Lifestyle

5 Booth Instalasi Impresif dari Satu Dekade Casa Indonesia

  by: Givania Diwiya Citta       10/5/2019
  • Mengikuti euforia Satu Dekade Casa Indonesia selama 2 sampai 5 Mei, check! Menjadi saksi bagi hasil lelang amal art rug yang digelar IKEA Indonesia di ekshibisi tersebut, check! Mengenali delapan seniman dan karyanya yang harga total lelang tersebut mencapai nilai Rp859.250.000,-, check! Kini saatnya mendalami lebih jauh tentang para partisipan yang unjuk inovasi dalam pameran desain, living, serta arsitektur premium ini. Kali ini, Cosmo mengurasi lima booth paling impresif dari Satu Dekade Casa Indonesia, yang tak hanya mengemas karya produk unggulan mereka menjadi instalasi Insta-worthy, tapi juga meredefinisi tren desain nusantara tahun ini. One word: COOL.


    Kolek




    Tahun 2019 ini ada zona yang perdana dihadirkan dalam ekshibisi Satu Dekade Casa Indonesia, yaitu zona Future Living. Zona ini dirancang untuk menampilkan instalasi hunian masa depan, yang terwujud dari buah pikir serta imajinasi para arsitek dan desainer muda Indonesia. Salah satu yang berpartisipasi adalah Kolek, lifestyle brand yang mengemas showcase untuk karya produk stool bernama Aru, dalam instalasi booth yang distingtif. Berkolaborasi dengan Digital Nativ, booth instalasi yang bertajuk Kubus ini mampu membuat pengunjung terbawa ke dimensi lain. Hal itu terjadi berkat layar visual yang diletakkan di bagian atap booth, yang mampu menggiring fokus pandangan pada garis-garis di atas kepala. Bahkan Aru Stool yang didesain dari akrilik transparan juga dilapisi kaca film hingga bisa berubah warna menyesuaikan dengan arah lighting. Sleek!


    Viro


    Perusahaan premium yang memproduksi material arsitektur berkonsep durable eco faux, kembali bekerja sama dengan desainer interior Kezia Karin untuk ajang Satu Dekade Casa Indonesia ini. Booth instalasi bertajuk Nusantara Coasts pun menjadi medium showcase untuk menampilkan material utama produksi Viro yang berkualitas sintesis, eco-friendly, non-toxic, sebagai perwakilan suaranya dalam memperjuangkan perhatian terhadap isu sampah plastik yang ada di laut. Proyek ini lantas menerjemahkan gagasan tersebut dalam karya yang mengekspos arsitektur laut, yang terkonstruksi dari berbagai permainan warna, level, ketinggian, dan material. Membuat kita bercermin akan kekayaan maritim Indonesia, dan memicu kepedulian untuk terus melestarikannya.


    Ong Cen Kuang Designs


    Desainer dan pengrajin asal Pulau Dewata ini berpartisipasi meramaikan zona Designer Showcase dalam Satu Dekade Casa Indonesia, lewat instalasi konseptual untuk karya lighting buatan tangan miliknya. Tak hanya itu, sang desainer juga ditantang untuk menampilkan makna khatulistiwa dalam instalasinya. Akhirnya, instalasi berjudul Kalaedoscope ini lahir. Sumber inspirasinya adalah dari keberagaman yang dimiliki Indonesia, dan bagaimana tanah air ini kaya akan kelompok etnis saling berbeda, belum lagi macam bahasa yang dimiliki, dan tentunya, berbagai pulau yang tersebar di penjuru nusantara. Merepresentasikan sebuah kaleidoskop, realm yang punya banyak facets ini mengekspos tentang kekayaan berlapis Indonesia, mulai dari rakyatnya, budayanya, kulinernya, hingga tradisinya yang konstan beradaptasi dengan perubahan dunia.




    DP+HS Architects

    Masih pada zona Designer Showcase yang menampilkan 10 talenta lokal dalam memanifestasikan makna khatulistiwa, Don Pieto + Henny Suwardi Arch ini menciptakan instalasi bertajuk Khayal Semesta. Yes, selain instalasi ini jadi populer-favorit untuk feed Instagram para pengunjung Satu Dekade Casa Indonesia, tapi instalasi ini mengajak pengunjung untuk lebih memahami tentang konsep ‘ruang’. Saat memasuki instalasi ini, pengunjung akan dibawa dalam sebuah ‘perjalanan’ yang melibatkan indra, persepsi, imajinasi, yang mengeksplorasi sebuah proses pembentukan spasial semesta. Wicked.


    Isha Hening

    Seniman motion graphic sekaligus VJ basis Jakarta ini telah memiliki portofolio dalam menciptakan visual panggung untuk performa musik lokal hingga internasional. Mulai dari mengisi desain visual untuk festival sekelas Djakarta Warehouse Project, lalu untuk musisi seperti KimoKal, RAN, hingga Steve Aoki. Untuk Satu Dekade Casa Indonesia, ia mempersembahkan Solstice yang mengeksplorasi hubungan manusia dengan pencahayaan, melalui ‘kacamata’ kondisi mental Seasonal Affective Disorder (SAD). Kondisi mental ini berdampak pada manusia saat mengalami perubahan musim, yang bisa melanda setiap pergantian musim dalam setahun. Sang seniman pun menuangkan gagasannya tentang alat phototherapy yang biasa digunakan untuk merawat orang dengan SAD ke dalam Solstice. Oleh karenanya, instalasi visual ini menampilkan berbagai macam cahaya dalam berbagai spektrum, dan hubungannya terhadap pikiran manusia. 


    Impressive, right? Cosmo tak sabar untuk menanti pagelaran Casa Indonesia di tahun selanjutnya!


    (Image: Dok. Instagram @kolekliving, @virobuild, @ongcenkuang, @dphsarchitects, @ishahening)