Lifestyle

Belajar Keselarasan Harmoni dari Happiness Festival 2019

  by: Givania Diwiya Citta       1/5/2019
  • Kembali digelar, Happiness Festival 2019 menjadi destinasi yang menyalurkan wadah kebahagiaan masyarakat selama akhir pekan 27-28 April 2019 lalu. Konsisten dengan misinya untuk meningkatkan indeks kebahagiaan individu, Happiness Festival tahun ini pun mengemas tema Alignment for Harmony dengan mewujudkan konsep kebahagiaan dari tiga aspek. Yakni kebahagiaan spiritual diri sendiri, kebahagiaan sosial antara sesama manusia, serta kebahagiaan ekologi dengan lingkungan alam, yang seluruhnya bisa diraih lewat aksi open mind, open heart, open will.





    Maka dari itu, untuk meraih kebahagiaan holistik tersebut, Happiness Festival 2019 lantas dikemas kreatif dengan berbagai objek wahana hingga performa yang memantik konsep-konsep kebahagiaan tersebut. Festival yang digagas oleh Project Semesta dan United in Diversity (UID) dalam naungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan United Nations Sustainable Development Solutions Network (UN SDSN) ini berlatar di Lapangan Banteng, Jakarta. Latar sejarah terbangunnya monumen untuk mengenang pembebasan Irian Barat dari Belanda pun menjadi cerita penguat salah satu motif Happiness Festival dalam merajut keberagaman.



    Mari telusuri beberapa objek wahana interaktif yang menjadi manifestasi dalam meraih kebahagiaan holistik dalam Happiness Festival 2019 ini. Di antaranya terdapat wall of happiness yang tersebar di berbagai penjuru taman untuk bebas diwarnai dan dilukiskan oleh setiap pengunjung, ada pula berbagai teepee yang menyuguhkan bermacam interaksi (mulai dari zen corner dengan diri sendiri, atau berkonsultasi tentang wellbeing bersama para ahli), hingga spot untuk bebas berkenalan dan bercengkrama dengan sesama lewat bangku-bangku bertitel “Ask Me Anything” atau kolam bola bertitel “Take A Seat, Make A Friend”.



    Tak hanya itu, dalam festival ini juga banyak mitra yang berpartisipasi dalam mewujudkan konsep kebahagiaan holistik ini. Salah satunya dari sektor bisnis kreatif sustainable lifestyle yang menyajikan kreasi ramah lingkungan atau berfondasi pada kearifan lokal yang kuat. Seperti Segara Naturals yang mengkreasikan skincare berbahan alami sekaligus handcrafted, ada pula Evoware dengan inovasi kemasan makanan atau minuman Ello Jello yang amat less-waste, hingga Rahsa Nusantara yang meracik berbagai kreasi minuman tradisional tanah air, yang seluruhnya mengusung konsep environmental conscious untuk memicu kebahagiaan ekologis.





    Tak hanya dari pemain bisnis, penggerak komunitas lokal yang berbasis non profit juga berkontribusi mewujudkan konsep kebahagiaan holistik ini. Seperti salah satunya Book for Good yang mengusung konsep collective bookshelf di mana setiap orang bisa mendonorkan buku atau membeli buku yang ada secara ‘pay as you wish’, demi tujuan untuk meningkatkan indeks literasi di Indonesia. Ada juga Artherapy Center Widyatama yang menaungi karya-karya seni para seniman difabel, dan memamerkannya dalam skala ekshibisi kecil namun powerful, berkat pesan tersirat bahwa tak ada batasan bagi seseorang untuk memberdayakan kemampuannya, dan pada akhirnya, untuk menjadi bahagia. Ada pula Salur Indonesia yang turut menggelar sesi talkshow mengenai sustainable fashion bersama Andien (sang CEO Salur Indonesia) dengan fashion designer Didiet Maulana.



    Selain berisikan berbagai wahana interaktif, konsep kebahagiaan holistik juga disuguhkan melalui sederet performa hiburan. Seperti screening film serta berbincang langsung dengan para cast dan pembuat film yang terlibat, hingga performa musik dari musisi kenamaan nusantara, seperti Endah n Rhesa, Glenn Fredly, hingga Mocca. Selama dua hari, Happiness Festival menjadi representasi bahwa untuk menjadi bahagia, terdapat 101 cara untuk meraihnya, baik yang dimulai dari dalam jiwa, berkreasi karya, saling terinspirasi dengan satu sama lain, berkolaborasi, dan menyalurkannya pada cara kita memelihara alam yang dihuni. Happiness is all around you!



    (Image: Dok. Instagram. Ilustrasi: S. Dewantara)