Better You

UOB Membahas Isu Kesehatan Mental Perempuan Bersama Dr. Jiemi Ardian

  by: Nadhifa Arundati       30/4/2022
  • Sebagai seorang perempuan tentu kita memiliki banyak sekali beban kehidupan yang diciptakan oleh stigma sosial atau bahkan pressure yang dibangun oleh diri sendiri. Oh, to be a woman! Perihal ini kita tentu tidak mendiskreditkan beban mental yang juga dimiliki pula oleh pria, namun jika kita melihat dari sudut pandang perempuan, keterbatasan dalam ruang sosial-lah yang menjadi pelatuk utama bagi kita, yang pada akhirnya mudah sekali terganggu kesehatan mentalnya.

    Calling out to all women! Tidak memandang apa profesi kamu—baik ibu rumah tangga atau career woman—kita semua punya hak kok untuk memperoleh kesehatan mental yang baik. But how? Yes, pertanyaan ini akan terus kita lontarkan sampai akhirnya menemukan titik yang tepat untuk mengelolanya. Tak mudah memang, but at least we could try together.

    Pada tanggal 21 April lalu, tepatnya saat Hari Kartini, UOB mengadakan virtual event yang bernama ‘Women It’s Okay To Not Be Okay’ bersama dengan YOLO Podcast (Iwet Ramadhan, Dave Hendrik, dan Novita Angie) dan Dr. Jiemi Ardian.





    Penejelasan seputar, “apa sih perbedaan kondisi stres dan normal?” Hal ini dijelaskan langsung oleh Dr. Jiemi Ardian, “yang disebut stres adalah mayoritas orang yang memiliki kondisi dengan beban hidup yang ‘terlalu’ menumpuk—contohnya: di satu sisi ia berperan sebagai ibu rumah tangga, namun juga sebagai tulang punggu keluarga inti dan juga keluarga besar—dan jika beban hidupnya sudah lebih besar lagi, sudah tak bisa dikatakan kalau ia memiliki kondisi yang normal.”

    Ada empat hal yang umumnya menjadi poin penting sebagai penggangu kondisi kesehatan mental perempuan, “yang pertama penderitaan yang sisinya sangat personal, kedua adalah hambatan saat kita melakukan aktivitas, ketiga munculnya pemikiran yang berbahaya, lalu yang ke-empat adanya perubahan perilaku secara signifikan,” ucap Dr. Jiemi, “yang pada akhirnya kesehatan mental kita memang akan memberikan dampak besar pada kesehatan fisik kita.”



    But again, it’s okay to not be okay! Memang terkadang rasa cemas atau stres muncul saat kita menumbuhkan pemikiran-pemikiran baru yang bersifat persepsi, lalu seakan-akan kita menilai bahwa persepsi tersebut adalah hal yang nyata, menjadi awal mula kemunculan overthinking. Menurut Dr. Jiemi, kuncinya adalah: kita perlu kembali ke situasi terkini, to stay at the present. “Kalau ada yang bisa dilakukan maka dilakukan, namun jika sesuatu yang menurut kamu tak bisa dilakukan maka lebih baik dilepaskan,” jelasnya. “menyadari bahwa, persepsi yang baru saja kita ciptakan itu bukan bagian dari realita, dan juga sebaliknya.”

    Tetapi kembali lagi jika kita membahas rasa cemas akibat pekerjaan multi-tasking yang sering sekali menghantui kehidupan perempuan. “Cobalah untuk lebih berani mengambil keputusan dengan melakukan single task terlebih dahulu, lalu atur waktu kembali untuk melakukan kegiatan lainnya, terapkan mindful living,” jawab Dr. Jiemi. Karena sejatinya kita memang bukan robot yang diatur oleh sistem, we still have to self-aware with our mental health.


    (Nadhifa Arundati / Image: Dok. PR)