Love & Sex

6 Tanda Anda Takut Berkomitmen

  by: Redaksi       22/5/2017
  • Semua wanita pasti ingin menemukan sang pria idaman, menikah, berkeluarga, and live happily ever after. Benar? Hmm, ternyata belum tentu juga. Ketika Anda kesulitan mencari the one melalui hubungan-hubungan jangka pendek, mungkin ini saatnya Anda bertanya, “apa saya memiliki commitment issues?”

     

    Silly Little Things



    Apa alasan hubungan terakhir Anda berakhir? Jika jawaban Anda: “habisan dia sering telat balas chat,” Cosmo yakin ada alasan yang lebih besar dari itu. Bukan rahasia bahwa pasangan sering bertengkar mengenai hal-hal sepele, tapi tidak sampai dijadikan alasan untuk mengakhiri hubungan tersebut. Jika terus memakai hal kecil sebagai alasan putus, Anda tidak hanya akan kesulitan menjalani long-term relationships, tapi bisa saja melewatkan pria terbaik.

     

    It's Complicated

    Sebagian besar hubungan Anda tidak memiliki status alias it's complicated. Anda tidak pernah meresmikan sebuah hubungan dan selalu menghindar jika perbincangan Anda mengarah ke situ. Kata “kekasih” atau “pacar” membuat bulu kuduk Anda berdiri, apalagi menganggap dia sebagai boyfriend. Dear, para pria juga butuh konfirmasi lho. Mereka pun tidak suka berjalan tanpa arah.

     

    Family and Friends Off Limits

    Selama berkencan dengan sang kekasih, Anda tidak pernah mengenalkannya pada keluarga atau teman. Mungkin karena Anda sadar (atau tidak sadar) bahwa tahap ini memang langkah yang agak besar. Jika orang tua dan bestie kenal dengan pria ini, hubungan Anda otomatis jadi semakin real dan serius. And that scares you.

     



    Zero Plans

    Ketika si dia mengajak Anda ke pernikahan kakaknya yang masih tiga bulan mendatang, Anda langsung berpikir untu kabur. Anda tidak berani membuat rencana kencan lebih dari satu minggu ke depan, karena Anda pun tidak yakin apa bisa memberikan si dia komitmen tersebut. Padahal sang kekasih sudah memberikan sinyal ingin melangkah maju, Anda yakin tidak ingin bertemu di tengah dengannya?

     

    The Past = The Future

    Anda menjadikan masa lalu sebagai patokan apa yang akan terjadi di masa depan. Karena pernah mengalami beberapa hubungan yang buruk, Anda percaya bahwa semua hubungan di kemudian hari akan berakhir sama. Biarkan yang lalu jadi pembelajaran, tapi jangan memegangnya terlalu erat. Secara tidak sadar, Anda melakukan sabotase agar semua hubungan tersebut berakhir sebelum dapat dimulai.

     

    “I'm Busy”

    Anda menganggap sebuah hubungan sebagai penghalang. Girls night out jadi berkurang, pekerjaan jadi kurang fokus, dan Anda jadi jarang ke gym. Maka dari itu, Anda memutuskan bahwa Anda terlalu “sibuk” untuk berkencan. Ketika berada dalam suatu hubungan yang Anda sayangi, pasti ada beberapa pengorbanan yang harus dilakukan. Tapi ia tidak akan mengambil waktu Anda selama 24 jam kok. Justru, Anda bisa melakukan kegiatan favorit bersama dia. Terdengar fun, bukan? Open your hearts, ladies. (Sky Drupadi / SW / Image: Doc.)