Lifestyle

7 Film Terbaik Festival Cannes 2018 Yang Wajib Ditunggu

  by: Alexander Kusumapradja       22/5/2018
  • Festival Film Cannes 2018 baru saja selesai digelar dari tanggal 8 sampai 19 Mei kemarin dan meninggalkan banyak cerita yang akan dikenang dalam sejarah. Perhelatan salah satu festival film paling prestisius yang menginjak tahun ke-71 tersebut dihiasi banyak aksi protes tentang kesetaraan gender. Dari mulai Kristen Stewart yang bertelanjang kaki di atas red carpet sebagai protes atas kewajiban memakai heels bagi tamu wanita, aktris kulit hitam Prancis Aissa Maiga yang melakukan protes atas diskriminasi ras dan gender dalam industri film Prancis, hingga sang ketua juri tahun ini Cate Blanchett bersama 81 wanita penggiat sinema lainnya yang melakukan protes di tangga Palais untuk menuntut kesetaraan gender dan akses lebih besar bagi sineas wanita untuk berlaga di festival ini.   

    Bagaimanapun, kontroversi dan perdebatan memang menjadi elemen tak terpisahkan dalam setiap perhelatan Cannes, terutama lewat narasi dalam film-film yang ditayangkan, itu juga yang membuat festival ini menarik dan selalu ditunggu setiap tahunnya. Tahun ini, Cannes pun kembali menghadirkan film-film berkelas yang patut ditunggu pecinta sinema di mana saja. Berikut adalah film-film pilihan Cosmo yang wajib masuk daftar Must Watch kamu:





    BlacKkKlansman

    Sutradara kawakan Spike Lee kembali mengusung tema perjuangan komunitas kulit hitam dalam film terbarunya ini. Bersumber dari kisah nyata, film ini menceritakan detektif kulit hitam bernama Ron Stallworth (diperankan John David Washington) yang berusaha menginfiltrasi masuk ke dalam organisasi ekstremis kulit putih Ku Klux Klan dengan berpura-pura menjadi seorang rasis kulit putih di telepon. Begitu diterima, Ron meminta rekannya, detektif Flip Zimmerman (Adam Driver) untuk menyamar sebagai dirinya dan keduanya mulai melakukan investigasi untuk mengekspos rencana organisasi tersebut dari dalam. Walaupun film ini berlatar Colorado Springs di tahun 70-an, ironisnya kisah film ini justru tetap relevan dan mengingatkan kita pada kondisi Amerika di era Trump saat ini yang penuh dengan ketegangan rasial, which is sad. Mengangkat tema yang berat namun tak lupa dibumbui humor khasnya dan soundtrack 70-an yang groovy, Spike Lee berhasil menyabet penghargaan Grand Prix di Cannes tahun ini yang sekaligus menjadikan film ini sebagai film karya sutradara African-American pertama yang pernah meraih gelar tersebut dalam sejarah Cannes. 


    Baca juga: Ini Dia Film yang Paling Ditunggu Tahun 2018 Versi IMDb


    Climax

    Dikenal lewat karya-karya kontroversial seperti I Stand Alone dan Enter the Void, sutradara kelahiran Argentina ini kembali ke Cannes lewat Climax, sebuah horror musical yang dibintangi oleh Sofia Boutella. Berdurasi 95 menit, film ini memiliki plot yang berpusat di sekumpulan penari hip-hop yang mengalami bad trip setelah tidak sengaja mengonsumsi zat psikotropika dalam minuman sangria yang disajikan di sebuah pesta. Penuh dengan adegan halusinasi, batas antara ilusi dan nyata pun melebur menjadi rentetan kejadian yang dipertanyakan keabsahannya, tak hanya oleh para karakter di cerita, tapi juga kita sebagai penonton. Film ini berhasil membawa pulang penghargaan utama di kategori Director’s Fortnight Cannes tahun ini.   



    Shoplifters

    Kerap mengangkat kehidupan orang Jepang dari sudut pandang humanis dan mempertanyakan hal-hal seperti keluarga dan struktur sosial, Hirokazu Kore-eda kembali membuktikan talentanya sebagai salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Jepang saat ini dengan meraih penghargaan utama Palme d’Or untuk film terbarunya ini. Dalam film ini kita diajak melihat kehidupan sebuah keluarga miskin di Tokyo yang terdiri dari Osamu (Lily Franky), Nobuyo (Sakura Ando), Aki (Mayu Matsuoka), dan Shota (Jyo Kairi) yang seringkali harus mengutil agar tetap bisa makan. Dalam sebuah perjalanan pulang, sang ayah melihat seorang anak perempuan kecil yang kelaparan dan membawanya pulang tanpa maksud jahat. Sang gadis kecil pun terlihat gembira tinggal di rumah Osamu, namun, tetap saja tindakan itu dianggap penculikan dan polisi pun mulai bergerak. Definisi keluarga pun tidak lagi sederhana, khususnya bagi si anak yang terabaikan di keluarganya sendiri dan lebih bahagia bersama orang lain. 



    Burning (Beoning)

    Diangkat dari cerita pendek karya Haruki Murakami yang berjudul “Barn Burning”, sutradara Korea Lee Chang-dong bercerita tentang seorang pria muda bernama Jong-soo (Yoo Ah-in) yang jatuh cinta pada teman masa kecil yang lama tak ditemuinya, Hae-mi (Jun Jong-seo). Bermula dari kisah romansa sederhana, cerita beralih ke thriller yang lebih kompleks saat seorang pria misterius bernama Ben (Steve Yeun) muncul di tengah kehidupan mereka. Intens dan enigmatis, bersiaplah menahan napas dan tenggelam dalam ketegangan yang memuncak seiring cerita. 




    Baca juga: 6 Film dengan Plot Twist Terbaik 2018

       


    Girl

    Dalam debut Cannes yang bersaing di segmen Un Certain Regard, sutradara asal Belgia Lukas Dhont yang baru berusia 27 tahun mempersembahkan cerita coming-of-age dari Lara (Victor Polster) yang sedang berjuang menjadi ballerina. The twist? Lara juga merupakan seorang pria yang ingin bertransisi menjadi wanita. Uniknya, dibandingkan film bertema LGBT lain yang umumnya fokus pada tekanan dari luar, pergolakan yang dihadapi Lara justru berasal dari dalam dirinya sendiri yang tak sabar menanti tubuhnya untuk bertransisi secepatnya. Film ini berhasil mendapat penghargaan Queer Palm serta Camera d’Or untuk film debut terbaik, sementara pemeran Lana, Victor Polster yang di kehidupan nyata adalah pria cisgender mendapat penghargaan best performance untuk aktingnya yang memukau. 



    Happy As Lazaro

    Hanya ada tiga sutradara wanita yang berkompetisi di Cannes tahun ini, yang juga menjadi salah satu alasan utama diadakannya protes yang sudah Cosmo ceritakan di atas. Namun, dua dari tiga film garapan wanita tersebut berhasil meraih penghargaan, salah satunya adalah film peraih Best Screenplay ini yang digarap oleh sutradara Italia, Alice Rohrwacher. Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang Lazzaro (Adriano Tardiolo), seorang pemuda di desa Italia yang sederhana dan naif. Kehidupan desanya yang seperti muncul dari cerita dongeng mendadak terusik saat kemajuan modern dan kapitalisme masuk ke desa mereka. Dengan alur cerita yang tak mudah ditebak, narasi film ini membuat penonton terbius dengan akhir film yang tak disangka. 



    Whitney

    Salah satu film dokumenter yang paling Cosmo tunggu tahun ini adalah film garapan Kevin Macdonald yang bercerita tentang kehidupan Whitney Houston. Dikenal sebagai salah satu penyanyi perempuan paling ikonis, kehidupan Whitney tak lepas dari kontroversi dan rahasia yang mengikutinya sampai akhir hayatnya. Dengan cerita intim dan personal dari orang-orang terdekatnya, kita diajak melihat sosok Whitney dari masa kecilnya di New Jersey, masa remaja, awal kariernya, hingga menjadi legenda musik lalu perlahan tersuruk dalam kesedihan dan kemarahan di balik segala gemerlap ketenaran. Seperti Cosmo, kamu pun pasti sudah tahu ending dari kisah hidupnya. Namun, tetap saja, sepanjang film kamu akan berharap Whitney punya nasib yang berbeda, dengan orang-orang yang mencintainya dengan tulus. Rest in peace, Whitney. 


    (Image: dok. Outnow.ch)