Lifestyle

Cinta Tak Perlu Banyak Bicara

  by: Redaksi       2/5/2013
  • What They Don't Talk About When They Talk About Love (selanjutnya akan Cosmo sebut Don't Talk Love) merupakan film Indonesia pertama yang diikutsertakan dalam festival film independen paling bergengsi di dunia, Sundance Film Festival. Bersaing di kategori World Dramatic Competition, film kedua karya sutradara muda Mouly Surya ini mengisahkan kisah cinta tak biasa yang terjadi di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).

    Dua karakter utama dalam film ini adalah Diana (diperankan oleh FFF Cosmopolitan 2012, Karina Salim) dan Fitri (Ayushita Nugraha). Mereka menderita gangguan penglihatan: Diana memiliki rabun jauh, ia hanya mampu melihat sesuatu yang berjarak satu inci di depan matanya, sedangkan Fitri sejak lahir sudah kehilangan kemampuannya melihat alias tuna netra. Keduanya sedang melalui masa-masa romantika cinta remaja, yang tentunya butuh perjuangan ekstra mengingat kondisi fisik mereka. Dengan cerdas Mouly mengajak para penonton ikut memahami bagaimana penderita tuna netra yang sedang jatuh cinta, bagaimana mereka merasakan cinta lewat sentuhan, suara, dan bahasa tubuh. Mengutip salah satu dialog di film ini, “Pria jatuh cinta dengan apa yang mereka lihat dan perempuan jatuh cinta dengan apa yang mereka dengar.” Yang membuat Cosmo tambah jatuh hati dengan film ini adalah, tak sedikitpun penderita tuna netra ini terlihat sebagai objek untuk dikasihani. They're just like other normal people who desire love.

    Diana yang lembut dan pemalu diam-diam jatuh hati pada Andhika (Anggun Priambodo), pemuda tuna netra yang kebetulan satu kelas dengannya. Segala cara ia coba untuk memikat perhatian Andhika yang selalu terlihat cuek, termasuk dengan membeli sebotol parfum. Berbeda dengan Diana, Fitri memiliki kepribadian yang lebih ceria dan terbuka. Ia bercita-cita ingin menjadi aktris dan berharap hantu dokter penghuni area kolam renang di SLB tersebut bisa membantunya. Mengetahui obsesi Fitri terhadap sosok hantu dokter yang sebenarnya rekaan tersebut, Edo (Nicholas Saputra) - pemuda tuna rungu yang agak bengal dan diam-diam naksir Fitri – pun menyamar menjadi hantu dokter untuk mendekati gadis cantik tersebut. Setiap malam mereka bertukar cerita melalui surat yang diselipkan di gerbang kolam renang. So romantic.



    Meski tak mengumbar banyak dialog, sinematografi dan adegan-adegan yang cukup mendetail (beberapa bahkan sangat sensual) dalam film Don't Talk Love ini begitu menghanyutkan dan terkadang menyentuh. Diperkuat lagi dengan soundtrack dan score yang bisa dibilang cukup quirky dari Zeke Khasali. Ia berhasil menyulap lagu lawas Burung Camar dan Twinkle, Twinkle, Little Star menjadi sangat related dengan pergulatan emosi masing-masing karakter dalam film ini. Jika Anda mencintai film Indonesia, then definitley it's a must-see! (Imron Ramadhan/VP/Image: doc. Cinesurya)