Lifestyle

Cerita 6 Penulis Perempuan Tentang Hari Buku Nasional

  by: Alexander Kusumapradja       17/5/2018
  • Selain menjadi hari pertama puasa tahun ini, tanggal 17 Mei juga dikenal sebagai Hari Buku Nasional yang sekaligus memperingati peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di tahun 17 Mei 1980 silam. Sering juga disebut sebagai Hari Literasi, tanggal khusus ini menjadi momen yang pas untuk bicara tentang dunia sastra Indonesia saat ini.

    Seperti dua kutub yang kontras, menyoal Hari Buku Nasional tak bisa lepas dari masalah minimnya minat baca di Indonesia yang kabarnya hanya 0,01 persen. Riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di tahun 2016 menunjukkan Indonesia sebagai peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya. Indonesia hanya lebih unggul dari Botswana dan kalah jauh bila dibandingkan peringkat 5 teratas yang didominasi negara-negara Eropa Utara seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.

    Di sisi lain, kita pun sadar bahwa Indonesia punya sejarah panjang yang harum akan karya-karya legendaris serta eksistensi Indonesia di berbagai pameran buku internasional seluruh dunia. Begitupun dengan bermunculannya nama-nama baru dengan karya-karya menarik yang patut kita dukung. Untuk merayakan Hari Buku Nasional tahun ini, Cosmo berbincang dengan enam penulis perempuan Indonesia tentang karya, inspirasi, dan harapan mereka dalam dunia literatur lokal. 





    Ayu Meutia Azevy

    “Menulis adalah kebutuhan untukku, baik untuk berekspresi, mengenal diri hingga menyembuhkan diri,” ungkap penulis kelahiran Palembang, 26 tahun yang lalu ini. Di samping itu, menulis pun menjadi sarana berkarya di luar pekerjaan sehari-harinya sebagai copywriter di sebuah agensi iklan digital. Selain menjadi salah satu pendiri komunitas puisi, Unmasked Open Mic, hasil tulisan Ayu telah dikumpulkan menjadi antologi puisi berjudul Tigress yang diperkenalkan di Ubud Writers and Readers Festival 2016.

    Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu? 

    Dee Lestari, Laksmi Pamuntjak, Debra Yatim, Theoresia Rumthe, Weslly Johannes, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, Okky Madasari.

    Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Saya rekomendasikan Kerumunan Terakhir dari Okky Madasari karena menurut saya ceritanya sangat relevan dengan apa yang terjadi di zaman digital ini. Banyak orang berlomba-lomba mencari ketenaran lewat media sosial dan menjadi sosok yang berbeda dari dunia sebenarnya. 

    Di Hari Buku Nasional ini, bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

    Makin banyak penulis yang percaya diri untuk menelurkan karya mereka, baik melalu jalur independen atau mainstream, dalam genre apapun. Ini membuat banyak ragam karya yang bisa kita baca dan memeriahkan dunia sastra, sehingga bisa menambah pengetahuan dan menggerakan minat orang banyak untuk menulis dan membaca.

    Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

    Beberapa buku sudah dibaca dalam format digital, namun aku lebih suka buku biasa karena bisa disimpan, dipegang, dan ada nikmat tersendiri seperti mencium wangi buku, menurutku itu spesial.

    Apa proyekmu selanjutnya?

    Aku seperti biasa mengisi acara puisi di komunitas-komunitas kalau diminta dan bersama teman-teman menyelenggarakan panggung puisi Unmasked Open Mic secara berkala. Selain itu aku berniat mengumpulkan puisi-puisiku untuk jadi antologi puisi kedua.



    Theodora Sarah Abigail

    Lahir di Jakarta, 3 April 1998, sejak kecil penulis yang akrab dipanggil Ebi ini sudah gemar menulis apa saja yang bisa ia pikirkan dan rasakan dari sekitarnya, mulai dari Pokemon, pepohonan, hingga cerita tentang putri-putri dari kerajaan asing. Melihat minatnya, sang ibu pun memberikan sebuah buku jurnal yang harus diisi olehnya dua halaman per hari. Sempat kesal karena merasa diharuskan menulis, perlahan ia pun terbiasa dan justru menikmatinya. Kini, di tengah kesibukannya sebagai stay at home mom dan manajer untuk sebuah komunitas pendiri startup di Asia Tenggara, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Tulisannya bisa kamu nikmati dalam antologi puisi Warchild (2016) serta kumpulan esai personal In the Hands of a Mischievous God (2017) yang diterbitkan oleh The Comma Books. 

    Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

    Sebenarnya, buku pertama yang aku baca adalah Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan. Tapi bukan edisi Bahasa Indonesianya—I read the translation. Setelah membaca terjemahannya, aku sangat tersentuh dengan caranya bercerita lalu aku pun membaca versi aslinya dalam Bahasa Indonesia, karena aku yakin it must have been a hundred times more beautiful.

    Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

    Leila Chudori dan putrinya, Raka Ibrahim, Eka Kurniawan, Madina Malahayati, dan Goenawan Mohamad untuk alasan masing-masing. Dan kalau boleh menyebut musisi lokal, karena aku merasa banyak band punya lirik yang indah, aku akan menyebut Payung Teduh, NAIF, dan The Panturas sebagai favoritku juga. 

    Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Ya ampun… Pertanyaan yang sangat, sangat sulit untuk dijawab. Bukan salah satu penulis tapi salah satu buku ya? Hmm aku akan merekomendasikan Laut Bercerita oleh Leila Chudori karena aku merasa buku ini adalah salah satu contoh terbaik dari literatur Indonesia modern yang kita punya saat ini. 

    Di Hari Buku Nasional ini, bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

    Dunia sastra Indonesia masih terus berkembang. Comma Books misalnya dibentuk sebagai anak Kepustakaan Populer Gramedia dengan fokus pada karya literary, dan aku berharap semakin banyak penulis muda yang terinspirasi untuk membagikan cerita mereka. Aku percaya dunia sastra Indonesia tidak akan maju kalau tidak didukung oleh sekolah. Aku berharap sekolah bisa mendorong siswanya untuk mempelajari karya-karya klasik di dunia sastra Indonesia sehingga mereka terekspos pada keindahan kata dalam karya penulis lokal. Aku pun berharap nantinya orang tidak harus selalu memburu karya sastra dari luar negeri karena mereka sudah jatuh cinta dengan karya para penulis lokal. 

     Apa rencanamu selanjutnya?

    Doain ya, aku ingin menerbitkan buku baru sekitar tahun depan. Kalau mimpi jangka panjangnya, aku ingin membangun beberapa perpustakaan di Indonesia agar orang punya kesempatan untuk membaca buku dan punya mimpi yang sama seperti yang aku punya waktu kecil dulu.  



    Ni Made Frischa Aswarini

    Mengaku mudah lupa, menulis adalah cara penulis asal Bali ini agar lebih mudah mengingat sekaligus cara yang paling menyenangkan untuk berbagi. Catatan rasa dan emosi tersebut pun mewujud ke dalam bentuk puisi yang telah terbit dalam berbagai media cetak dan antologi puisi kolektif. Feminin namun mencengkeram, tulisannya juga telah terangkum dalam antologi puisi Tanda Bagi Tanya yang terbit tahun lalu. Saat ini, di samping sedang menyelesaikan satu buku non-fiksi dan mencoba menulis skenario film, ia pun kerap menemui orang-orang tua untuk penelitian. “Beberapa di antaranya pernah ikut perang, ada juga seniman dan saksi peristiwa tertentu. Rasanya menarik melihat masa lalu dari ingatan mereka dan bagaimana para sepuh ini berdamai dengan itu semua,” tukasnya. 

    Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

    Antara Sajak-sajak Sepatu Tua WS. Rendra atau Saman Ayu Utami. Keduanya aku baca bergiliran dengan kawan-kawan waktu SMP.

    Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

    Selain yang kusebutkan tadi, tentunya ada banyak nama lainnya ya, tapi yang segera terlintas di pikiranku itu Sitor Situmorang, Chairil Anwar, Sapardi, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, Mochtar Lubis, Budi Darma, Ignas Kleden—kalau yang lebih muda—Intan Paramaditha, Yusi A. Pareanom, Eka Kurniawan, Vivi Lestari, dan sekian nama lain.

    Kalau harus memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Wah, susah sekali harus memilih satu. Barangkali aku rekomendasikan buku yang diluncurkan baru-baru ini yakni kumpulan puisi Vivi Lestari Ovulasi yang Gagal. Buku ini diterbitkan setelah penyairnya berpulang beberapa bulan lalu. Puisi Vivi kerap menyuarakan pengalaman perempuan dengan berbagai kompleksitasnya. Kendati sarat dengan berbagai ide dan sengaja memakai metafora dari beragam kultur, sejumlah puisi Vivi tidak sesak oleh makna, ia masih membiarkan kata dan imajinasi bebas mengalir. Aku suka beberapa sajak dalam antologi ini dan suara perempuan yang ia hadirkan layak mendapat tempat dalam dunia kesenian kita.

    Di Hari Buku Nasional ini, bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

    Ada sekian buku baru, karya-karya menarik berbahasa daerah, bahasa Indonesia maupun Inggris yang ditulis oleh pengarang kita dengan macam-macam tema, suara dan gaya penulisan. Penerbitan pun makin ramai sekarang. Aku kira ini cukup membuat kita bersemangat mengikuti perkembangan sastra di Indonesia saat ini.

    Harapan ke depan, sebagai mantan murid sekolahan, senang sekali kalau sastra lebih diapresiasi di kelas-kelas, tentunya dengan judul karya dan pengarang yang lebih beragam. Selain itu, keberadaan lembaga atau pihak tertentu yang serius mengelola dokumentasi karya-karya sastra juga kupikir penting, bagaimanapun ini hasil kerja intelektual yang layak diarsipkan. Lainnya, aku rasa kita semua sepakat, kritik sastra dan penerjemahan harus semakin sering dilakukan. 

    Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

    Ya, sudah cukup lama aku baca buku digital karena lebih murah dan praktis, terlebih saat bepergian, cukup bawa handphone atau tablet. Walau begitu, buku cetak masih lebih asyik digenggam, bisa dicium baunya, dicolek, dan dicorat-coret seenaknya, hehe.





    Lala Bohang

    Bagi perempuan kelahiran Makassar ini, menulis dan menggambar bisa dibilang berperan sebagai personal cope mechanism. “Sejak kecil saya dekat dengan dua aktivitas tersebut, basically saya tidak berubah sejak anak-anak. I am such a boring person,” akunya. Memadukan pemikiran dan perasaan personalnya ke dalam bahasa visual dan kata, Lala yang lebih dulu dikenal sebagai ilustrator telah merilis buku berjudul The Book of Forbidden Feelings (2016) dan sekuelnya, The Book of Invisible Questions (2017). Mengidolakan Umar Kayam dan Marianne Katoppo, saat ini ia tengah merawat metabolisme tubuh dan berusaha menikmati hidup sambil menyemangati diri untuk melakukan eksplorasi atas teks dan gambar.

    Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

    Entah kenapa Opa saya selalu membelikan buku-buku karangan penulis luar waktu kecil, seperti dongeng-dongeng klasik dan Enid Blyton. Saya ingat pertama kali baca buku penulis lokal adalah di perpustakaan sekolah saya di SD Karuna Dipa di Palu, Sulawesi Tengah judulnya Memungut Telur Itik Sambil Menyanyi karya Siti Halimah berkisah tentang satu keluarga yang memelihara itik dan ayam karena mereka yakin itik-itik yang mereka ternakkan itu akan menghasilkan uang dan memberi vitamin dan protein untuk mereka. Entah kenapa saya terkesima sekali dengan buku itu, baik dari sisi cerita dan ilustrasi yang menemani. Bahkan saya mengambilnya diam-diam dari perpustakaan (jangan dicontoh!) karena buku itu tidak dijual bebas dan saya masih menyimpannya hingga sekarang. 

    Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer. Saya terlambat membaca buku ini yaitu di usia dewasa, itu mengesalkan sekali. Hal itu membuat saya berandai kalau saja kurikulum pendidikan di Indonesia membuat daftar buku yang wajib dibaca di setiap jenjang pendidikan maka Bumi Manusia (dan otomatis Tetralogi Buru) akan ada di urutan pertama karena ceritanya sangat relevan hingga sekarang dan kapanpun, baik itu kelebihan atau kekurangan orang Indonesia, nasionalisme, feodal berbalut kapitalisme, kepemimpinan, dan hal sederhana seperti membedakan baik dan benar atau mendengarkan hati nurani. The realness level of bumi manusia Indonesia dengan segala polemiknya terlalu tinggi untuk disanggah.

    Di Hari Buku Nasional ini, bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

    Saya lebih senang menyebutnya dunia literasi, karena terasa inklusif. Literasi hari ini di Indonesia semakin beragam warnanya dan melihat hal itu menyenangkan. Cara hidup dan metode bertahan manusia terus tumbuh dan sudah sewajarnya semua lini kultur juga tumbuh. Harapannya semua akan semakin cair, antar penulis, antar pembaca dan penulis, antar genre, antar penerbit dan penulis, antar penikmat dan penghasil karya, antar manusia. 

    Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

    Saya sempat struggling dengan kepemilikan atas benda gara-gara virus Marie Kondo. Saya sepakat dengan prinsip “benda adalah beban” tapi memang hidup ini tidak bisa berhenti membeli barang. Jadinya sekarang saya lebih menimbang dalam membeli benda termasuk buku. Tapi memang sulit. Saya membaca buku digital untuk buku-buku yang memang tidak dijual di Indonesia tapi untuk buku yang bisa didapatkan di Indonesia saya lebih memilih membeli versi cetak terutama karya penulis Indonesia.

    Apa proyek selanjutnya dari kamu?

    Try to unlearning everything dan menyelesaikan si bungsu dari series “The Book of…



    Rain Chudori

    Dunia literatur telah menjadi bagian besar dalam diri penulis kelahiran Jakarta, 24 tahun lalu ini sejauh yang ia ingat. Kakeknya adalah jurnalis, ayahnya kurator, dan ibunya adalah penulis. Maka, menulis bagi Rain adalah hal paling natural yang bisa terjadi dalam hidupnya. Sejak belia, karyanya telah tersebar di berbagai publikasi dan sudah terangkum dalam Monsoon Tiger and Other Stories (2015) serta Imaginary City (2017). Saat ini ia menjalankan perannya sebagai kurator untuk Comma Books, lini terbaru Penerbit KPG yang mempublikasikan karya-karya penulis muda, dan aktif menjadi pembicara dalam seminar, diskusi, dan workshop

    Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

    Banyak sekali, tapi yang baru-baru ini saya baca adalah Raka Ibrahim, Theodora Sarah Abigail, Isyana Artharini, Anya Rompas, Waraney Rawung, Laksmi Pamuntjak, Avianti Armand, Joko Pinurbo, dan tentu saja kalau all time favorite adalah karya orangtua saya. 

    Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Saya baru saja membaca lagi In The Hands Of A Mischievous God oleh Theodora Sarah Abigail, yang merupakan penulis yang sangat berbakat sekaligus teman baik saya. Bukunya ini adalah kumpulan esai tentang identitas, rumah, cinta, kehilangan, dan bagaimana menavigasi dunia yang kadang indah kadang kacau ini sebagai perempuan. 

    Di Hari Buku Nasional ini, bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

    Dahulu, hanya segelintir penulis perempuan yang karyanya diterbitkan, mendapat kritik yang bagus, sekaligus laris di pasaran. Sekarang ini ada ruang yang lebih besar bagi perempuan di dunia literatur lokal. Namun, hal itu saja tidak cukup. Kita juga harus membicarakan tentang konteks menulis sebagai perempuan di Indonesia. Apa artinya menjadi seorang penulis perempuan Indonesia di zaman sekarang? Bagaimana kita bisa memiliki otonomi di dunia yang lama didominasi pria ini? Bagaimana kita bisa menyimak dan memahami naratif perempuan yang selama ini terabaikan?

    Saya punya harapan penuh untuk kemajuan penulis perempuan di Indonesia. We are no longer asking. We are taking. 

    Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

    Tidak. Saya tetap cinta buku dalam bentuk fisik. Saya suka meraih sebuah buku dan mengapresiasi desainnya, saya suka membawa buku ke mana pun saya pergi, saya suka bunyi kertas ketika membalik halaman, saya suka menandai kalimat-kalimat yang saya rasa penting atau yang meninggalkan kesan mendalam. 

    Apa rencanamu selanjutnya?

    Untuk Comma, kami akan menerbitkan tiga buku baru di bulan Juni: Kelana (buku perjalanan oleh Famega Syavira Putri), antologi Compassion (kumpulan tulisan para penulis Comma), dan Apa Yang Hilang Januari Lalu (kumpulan cerita pendek oleh Yudistira Dilianzia). Setelah itu kami akan menerbitkan kumpulan puisi oleh Waraney Rawung, Farhanah, Agung Setiawan, dan Edo Wallad. Selain itu kami pun masih mencari naskah-naskah untuk diterbitkan dan melanjutkan tur kami sampai bulan Oktober nanti untuk berbagai festival sastra baik di Indonesia maupun wilayah Asia Tenggara. 



    Gratiagusti Chananya Rompas

    Anya, demikian nama panggilannya, selalu menemukan wadah untuk menampung tulisannya. Dari mulai buku tulis sekolah saat masih SD sampai di halaman mailing list dengan menjadi salah satu pendiri Komunitas BungaMatahari, komunitas puisi legendaris yang lahir dari internet. Tak pernah lelah bergelut dalam dunia sastra, ia juga menggagas Paviliun Puisi, acara open mic puisi setiap Sabtu terakhir tiap bulan di Paviliun 28 dan menjadi Editor Puisi di InterSastra, sebuah jurnal sastra bilingual. Kumpulan karyanya meliputi Kota Ini Kembang Api (2016), Non-Spesifik (2017), dan Familiar Messes and Other Essays (2017).

    Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

    Tentu, serial Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto. Saya penasaran juga dengan versi layar lebarnya yang akan tayang sebentar lagi.

    Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

    Wah, banyak sekali. Di antaranya ada Toeti Heraty, Budi Darma, Soebagio Sastrowardoyo, Intan Paramaditha, Cyntha Hariadi, Ratih Kumala, Eka Kurniawan, Saut Situmorang, Joko Pinurbo, Norman Erikson Pasaribu, juga teman-teman saya dari Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan Paviliun Puisi, in no particular order.

    Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

    Tandus karya S. Rukiah Kertapati. Ibu Rukiah adalah salah satu sastrawan perempuan yang dilupakan dari sejarah sastra Indonesia padahal ia sangat produktif dan pernah meraih penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, sebuah penghargaan yang sangat bergengsi di tahun 1953. Tak mengherankan karena ia menulis dengan sangat jernih--ia bisa mengoyak perasaan tapi juga bisa membuat pembacanya tertawa walaupun karya-karyanya banyak berbicara tentang masa revolusi dari sudut pandang perempuan yang terlibat aktif di dalam perjuangan. Beruntung Ultimus baru saja menerbitkan kembali karya-karyanya, jadi kita bisa menikmatinya sekarang.

    Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

    Ternyata saya lebih menikmati buku dalam bentuk fisik. Mungkin saya ketinggalan zaman tapi saya merasa lebih nyaman membaca buku yang bisa saya bolak-balik kertasnya. Saya juga senang berada di dalam ruangan yang diisi dengan buku, baik yang tersusun rapi maupun berserakan di mana-mana. Lagipula kalau listrik mati, buku fisik masih bisa dibaca walaupun dengan bantuan cahaya lilin.

    What’s next from you?

    Sekarang saya bersama suami saya, yang juga penulis, sedang mencoba menerjemahkan puisi-puisi yang terkumpul di dalam buku kedua saya, Non-Spesifik. Selain itu, tahun ini saya mengikuti dua residensi: yang pertama diselenggarakan oleh Writers Immersion and Cultural Exchange (WrICE) dari RMIT University di Yogyakarta, Jakarta dan Melbourne, di mana saya nanti akan turut serta di Melbourne Writers Festival; dan yang kedua, saya akan menghabiskan sebulan di Skotlandia dengan dana dari Komite Buku Nasional dan Beasiswa Unggulan-Kemendikbud untuk bekerja sama dengan Neu Reekie!, sebuah kolektif penyair dari Edinburgh. 


    (Images: foto featured dok. Instagram @rainchudori)