Better You

Hari Lupus Dunia, Ini 9 Fakta Yang Harus Kamu Tahu!

  by: Alexander Kusumapradja       10/5/2018
  • Ladies, setiap tahunnya tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Kamu mungkin bertanya mengapa penyakit ini sampai harus mendapat hari spesial? Well, karena mungkin awareness masyarakat terhadap penyakit ini memang belum setinggi perhatian kepada penyakit lain seperti kanker, diabetes, atau AIDS. Padahal, penyakit yang dalam bahasa medis disebut sebagai systemic lupus erythematosus ini juga tak kalah mematikan dibanding penyakit-penyakit kronis tersebut. Even scarier, penyakit lupus ini lebih rentan menyerang kaum perempuan dibanding laki-laki dengan perbandingan 9:1 dan disebut sebagai salah satu penyebab kematian terbesar bagi para perempuan di usia produktif. Masih mau cuek saja? Yuk, simak beberapa fakta tentang penyakit lupus di bawah ini. 




    1. Merupakan penyakit autoimun kronis

    Sama seperti HIV dan AIDS, lupus adalah penyakit autoimun kronis yang berakar dari sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, kalau sistem kekebalan tubuh penderita HIV dan AIDS itu lemah atau tidak berfungsi, sistem kekebalan pada penderita lupus justru sangat aktif dari kondisi normal. Akibatnya, bukannya melindungi tubuh kita dari organisme asing seperti virus dan bakteri, sistem kekebalan tubuh justru ikut menyerang sel-sel, jaringan, dan organ tubuh lain yang sehat. Hal itu menyebabkan peradangan dan komplikasi pada organ-organ tubuh kita, khususnya kulit, darah, sendi, dan ginjal.

    Baca juga: Cara Mudah Memperkuat Sistem Imun Tubuh


    2. Bukan penyakit menular

    Satu perbedaan utama dengan HIV dan AIDS, penyakit lupus tidak menular. Hanya 10% penderita lupus yang punya anggota keluarga yang juga punya penyakit lupus. Dan hanya 5% anak-anak yang lahir dari penderita lupus yang berisiko mengidap lupus.


    3. Disebut sebagai penyakit “1000 Wajah”

    Penyakit lupus juga disebut penyakit “1000 Wajah” karena gejalanya sering “menyamar” sebagai penyakit lain dan berbeda-beda di setiap orang. Hal itu membuat tim medis sulit mengenali lupus dan butuh waktu serta tes untuk mendiagnosa. Gejala umum yang bisa ditemukan pun terkadang mirip seperti penyakit ringan pada umumnya seperti sakit kepala, nyeri sendi, demam, atau anemia. Gejala yang lebih jelas adalah rambut rontok, jari-jari yang memucat ketika dingin, sariawan di mulut, sensitif terhadap cahaya matahari, hingga ruam kemerahan pada bagian pipi dan hidung yang membentuk pola seperti kupu-kupu.


    4. Simbol kupu-kupu ungu

    Sebagai bentuk awareness, kupu-kupu berwarna ungu terpilih menjadi simbol bagi penyakit lupus dan penderitanya. Hal itu mewakili pola ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu (butterfly rash) yang umum terlihat pada penderita lupus sekaligus menggambarkan harapan bagi para penderita lupus.


    5. Penyebabnya masih belum diketahui

    Walaupun faktor genetika kerap disebut sebagai penyebab lupus, namun beberapa penelitian juga mengungkapkan faktor-faktor eksternal seperti infeksi, penggunaan obat antibiotik, obat-obatan berbahan sulfa, sinar ultraviolet baik dari cahaya matahari maupun lampu, hingga stres dapat memicu lupus.



    6. Jumlah penderitanya terus bertambah

    Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jumlah penderita lupus di dunia saat ini mencapai 5 juta orang. Sedangkan menurut data Sistem informasi Rumah Sakit (SIRS) Online 2016, terdapat 2.166 pasien rawat inap di Indonesia yang didiagnosis lupus. Angkat tersebut meingkat dari tahun 2014 yang sebesar 1.169 kasus.


    7. Penderita terbesar adalah perempuan

    Wanita berisiko 10 kali lebih besar menderita lupus dibanding pria, khususnya yang berasal dari kelompok usia produktif (15-50 tahun). Gejala lupus umummnya berkembang di umur 18 sampai 45 tahun. Penyakit lupus juga cenderung menyerang orang dari ras Asia, Hispanik, dan Afrika dibanding orang kulit putih (Kaukasia). Beberapa artis yang pernah dilaporkan mengidap lupus adalah Selena Gomez, Lady Gaga, dan Paula Abdul. Namun, lupus pun bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Data SIRS Online 2016 menunjukkan jumlah pasien rawat inap lupus berjenis kelamin laki-laki mengalami peningkatan, dari 48,2 persen pada 2014 menjadi 54,3 persen pada 2016. Sedangkan pasien lupus berjenis kelamin perempuan mengalami penurunan dari 51,8 persen menjadi 45,7 persen.

    Baca juga: Penyakit yang Lebih Rentan pada Wanita Dibandingkan Pria


    8. Belum ditemukan obatnya

    Sampai saat ini memang masih belum ditemukan obat yang bisa mengobati lupus sepenuhnya. Lupus umumnya menyebabkan orang meninggal muda akibat komplikasi gagal ginjal, stroke, atau serangan jantung. Namun dengan perawatan dan terapi yang tepat, para penderitanya bisa menjalani hidup selayaknya orang normal. Terkadang, musuh utama dari penyakit ini justru dari sisi psikis penderitanya sendiri. Bila penderita lupus kehilangan semangat dan merasa frustrasi atau depresi pada kondisinya, hal itu akan berpengaruh buruk pada kesehatannya.


    9. Pola hidup sehat sebagai pencegahan lupus

    Kita mungkin tak pernah tahu penyakit apa yang mungkin datang menyerang kita. Namun, selayaknya penyakit lain pada umumnya, ada beberapa cara untuk meminimalkan risiko datangnya penyakit dengan pola hidup yang lebih sehat. Beberapa saran untuk mencegah timbulnya lupus adalah dengan berolahraga teratur, tidak merokok, cukup tidur, melindungi kulit dari paparan sinar ultra violet, memerhatikan pola makan, dan menjauhi depresi.


    (Image: doc. Instagram @selenagomez)