Celebrity

Interview: Voice of Baceprot, Bermusik dari Hati untuk Kemanusiaan

  by: Giovani Untari       29/4/2022
  • Tak pernah sedikit pun terpikirkan oleh Firda Marsya Kurnia (vokalis, gitaris), Euis Siti Aisyah (drumer), dan Widi Rahmawati (bass) bahwa mereka akan menjadi salah satu band perempuan beraliran hip-metal-funky dari Indonesia yang bersinar. Bahkan di tengah pandemi yang masih belum ada titik akhir, VoB berhasil mencatat prestasi tersendiri dengan menggelar tur musik ke Eropa di tahun 2021 silam. 


    Ke depannya, para perempuan muda asal Garut, Jawa Barat tersebut juga akan segera bertolak ke Inggris untuk tampil di The Deaf Institute serta Boston Music Room. Agenda besar sudah menanti mereka di depan mata, pasalnya pada bulan Agustus 2022 nanti VoB pun akan turut memeriahkan salah satu festival musik metal terbesar di dunia: Wacken Open Air 2022!



    #proud



    Perjalanan musik Marsya, Sitti, dan Widi dimulai lewat suatu pagelaran teater drama musikal saat duduk di bangku sekolah. Berperan sebagai anak band, ketiganya tanpa sengaja menemukan passion mereka di dunia musik dalam format sebuah band. 

    "Saat itu kami semua benar-benar belajar dari nol soal musik dan cara bermain instrumen musik," ujar Sitti sang drumer kala mengingat titik awal perkenalan mereka pada dunia musik.





    Sejak tahun 2014 pula, VoB konsisten terus berkarya dengan cara mereka yang unik. Dimulai dari merilis video cover song dari band favorit mereka, perlahan tapi pasti atensi publik dan media dari seluruh dunia mulai tertuju pada ketiganya.

     

    Hingga di tahun 2018, Amity Asia menggandeng Voice of Baceprot dan membuat para perempuan muda ini (akhirnya!) resmi merilis single debut mereka yang memorable 'School Revolution'.

    Jalan karier bagi ketiganya jelas terbuka lebar, tapi selayaknya dua sisi mata uang: akan ada satu sisi lainnya yang mungkin tak sesuai dengan keinginan. Sebagai musisi perempuan yang berhijab, mereka juga kerap dihadapkan dengan streotype miring dari masyarakat.

    "Tetapi kami ingin mendobrak streotype tersebut melalui pembuktian di karier musik dan lewat karya," tukas Marsya dengan bersemangat.


    Marsya: Kemeja hitam & Belt (Bershka), Gaun Biru (Zara). Widi: Atasan biru & Sweater (Zara), Celana Hitam (Bershka). Siti: Blazer (Zara), Atasan (Bershka), Rok (+J by Uniqlo).


    Pernahkah kamu mendengar istilah "When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it?" Maka inilah yang terjadi pada Voice of Baceprot. 

    Ketiganya selalu persisten memiliki misi dan pesan yang kuat terhadap musik yang mereka rilis. Harapannya? Agar para pendengar bisa bisa lebih aware dengan isu-isu tersebut melalui musik VoB.


    Lagu-lagu mereka seperti School Revolution, God, Allow Me (Please) to Play Music memiliki isu kuat tentang kemanusiaan. Sementara single terbaru mereka yang dirilis bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional yaitu [NOT] PUBLIC PROPERTY adalah cara nyata VoB untuk menyampaikan rasa keprihatinan terhadap perempuan korban kekerasan dan berjuang membantu menciptakan ruang aman untuk semua orang terutama untuk perempuan.




    Mari kita mengenal lebih dekat dengan Voice of Baceprot melalui interview Cosmo berikut ini:


    Di tahun 2021 lalu kalian menggelar Fight Dream Believe European Tour 2021. Bagaimana rasanya memulai kembali tur di era pandemi ini, apalagi turnya pun jauh dari Indonesia?

    Sejujurnya kami sempat merasa deg-degan karena takut turnya akan di-cancel. Apalagi ketika kami berangkat ke Eropa, kasus di sana juga sedang tinggi-tingginya. Jadi pasti ada kekhawatiran tersendiri. Tetapi syukurlah semuanya berjalan dengan lancar meski ada ada satu show yang harus cancel dan ada juga satu yang berubah menjadi private show.


    Sebagai musisi, apa kesulitan terbesar yang kalian rasakan selama pandemi ini? Dan bagaimana cara kalian tetap menghasilkan sebuah karya di tengah pasang-surut dunia saat pandemi?

    Justru kami jadi lebih produktif selama pandemi. Karena kebanyakan di rumah dan lebih jarang manggung di awal pandemi, waktunya kami gunakan untuk membuat lagu dan musik baru. Ketika sekarang di mana kondisi sepertinya sudah semakin membaik, VoB beruntung beruntung sudah memiliki beberapa tabungan musik.



    Marsya: Kemeja hitam (Bershka), Outer & Celana Pink (RAEGITAZORO). Sitti: Kemeja Pink (Zara), Outer (RAEGITAZORO), Celana (Bershka). Widi: Jaket Pink (RAEGITAZORO), Rok (Bershka).


    Kembali menjalani aktivitas secara offline, apakah ini membuat kalian sempat kesulitan untuk beradaptasi lagi di atas panggung? 

    Benar! Kami jadi demam panggung karena sudah lama tidak bertemu penonton secara live. Apalagi pas tur, kami jadi sering nervous dan demam panggung.


    Voice of Baceprot lahir dari kecintaan kalian terhadap musik kala bermain band bersama dalam suatu pagelaran teater sekolah. Cosmo cukup penasaran, apa yang membuat awalnya kalian memilih genre musik metal sebagai aliran musik yang kalian tekuni?

    Awalnya kami bergabung di teater saat masih sekolah. Tapi karena kami sadar sepertinya akting kami kurang baik, akhirnya kami mencoba drama musikal sebagai anak band. Dari sana ternyata dari sana kami jadi menyadari bahwa lebih nyaman bermain musik dibanding teater sendiri. Ya sudah akhirnya kita memutuskan membuat band yang awalnya terdiri dari 15 orang. Lama kelamaan personilnya pun mulai 'terseleksi', hingga tersisa kami bertiga. Ketika sudah bertiga kami baru memutuskan untuk memilih aliran musik metal ini, Para personil VoB juga sebenarnya punya selera musiknya masing-masing. Misalnya Sitti dari awal sudah suka metal, Marsya suka hip hop, dan Widi suka musik yang funky. Akhirnya terciptalah musik kami yang sekarang.


    Lantas yang paling kalian senangi dari memainkan musik bergenre metal yang diinfusi oleh rock serta rap ini dibanding genre lainnya? 

    Sebenarnya kita bertiga menyebut genre VoB adalah hip-metal-funky, yang merupakan gabungan dari tiga selera musik para anggotanya. Sampai sekarang VoB juga mencoba terus mengeksplor musik kami. Meski arahnya memang ke genre metal, tetapi VoB di awal kemunculan sempat banyak yang meledek dan menentang sebab orang bingung musiknya ke mana? Jadi sekarang kami lebih sering mengeksplor musik yang kami ciptakan.. Apa yang kami sukai maka itu yang akan dimasukkan ke lagu. Makanya kami memutuskan menyebut genre kami hip-metal-funky tersebut.


    Marsya: Kemeja hitam & Belt (Bershka), Gaun Biru (Zara). 


    Menarik! Tadi dijelaskan bahwa setiap personil memiliki preferensi musiknya masing-masing. Bagaimana cara kalian menyatukan berbagai ide dari tiga kepala, serta tetap membuat musik band kalian terdengar konsisten?

    Dengan lebih banyak mengobrol pastinya. Karena terkadang yang menjadi masalah itu karena ada hal-hal yang tidak diobrolin. Misalnya ketika membuat lagu apabila ada part yang tidak disuka atau merasa harus lebih dieksplor lagi, kami memilih menghindari untuk dibicarakan dan tidak dipendam karena bisa menimbulkan masalah. Memang tidak bisa dipungkiri kalau komunikasi adalah sesuatu yang krusial.


    Cosmo percaya bahwa musik tidak pernah mengenal apapun gendernya. Tetapi masyarakat masih sering berpikir bahwa musik metal bukan sesuatu yang cocok bagi perempuan.
    Bagaimana kalian memandang streotype ini dan membuktikan bahwa perempuan sebenarnya juga bisa kok masuk ke dunia musik metal dan sukses?

    Kami melawannya dengan cara terus bermusik! Kalau kita menuruti stigma bahwa perempuan itu tidak cocok main musik metal atau tidak boleh menggeluti profesi tertentu, mungkin sampai sekarang tidak ada perempuan yang berkarier di genre musik metal seperti kami, serta para perempuan hebat lainnya yang berkarier di sektor-sektor tidak biasa. Kami ingin mendobrak streotype tersebut melalui pembuktian di karier musik dan lewat karya.



    "Kami melawannya dengan cara terus bermusik! Kalau kita menuruti stigma bahwa perempuan itu tidak cocok main musik metal atau tidak boleh menggeluti profesi tertentu, mungkin sampai sekarang tidak ada perempuan yang berkarier di genre musik metal seperti kami, serta para perempuan hebat lainnya yang berkarier di sektor-sektor tidak biasa."
    -Voice of Baceprot-


    Pesan apa yang ingin kalian perdengarkan pada publik lewat musik Voice of Baceprot?

    Pesan dari lagu-lagu VoB sebenarnya ingin lebih menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar terutama kepada generasi saat ini agar tidak menjadi generasi yang apatis. Selain itu kami ingin agar orang-orang terutama para perempuan juga lebih berani menunjukkan diri dan bakatnya. Karena sebenarnya kami percaya, ada banyak perempuan di luar sana yang memiliki potensi luar biasa tetapi merasa insecure dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Padahal ketika dia berani memulai maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Yang penting mau untuk memulai!


    Sitti: Kemeja Pink (Zara), Outer (RAEGITAZORO).





    Kalian adalah band perempuan yang sukses berkarier hingga internasional. Karya kalian pun mendapat sambutan positif dari publik luar. Apakah ada beban tersendiri ketika banyak orang yang kerap mengkaitkan kata internasional tersebut kepada band kalian?

    Terkadang memang itu menjadi beban tersendiri. Karena ekpektasi orang terhadap VoB pastinya akan tinggi sekali. Kami juga sempat merasa pressure untuk selalu tampil bagus dan sempurna. Tetapi akhirnya kami sadar kalau ekspektasi orang itu bukan tanggung jawab kami. Mereka bebas berekspektasi apapun. Namun masalah sesuai atau tidaknya itu di luar tanggung jawab kami. Yang penting kami sudah berusaha untuk selalu menampilkan yang terbaik.



    "Kami ingin agar orang-orang terutama para perempuan lebih berani menunjukkan diri dan bakatnya. Karena sebenarnya kami percaya, ada banyak perempuan di luar sana yang memiliki potensi luar biasa tetapi merasa insecure dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Padahal ketika dia berani memulai maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan."
    -Voice of Baceprot-


    Single terbaru kalian, [NOT] PUBLIC PROPERTY juga sarat akan kritik sosial terutama mengenai imej perempuan di masyarakat sosial. Apa inspirasi yang mendasari lagu ini?

    Lagu tersebut lahir dari rasa keprihatinan kami terhadap korban kekerasan maupun kekerasan seksual yang justru masih sering disalahkan atas kejadian yang menimpa mereka. Ketakutan dan trauma mereka itu sering kali masyarakat abaikan. Yang lebih sering kita dengar bahwa perempuan disalahkan karena pakaiannya. Dari sana kami juga melihat bahwa cara perempuan berpakaian dan tubuh perempuan itu ternyata masih jadi urusan publik. Makanya kami menyalurkan emosi tersebut melalui lagu [NOT] PUBLIC PROPERTY.


    Apa pesan juga harapan yang ingin kalian raih dari lagu tersebut?

    Kami ingin agar orang-orang di sekitar kita bisa lebih peka dan membantu menciptakan ruang aman untuk semua orang, terutama untuk perempuan. Kita juga harus berhenti memandang value seorang perempuan hanya dari fisiknya saja. Seperti di VoB sendiri, kami pun sering mengalami rasa tidak nyaman saat yang dibahas dan ditanyakan selalu soal penampilan dan hijabnya. Akhirnya porsi untuk membahas soal musik dan karya kami jadi ikut menyusut.



    Widi: Jaket Pink (RAEGITAZORO), Rok (Bershka).


    Selain tentang perempuan, beberapa lagu Voice of Baceprot juga ikut menyoroti isu sosial lain seperti di lagu God, Allow Me (Please) to Play Music dan School Revolution. Perubahan apa yang ingin kalian lihat di kehidupan sosial dari lagu-lagu yang kalian rilis?

    Sebenarnya banyak orang-orang yang menganggap isu yang kami angkat dari lagu-lagu VoB itu berat untuk dibahas. Misalnya isu soal toleransi atau perempuan, banyak yang beranggapan itu adalah sesuatu yang serius dan masih banyak juga orang yang takut untuk ikut membahasnya. Kami mencoba membuat agar isu-isu tersebut jadi lebih 'ringan' untuk dibicarakan lewat musik VoB. Karena musik telah menjadi bagian dari hidup kita dan didengar setiap hari, bukan? Serta sesuatu yang tidak terbatas pada usia dan kelas sosial. Jadi harapannya melalui musik kami, publik bisa lebih aware dengan isu-isu tersebut dan generasi setelah kami nanti tidak ikut merasakan kesulitan yang sekarang kita alami ini.


    Kalian pun kerap menguatkan statement tentang “perempuan yang merdeka”. Bagi kalian pribadi, bagaimana cara kalian memaknai menjadi perempuan yang merdeka di era modern ini?

    Bagi VoB memaknai perempuan yang merdeka itu adalah dengan tidak berhenti melakukan apa yang kita sukai dan inginkan dalam hidup. Serta tidak berhenti untuk mengejar apa yang menjadi mimpi kita. Karena sebenarnya ketika perempuan sudah berani memulai maka ia akan dihadapkan pada banyak stigma dan sterotype entah itu dari orang terdekat atau publik. Dan kita harus berusaha untuk tidak mengalah pada hal-hal seperti itu! Kita harus menjadi perempuan yang berani menjadi diri sendiri dan memiliki kebanggan diri.


    Selain lewat musik, adakah cara lain yang ingin kalian lakukan untuk semakin terlibat dalam gerakan mendorong sesama perempuan untuk jadi lebih berdaya dan maju?

    Kami sekarang lebih banyak mengangkat isu tentang sosial dan perempuan di media sosial seperti Instagram. Makanya kami juga membuat gerakan [NOT] PUBLIC PROPERTY agar para perempuan lebih berani bersuara terhadap diri dan tubuhnya. Karena jujur perempuan di beberapa daerah bahkan masih banyak yang takut untuk bertanya mengenai tubuhnya sendiri. Di beberapa tempat rasanya hal-hal tentang kesadaran diri dianggap sebagai hal yang tabu. Penjelasan yang masih sering diterima perempuan juga terkadang sering tidak benar, seperti mitos bahwa perempuan yang punya payudara besar itu yang tidak perawan. Akhirnya mitos-mitos itu justru membuat ketakutan tersendiri bagi para perempuan Indonesia. Kami memutuskan untuk lebih banyak membahas soal isu sosial dan perempuan agar lebih banyak pula orang yang mendengar dan aware terhadap hal tersebut.



    Marsya: Kemeja hitam (Bershka), Outer & Celana Pink (RAEGITAZORO). Sitti: Kemeja Pink (Zara), Outer (RAEGITAZORO), Celana (Bershka). Widi: Jaket Pink (RAEGITAZORO), Rok (Bershka).



    Apakah akhirnya ada banyak followers dan pendengar yang bercerita tentang kondisi mereka setelah mendengar musik VoB?

    Ya, ada beberapa... Yang membuat kami bahagia, beberapa dari followers VoB juga ada yang cerita bahwa mereka mulai ikut membuat band. Ada yang juga cerita setelah melihat VoB akhirnya mulai bermain band lagi karena sebelumnya mereka sempat berhenti setelah menerima banyak stigma negatif dari masyarakat.


    Setelah melihat keberanian dan semangat kalian dalam bermusik. Apa yang pesan kalian bagi para perempuan di luar sana yang masih sering ragu dan belum berani mengekspresikan diri sesuai keinginannya?

    Yang penting harus berani memulai dahulu! Kita juga harus percaya kalau yang paling tahu kemampuan kita, ya diri kita sendiri. Yang berhak berkata kita layak atau tidak dan yang paling harus kita percayai adalah diri kita sendiri.  


    Pasti ada banyak mimpi yang ingin kalian raih ke depannya. Apa mimpi terbesar kalian untuk VoB dan secara personal?

    Sitti: Kalau dari saya ingin agar kami memiliki alat yang lebih lengkap dan serius supaya manggungnya lebih nyaman lagi ke depannya. Terus ingin agar memiliki karya yang banyak, ingin bisa keliling dunia juga. Saya ingin agar VoB bisa ada di titik saat manggung di manapun, penontonnya sudah bisa saling nyanyi bareng lagu kami. 


    Marsya: Saya mimpinya ingin bisa rekaman sendiri di rumah. Jadi misalnya ada ide tertentu, bangun tidur bisa langsung rekaman karena memiliki alat rekaman sendiri. Terus ingin suatu saat bisa membawa keluarga ikut tur bersma. Soalnya kadang kalau tur itu sebenarnya seru dan tidak ingin pulang. Hanya saja kendalanya kadang saya suka kangen keluarga jadi ingin cepat pulang.


    Widi: Mimpi saya juga sama, ingin punya alat dan bass sendiri. Untuk VoB, saya ingin agar lebih banyak lagi lagu dan tabungan lagunya. Biar tidak perlu khawatir kalau tur. Semoga kami juga bisa lebih dikenal lagi oleh publik.


    Marsya: Kemeja hitam & Belt (Bershka), Gaun Biru (Zara). Widi: Atasan biru & Sweater (Zara), Celana Hitam (Bershka). Siti: Blazer (Zara), Atasan (Bershka), Rok (+J by Uniqlo).



    Di tahun 2022 ini, what’s next for you, girls?

    Harapan terbesar kami adalah ingin cepat-cepat punya album. Karena sebenarnya kami sudah ingin manggung dengan membawakan lebih banyak lagu VoB sendiri.


    Setelah delapan tahun meniti karier, apa pertanyaan yang kalian harap berhenti ditanyakan ke VoB?

    Pertanyaan-pertanyaan yang disangkut pautkan dengan keagamaan, misalnya: "Pakai hijab dan musik metal itu hubungannya apa?", "Terus kenapa bermain musik metal tapi kok pakai hijab?".

    Pertanyaan itu memang biasa datang dari media luar yang ingin mengulik soal hijabnya. Tapi kadang media lokal juga yang bertanya hal tersebut. Padahal buat kita sebenarnya itu pertanyaan yang cukup sensitif dan menganggu. Semoga kedepanya pertanyaan seperti ini berhenti ditanyakan ke kami. 



    Fotografer: Insan Obi
    Fashion Stylist: Astriana Gemiati
    Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang
    Teks: Giovani Untari / FT.
    Asst. Fashion Stylist: Haninadhira Husaini.
    Makeup: Marsya & Sitti: Shaluna Raditya (@shalunamakeup), Widi: Linda Kusumadewi (@linda_kusumadewi).