Celebrity

Kamilla Andini And Big Dreams Come True

  by: Muhammad Hafizh       12/5/2011
  • Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pernah memahami peribahasa lama itu ladies? Well, agaknya berlaku juga di dunia perfilman tanah air. Bakat besar sang ayah, Garin Nugroho juga menurun ke anak perempuannya yakni Kamilla Andini. Gadis berusia 24 tahun ini adalah sutradara dari film yang mengangkat kehidupan suku Bajo, sebuah suku di Wakatobi yang hidupnya di atas air. Walaupun membawa nama besar sang ayah bukan berarti fun fearless female yang satu ini mendapat kemudahan dalam menyutradarai film pertamanya. ”Saya bukan siapa-siapa, harus meyakinkan orang lain bahwa saya mau membuat film,” tetapi perjuangannya tidak sia-sia, WWF Indonesia dan Pemda akhirnya mau membantu wanita yang juga mempunyai hobi diving ini untuk mewujudkan mimpinya melalui film The Mirror Never Lies.

    Awalnya Tidak Tertarik Dengan Dunia Film

    Wanita yang merupakan Bachelor of Arts (Media Arts & Sociology) dari Deakin University ini pada mulanya tidak tertarik dengan dunia perfilman lho, bahkan sewaktu kecil dia cenderung anti dan sebal karena orang lain selalu mengasosiakan dirinya dengan film dan profesi ayahnya. Semua stigma tersebut akhirnya berubah sewaktu dia menginjak usia remaja. Well, kepopuleran membuat film pendek di antara teman-teman sekolahnya membuatnya mulai membuka diri untuk mulai belajar tentang film. “Semua orang sebegitu kerasnya ingin belajar dari ayah saya, sedangkan saya yang hidup di rumahnya tidak tahu sama sekali,” tuturnya. Hmmm, akhirnya wanita yang juga hobi menulis ini mulai belajar dari sang ayah, mengenal apa yang sedang beliau buat, dan alasan kenapa dia mengerjakan hal tersebut. Melalui film dirinya menemukan hal baru, bahwa media tersebut sangat luas dan saling berhubungan. Mulai dari fotografi, penulisan, sampai dengan musik. “Saya jatuh cinta, karena saya merasa tertantang untuk melakukannya,” ucapnya.



    Inspirasi Dari Sang Ayah

    Sebagai seorang sutradara, Garin Nugroho yang juga merupakan ayahnya masih menjadi sosok inspirasi terbesar bagi Andini sebagai seorang sutradara. “Dia tahu saya tidak pernah tertarik dengan film sejak kecil, makanya dia sangat membebaskan saya,” jelasnya. Ayahnya selalu mendukung dirinya untuk melakukan passion yang dimiliki oleh sulung dari empat bersaudara ini seperti foto ataupun melukis. “Sewaktu dia tahu bahwa saya ingin berada di dunia ini, dia excited banget plus ada rasa khawatir juga sih.” Dalam perkembangan kariernya sebagai sutradara pun, sang ayah selain mendukung juga sangat membebaskannya untuk belajar film dari siapapun, termasuk dari film sang ayah sendiri. Salah satu film favorit Andini dari sang ayah adalah Surat Untuk Bidadari. Film yang bercerita mengenai kebudayaan Sumba dari sudut pandang seorang anak kecil membuat Andini kagum apalagi di zaman itu film Indonesia yang mengambil setting di pulau terpencil sangat jarang. ”Saya amazed banget sama kebudayaan yang dia potret dalam film itu.”

    Belajar Kehidupan Dari Kesederhanaan Suku Bajo



    Wanita pecinta travelling ini memilih kehidupan suku Bajo yang tinggal di Wakatobi menjadi tema film pertamanya. Keunikan suku Bajo yang merupakan satu-satunya suku di Indonesia yang tinggal di laut membuat Kamilla Andini mau agar masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih dalam cara hidup mereka yang berbeda. “Dari dulu sampai sekarang, semua orang tahu tentang Badui, tahu tentang Dayak, tetapi mereka tidak tahu tentang suku-suku yang tinggal di laut,” kata Andini. Adaptasi yang Andini dan kru lakukan di Wakatobi juga tidak mudah. “Mereka tidak pernah terpikir untuk hidup di darat, padahal daratan yang kosong kan banyak banget.” Pengalaman unik yang dialami dari bagaimana setiap hari harus tidur dengan lautan di bawah, makan ikan yang baru ditangkap dan berjalan di jalan sangat sempit dari bambu setiap hari, errr. Well, berbagai hal tersebut membuatnya banyak belajar, “Hidup di Jakarta itu demanding banget, bahwa saya butuh ini, butuh itu untuk hidup, padahal alam kita sudah kaya, apalagi yang kita butuhkan,” jelas Andini. “Kita yang tinggal di kota berusaha jadi kaya, padahal kita sudah punya itu semua.”

    Impian Terwujud Melalui Film Pertama

    Tidak berpengalaman dalam membuat film menjadikan tantangan terbesar Andini adalah mendapatkan kepercayaan dari kru. “Semua kru jauh lebih berpengalaman dari saya, tantangan terbesarnya bagaimana membuat mereka percaya kepada saya.” Untuk itu Andini belajar banyak dari mereka untuk mewujudkan mimpinya. “Mereka ada di sana untuk membangun mimpi saya.” Gadis kelahiran Jakarta, 6 Mei 1986 ini mengakui membuat film ini agar masyarakat Indonesia mengenal kekayaan negaranya sendiri. “Apalagi di dunia yang sudah terlalu western minded, it's time to back to our root,” tuturnya. Oleh karena itu mimpinya untuk perfilman Indonesia ke depannya adalah peran film bukan hanya untuk entertainment saja, tetapi merupakan media terbesar untuk menyampaikan sesuatu tentang tema-tema besar yang menyangkut kepentingan orang banyak, untuk mengutarakan banyak hal tentang betapa rusaknya lingkungan kita. So, dengan film The Mirror Never Lies ini Kamilla Andini berhasil menyampaikan hal tersebut. Congrats!