Better You

Alasan Mengapa Menolong Orang Lain Baik untuk Kesehatan

  by: Adya Azka       23/5/2015
  • Menjelang bulan puasa tentu kesabaran Anda akan kembali diuji. Tapi ingat, dear: puasa tak berarti mengikuti ritual semata atau menguji ketahanan kita menahan lapar semata, tapi lebih supaya kita juga mampu melepaskan diri dari godaan duniawi dan merasakan “penderitaan” orang yang kurang beruntung daripada kita. It’s called Compassion, and here’s what you need to know...

    Menolong Bisa Menguatkan Tubuh Anda
    Meskipun ekspresi compassion (atau belas kasihan) terasa lebih eksternal, tapi ternyata hal ini memiliki efek baik terhadap kesehatan juga, lho. David McClelland, seorang psikolog dari Harvard University, pernah menampilkan foto-foto Mother Teresa bersama warga Calcutta yang penyakitan dan miskin kepada murid-muridnya. Setelahnya McClelland menganalisa reaksi yang ditimbulkan: ternyata rasa belas kasihan dari para muridnya menjadi katalis atas peningkatan immunoglobulin-A, sebuah antibodi yang dapat membantu mencegah infeksi saluran pernapasan. Sedangkan berdasarkan studi James House dari University of Michigan Research Center, membuktikan kalau compassion dapat memperbaiki kualitas—dan melanggengkan masa hidup manusia. Amazing, right?

    Menolong Bisa Menguatkan Tubuh Anda
    Well, yang satu ini tentu sudah jelas ya, tapi betapa memang perlu ditekankan: act of compassion akan menciptakan kesehatan emosional yang jauh lebih baik, menimbulkan rasa bahagia, dan mencetuskan state of mind yang lebih tenang. Sebuah studi yang dilakukan selama 30 tahun akan para lulusan dari Harvard menunjukkan kalau 90 persen dari mereka yang terlibat dalam volunteerism memiliki kepribadian yang lebih hangat, lebih berenergi, dan self-worth yang lebih signifikan. All you need to be a better person.





    Bagaimana Memulainya?
    Dalam buku The Art of Happiness, sang penulis, Howard C. Cutler, M.D., mewawancara Dalai Lama yang memberikan tip berikut untuk membangun rasa compassion dalam diri kita semua: “Mulailah bermeditasi, dan bayangkanlah seseorang yang tengah menderita, tengah kesakitan. Selama tiga menit cermatilah penderitaan orang tersebut—tentang apa yang ia rasakan dan pikirkan. Setelahnya, sadarilah betapa orang tersebut sebenarnya memiliki kapasitas untuk merasakan rasa sakit, amarah, bahagia, dan kesenangan sama seperti Anda. Maka cobalah membangkitkan dan mengarahkan rasa compassion Anda ke orang tersebut, di mana Anda berharap ia bisa bebas dari penderitaan. Lalu buatlah resolusi Anda akan senantiasa membantu mereka yang kurang beruntung bebas dari segala penderitaan.” Let’s start practising, ladies! (Sahiri Loing / SW / Image: iStock / Thinkstock)