Better You

5 Mitos Tentang Pil KB yang Ternyata SALAH!

  by: Adya Azka       16/5/2015
  • Hingga saat ini, pil KB dianggap sebagai alat kontrasepsi paling efektif. Namun, masih banyak mitos yang beredar tentangnya. Hal ini dapat membuat Anda tersesat dalam menggunakan pil KB dan berakhir pada hasil yang tidak memuaskan. Apa saja mitos yang dapat dipercaya dan apa yang tidak? Simak hal-hal di bawah ini.

    Mitos #1: Pil KB Pasti Membuat Gendut

    Efek pil KB yang membuat gendut mungkin telah membuat Anda berpikir dua kali untuk menggunakannya. Padahal, efek ini sangat tergantung dari resep yang diberikan dokter. Pada tahun 2011, hasil analisa dari Cochran Database System Review menunjukkan tidak adanya bukti bahwa pil KB menyebabkan kenaikan berat badan. Namun, efek plasebo sebuah obat berbeda-beda pada setiap tubuh. JIka khawatir dengan hal ini, sebaiknya konsultasikan kepada dokter ginekolog Anda.



    Mitos #2: Pil KB Harus Diminum di Jam yang Sama Setiap Hari

    Beberapa orang pernah mengatakan, agar memperoleh hasil yang lebih efektif, pil KB harus diminum di jam yang sama setiap hari. Namun, Vanessa Cullins, M.D., Wakil Presiden External Medical Affairs at Planned Parenthood, mengatakan hal tersebut tidak memberikan pengaruh apapun. Mitos ini hanya berlaku jika Anda menggunakan mini-pil yang hanya mengandung hormon progestin saja.

    Mitos #3: Pil KB Mengganggu Kesuburan Jangka Panjang

    Kenyataannya, berhenti meminum pil KB dapat membuat Anda segera hamil. Hormon yang terkandung dalam pil KB memang membutuhkan waktu 6-9 bulan untuk keluar dari tubuh. Akan tetapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan akan kehamilan. Mary Jane Minkin, M.D., profesor klinis kebidanan dan ginekologi di Yale University School of Medicine memastikan bahwa pil KB tidak akan mengganggu kesuburan Anda.



    Mitos #4: Tubuh Harus Sesekali Lepas dari Pil KB

    Satu-satunya alasan untuk “berlibur” dari pil KB adalah jika Anda berencana untuk hamil. Selain itu, Anda boleh menggunakan pil KB selama yang diinginkan. Satu-satunya pil KB yang menjadi pengecualian adalah suntikan kontrasepsi Depo-Provera. Jenis kontrasepsi ini dapat menyebabkan berkurangnya kepadatan mineral tulang yang mengakibatkan osteoporosis. Jenis kontrasepsi ini hanya boleh dilakukan setiap 2 tahun sekali.

    Mito #5: Metode IUD Hanya untuk Wanita yang Memiliki Anak

    Alasan adanya mitos ini adalah beberapa bentuk IUD (seperti Mirena dan ParaGuard) umumnya direkomendasikan untuk wanita yang telah melahirkan. Ini karena leher rahim dan rahim sedikit lebih besar setelah melahirkan dan membuat implantasi lebih nyaman. Namun, IUD baru disebut Skyla hadir dengan ukuran sedikit lebih kecil serta memiliki dosis hormon yang rendah sehingga cocok untuk wanita yang belum memiliki anak. Metode ini juga 99% lebih efektif untuk mencegah kehamilan. Jadi, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan metode ini sebagai pilihan alat kontrasepsi Anda. (Hana Devarianti/VP/Image: Stockbyte/Stockbyte/Thinkstock)