Lifestyle

8 Seniman dan 8 Karya Art Rug di 1 Dekade Casa Indonesia

  by: Givania Diwiya Citta       9/5/2019
  • Keriuhan acara Satu Dekade Casa Indonesia yang telah digelar pada 2 hingga 5 Mei kemarin masih meninggalkan jejak euforia pada industri desain. Apalagi dengan program spesial yang melibatkan lelang amal art rug gagasan IKEA Indonesia, yang total donasinya mencapai Rp859.250.000,- untuk disumbangkan pada Yayasan Mitra Museum Jakarta. Marvelous! Kini, mari berkenalan dengan delapan seniman yang berkolaborasi dengan IKEA untuk ajang IKEA Art Event 2019, yang mengkreasikan koleksi terbatas karya kerajinan karpet serta permadani mereka secara kontemporer. Love ’em all!


    Virgil Abloh




    Selain dikenal sebagai pendiri label fashion Off-White, Virgil juga menduduki posisi Direktur Artistik untuk lini pria rumah mode Louis Vuitton. Virgil yang ciri khas desainnya terkenal akan konsep street culture, menciptakan karpet Persia tradisional yang lantas ditransformasi avant-garde, berkat pesan “Keep Off” yang merepresentasikan pikiran turun temurun dalam rumah untuk tidak merusak furnitur. 


    Chiaozza


    Duo Terri Chiao dan Adam Frezza asal Amerika ini telah mendirikan studio mereka di New York sejak tahun 2011. Dalam nama panggung Chiaozza, keduanya memiliki ciri khas karya yang menggunakan medium melukis patung, instalasi, kolase, dan fotografi. Untuk kolaborasinya dengan IKEA Art Event 2019, duo ini menginterpretasikan panorama musim semi padang pasir barat daya Amerika, dalam wujud coretan, garis berlekuk, hingga warna-warna nan vibran.


    Craig Green


    Alumni sekolah fashion dari Central Saint Martins, London, ini tersohor sebagai salah satu perancang busana pria paling inovatif di Inggris. Dalam rancangannya, ia kerap mengkonstruksikan gagasan tentang keseragaman, dan mengesampingkan tentang gender yang terpecah belah dalam budaya masyarakat. Dalam ajang IKEA Art Event 2019 ini, ia mengkreasikan karpet yang berkonsep “surgawi” dan bebas dari realita, sebagai makna bahwa furnitur mampu membawa penghuni rumah terbawa ke suatu tempat yang lebih baik.


    Seulgi Lee


    Seniman berdarah Korea-Perancis ini mendesain karpet yang mengambil sumber inspirasi dari peribahasa Perancis, “Bersenang-senang seperti seekor ikan di air.” Oleh karenanya, Seulgi mendefinisikan sebuah ruang, di mana cahaya terpancar dari air, yang bercampur dengan warna-warna terang lainnya. Ia pun mengimplementasikan seni khas kota Ayodhya dari utara India, seni dari sang Ratu Korea Heo Hwang-ok, yang seluruhnya mendefinisikan konsep peribahasa Perancis gambaran ikan yang bersenang-senang tersebut.


    Noah Lyon




    Berbasis di Brooklyn serta di Gotland, Swedia, karya Noah telah menghiasi berbagai koleksi MoMA, The Tate Britain, The Menil Collection, The Brooklyn Museum, hingga The Whitney Museum of American Art. Kreasi karpetnya kali ini menggambarkan pusaran angin kehidupan yang saling terhubung dengan satu sama lain, selayaknya dunia manusia yang berputar di alam semesta. Ia pun terinspirasi dari kayu berputar yang dimiliki suku Navajo, yang mengisahkan tentang manusia yang menemukan pusaran air serta jiwa, yang mengajarkan tentang nilai-nilai baik untuk kaumnya.


    Filip Pagowski


    Seniman grafis basis Warsawa ini terkenal akan desain yang spirited, distingtif, dan lively. Ia pun telah banyak berkolaborasi dengan berbagai brand besar seperti Comme des Garçons, SAKS 5th Avenue, Le Monde, The New Yorker, hingga New York Times. Gagasannya untuk kreasi karpet miliknya adalah berdasar pada seni merajut, dengan imaji yang merefleksikan mekanisme benang dalam pembuatan karpet. Ia pun menciptakan ritme abstrak dari pola tanpa batas, yang berhasil menonjolkan kekuatan handcraft yang sulit ditandingi.


    SupaKitch


    Pendekatan eksentrik yang technical menjadi ciri khas seniman Perancis ini. Seperti pada karya karpetnya yang memainkan konsep klasik bergambar binatang. Ia pun memilih imaji ular yang mewakili panduan spiritual dan jiwa untuk penyembuhan, selayaknya ular yang bisa berganti kulit sendiri sebagai simbol terlahir kembali.


    Misaki Kawai


    Seniman Jepang ini meyakini bahwa seni adalah tentang berbahagia ria. Maka dari itu, ia pun merancang karpet dengan dominasi hal-hal lucu dan berbulu. Lengkap dengan warna-warna ceria dan material yang nyaman digunakan, baginya karpet ini dapat mendatangkan kebahagiaan bagi yang menikmatinya, dan tentu saja, menumbuhkan rasa afeksi untuk merawat ‘kucing-kucing besar’ ini.


    (Image: Dok. IKEA Indonesia)