra dan saat sampai di kantor, saya melanjutkannya di Tab S8+ dengan mudah. Dengan produktifitas yang semakin seamless dan sharing melalui media sosial semakin baik, harapan saya semoga apa yang saya kerjakan dan bagikan tersebut bisa memberi inspirasi bagi semua teman di luar sana.


    Apa saja peluang serta harapan yang Anda temukan dan ingin lihat di masa depan dari para Gen Z dan modernisasi teknologi hari ini, terhadap gerakan pro-sustainability yang Anda gagas selama ini?

    Semoga sustainability bisa menjadi norma, dan bahwa kami bisa mengubah industri fashion. Dengan mengedukasi para pelanggan kami, dan ketika mereka bersedia untuk berinvestasi pada produk sustainable, maka kami bisa bekerja sama dengan banyak brand dan perusahaan untuk membuat lebih banyak produk yang ramah lingkungan. Saya sendiri merasa bahwa peluang justru datang ketika pandemi COVID-19 merebak, karena kita jadi sadar bahwa harus ada jalan lain untuk menggunakan sesuatu, serta bagi industri dalam memproduksi suatu produk. Itu adalah tanggung jawab setiap dari kita yang tak lagi bisa kita hiraukan, dan agar kita bisa mulai melakukan suatu hal kecil yang memungkinkan memunculkan perubahan, sesederhana dari mendukung brand lokal yang mengusung keberlanjutan umat manusia serta planet.  


    "Kita sadar bahwa harus ada jalan lain untuk menggunakan sesuatu, serta bagi industri dalam memproduksi suatu produk. Itu adalah tanggung jawab setiap dari kita yang tak lagi bisa kita hiraukan."


    Apa pembelajaran terbaik yang bisa Anda serap secara personal setelah berhasil memimpin Liberty Society selama tiga tahun ini?

    Semuanya dimulai dari mendengarkan, menyimak apa yang pelanggan inginkan, dan mendengarkan para perempuan yang ingin kami beri dampak. Contoh, jika kita ingin memberi dampak, maka kita pun harus memberi lapangan pekerjaan. Meskipun dalam kasus para perempuan pengungsi, yang pertama mereka butuhkan sebenarnya adalah perasaan aman secara psikis, emosional, dan fisik. Dari sini, kami mencoba memberikan mereka dukungan dan rasa bisa dipercaya. Sementara bagi pelanggan, kami memberi perasaan bahwa mereka tak hanya pembeli barang, namun justru kami menjual produk amal fungsional yang sekaligus berkualitas bagi para pelanggan. 



    Apa yang paling Anda kagumi dan senangi ketika bisa bekerja bersama para perempuan dengan ragam budaya berbeda di Liberty Society?

    Sebagai anak muda yang sama-sama belajar dengan berbagai individu ragam ras, budaya, serta agama, saya jadi bisa belajar tentang kerendahan hati, dan belajar bahwa cara saya melakukan sesuatu tak sepenuhnya selalu benar. Saya pun belajar bahwa dunia nyatanya sangat kaya, dan saya beruntung bisa melihat keberanian serta kekuatan dan ketangguhan para komunitas yang bekerja sama dengan saya. Mereka tak menjalani hidup secara mudah, dan mungkin telah mengalami ketidakadilan, namun ketika mereka datang ke tempat kerja kami, mereka selalu hadir dengan senyuman. Melihat hal itu membuat saya semakin terinspirasi untuk melanjutkan misi kami. 




    Bagaimana perasaaan Anda ketika terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk Generation17? Dan apa harapan serta pesan yang ingin Anda sampaikan melalui partisipasi Anda dalam Generation17?

    Generation17 yang diinisiasi Samsung dan UNDP adalah wadah bagi pembuat perubahan global untuk membuat dampak. Kami menggunakan penyampaian cerita lewat teknologi untuk menggaungkan isu serta intervensi yang sedang kami lakukan. Harapannya adalah semoga semakin banyak anak muda yang terinspirasi hingga mereka bisa memulai gerakan dari hal kecil. Saya sendiri memulainya sejak masa kuliah, dan ternyata ada banyak pihak yang memberi saya kepercayaan. Saya pun semakin yakin bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengambil aksi karena terdapat banyak masalah sosial. Dan bisnis sosial inilah yang mampu menciptakan nilai pada tiga poin utama: umat manusia, planet, dan keuntungan. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bahwa saya adalah salah satu dari enam sosok pemimpin muda yang dipilih di tahun ini, dengan total 14 young leaders dunia dari semenjak dibentuk, terlebih dalam merepresentasikan Indonesia. Semoga akan ada semakin banyak komunitas yang bisa bekerja sama dengan Liberty Society untuk tiga hal: memberi akses ke pasar; melakukan pelatihan; dan memberi sumber daya untuk mendukung perkembangan mereka.   



    Outer hijau, milik stylist. Celana, Kate Spade.


    Menurut Anda, apa aksi paling sederhana yang kita secara individual bisa lakukan untuk berpartisipasi dalam mencapai Global Goals? 

    Tujuan global bisa dimulai dari rumah. Dalam lingkaran masyarakat yang paling dekat dengan kita, hal seperti mereduksi plastik bisa sangat dilakukan. Mulai dari meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, lalu menggunakan botol minum sendiri, dan membawa wadah serta alat makan sendiri. Langkah selanjutnya adalah jika kita ingin membeli barang yang baru, mari pelajari lebih lanjut mengenai barang tersebut, mulai dari brand hingga material yang digunakan. Jadi, kita bisa ikut bertanggung jawab dengan gaya mengonsumsi. 


    Anda pun secara personal kerap menyuarakan dan mengedukasikan mengenai isu perempuan serta sustainability lewat media sosial Anda. Apa misi personal yang ingin Anda capai dari membuka topik ini pada followers dan digital citizen?

    Saya ingin membuat jembatan dari cerita para perajin perempuan yang kami bina dan ajak kerja sama untuk menjangkau komunitas perajin yang tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari yang berlokasi di NTT, Flores, Bali, hingga Yogyakarta. Kami ingin agar para pengikut media sosial jadi tahu tentang orang-orang yang menciptakan karya hebat ini, serta mengenali produk-produk berkualitas tinggi yang punya cerita menarik di belakangnya. Saya pun percaya, dengan visualisasi storytelling yang baik, itu bisa membantu menyampaikan message yang ingin saya gaungkan. Oleh karenanya saya memilih untuk menggunakan device yang menghasilkan foto serta video berkualitas seperti dari Galaxy S22 Ultra 5G.



    Bisakah ceritakan satu pengalaman paling membanggakan bagi Anda personal, tentang kreasi atau hasil yang pernah dicapai oleh Anda dan organisasi bisnis yang Anda pimpin, dalam menyuarakan gerakan pro-sustainability selama ini?

    Saya bisa melihat bahwa industri mulai berubah ke arah pro-sustainability ketika brand besar multinasional seperti Uniqlo ingin bekerja sama dengan kami dalam mendukung misi kami, kemudian menyampaikan cerita ini pada publik. Kami membuat karya dari sisa limbah produksi setiap toko mereka di Indonesia. House of Freedom pun kemudian bisa membuatnya jadi pouch hingga card holder. Dan hasil karya tersebut dijual serta dipajang di salah satu pembukaan toko baru Uniqlo tahun lalu. Senang rasanya jika sebuah brand besar turut menggerakkan misi ini. Serta tentu saja, pengalaman yang tak kalah membanggakan adalah ketika saya mendapat kehormatan berbentuk apresiasi global seperti Generation17. Hal ini jadi penyemangat saya untuk terus berjuang dan bertemu young leaders lain yang memiliki visi sama.  



    Photographer: Hadi Cahyono

    Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang

    Stylist: Astriana Gemiati

    Stylist Assistant: Haninadhira Husaini

    Content Creator: Kissy Aprilia

    Makeup Artist & Hair Do: Yosefina Yustiani


    (Givania Diwiya / Opening Image Layout: Severinus Dewantara)