Better You

Ternyata WFH Bisa Ikut Mengganggu Siklus Menstruasi Perempuan!

  by: Giovani Untari       24/4/2022
  • Pandemi jelas mengubah hidup kita dalam begitu banyak aspek, salah satunya bagaimana cara kita bekerja saat ini. Sejak awal pandemi hingga saat ini, banyak perusahaan yang menawarkan sistem kerja hybrid dan juga work from home (WFH) dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus COVID-19. 


    Meski ada sejumlah hal positif yang kita rasakan dari sistem kerja WFH seperti tak perlu merasa stres di jalan saat pulang-pergi kantor, namun di sisi lain tanpa sadar WFH juga menbawa dampak tersendiri pada kesehatan kita. 



    Di mana para ahli baru-baru ini resmi menyatakan bahwa WFH ternyata juga bisa ikut memengaruhi siklus menstruasi perempuan!





    Riset terbaru dari Spire Healthcare kepada lebih dari 10.000 peserta menemukan fakta bahwa para perempuan memiliki waktu meeting yang sama dengan para pria setiap harinya. Di mana durasi meeting yang dilalui para perempuan bahkan sedikit lebih lama dan memiliki waktu istirahat yang lebih pendek dibanding pria. 13,7% perempuan dalam penelitian tersebut dilaporkan juga mengalami Zoom fatigue.


    Hal tersebut jelas ikut berdampak pada banyak hal mulai dari kadar stres hingga kualitas tidur- yang mana keduanya berperan besar dalam perubahan siklus menstruasi, ujar Abbas Kanani seorang apoteker dari Chemist Click, sebuah layanan apotek online ternama di Inggris. Perubahan tersebut juga termasuk pada telatnya datang bulan, siklus menstruasi yang menjadi tidak teratur serta bertambahnya rasa nyeri ketika menstruasi.


    Paparan berlebihan terhadap blue light dari laptop, ponsel, dan gadget lainnya (yang kita gunakan selama WFH!) juga memegang peranan tersendiri. Dalam studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa paparan blue light dapat secara signifikan menekan produksi melatonin, sebuah hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh untuk memberi sinyal waktu tidur.


    Berbicara soal penyebab lainnya, Kanani juga ikut menambahkan, "Siklus menstruasi memiliki hubungan erat dengan ritme sirkadian.

    Ritme sirkadian adalah siklus 24 jam yang merupakan bagian dari jam internal tubuh manusia. Mereka juga secara teratur membantu produksi homon dan bisa memengaruhi sistem ovulasi. Yang mana jika sistem ini terganggu, maka akan berdampak pada siklus menstruasi perempuan."





    Kanani juga menekankan bahwa kurangnya berolahraga juga ternyata bisa membuat menstruasi seorang perempuan menjadi terlambat atau lebih 'deras' dari biasanya. Harus diakui pula bahwa WFH terkadang memang membuat gerak kita lebih berkurang dari biasanya (sebab kita terbebas dari drama harus berlari mengejar kereta atau MRT di pagi hari, bukan?).

    "Selanjutnya, ada sejumlah faktor lainnya dari WFH yaang berdampak pada siklus menstruasi contohnya: waktu tidur, stres, berat badan, serta kurangnya berolahraga," jelasnya. 

    "Olahraga dan exercise membantu mencegah produksi prostaglandin yang menyebabkan nyeri menstruasi. Sedangkan meningkatnya berat badan dapat membuat aliran darah saat menstruasi menjadi lebih heavy dan stres dapat meningkatkan produksi hormon kortisol, di mana hormon tersebut dapat memengaruhi periode menstruasi menjadi lebih sebentar, aliran darah yang lebih sedikit, atau bahkan menstruasi yang tidak datang sama sekali."



    Jadi, apa yang kita pelajari dari sini?

    Sesekali cobalah lakukan meeting melalui panggilan telepon ketimbang via Zoom, serta yang tak kalah penting buatlah tubuhmu tetap bergerak meski sedang WFH sekalipun.

    Selanjutnya mendapatkan tidur yang baik juga adalah hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja, babes! Dan tentu saja, apabila kamu memiliki masalah terkait dengan menstruasi atau persoalan kesehatan lainnya selalu berkonsultasilah dengan dokter agar mendapat penanganan yang tepat.



    Artikel ini tidak bertujuan untuk menjadi pengganti saran atau diagnosis medis secara profesional. Selalu berkonsultasi dan cari bantuan dari dokter atau penyedia jasa kesehatan yang berpengalaman untuk menjawab pertanyaan terkait kondisi medismu.




    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Giovani Untari / Images: Dok. Helena Lopes on Unsplash, Alexander Sergienko on Unsplash, Ave Calvar on Unsplash, Oana Cristina on Unsplash).