Love & Sex

8 Orang Ungkapkan Alasan Mengapa Kencan Virtual Lebih Baik

  by: Shamira Priyanka Natanagara       2/5/2020
  • Karena sekarang kita sedang mencegah penyebaran COVID-19 dengan tidak pergi ke luar rumah, Zoom telah menjadi medium komunikasi yang dapat diandalkan, mulai dari untuk kegiatan belajar-mengajar, bekerja, hingga hang out bersama teman-teman. So wajar saja jika orang-orang juga mulai menggunakan Zoom dan aplikasi video chat lainnya untuk melakukan kencan virtual dengan match dari aplikasi kencan karena mereka tak bisa bertemu secara langsung. 

    Berkencan lewat video chat berarti kamu masih bisa menjalin hubungan di masa self-quarantine (hanya saja kamu melakukannya secara online), tapi secara umum ini juga merupakan ide yang bagus—yang bisa kita terapkan lebih sering ketika kehidupan sehari-hari kita sudah kembali normal. Alasannya? Well, terkadang seseorang tampak baik-baik saja ketika chatting, tapi ketika bertemu secara langsung dan setelah kalian memesan makanan, match kamu tidak bisa berhenti berbicara tentang film Ghostbusters versi wanita yang ia anggap "tidak penting dan konyol", dan tentunya kamu menjadi muak dan berpikir, "Duh, saya harus mendengar dia berbicara selama dua jam ke depan, nih?"

    Dalam artikel ini, delapan orang telah berbagi pendapat mereka tentang berkencan lewat Zoom (atau telepon, FaceTime, WhatsApp, atau aplikasi video chat lainnya) dan hal-hal yang membuat pengalaman tersebut lebih menyenangkan, sehingga mereka ingin terus melanjutkannya setelah pandemi ini berakhir.




    Menurut Abigail (25)...

    "Secara pribadi, saya mencintai Zoom chats di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa khawatir orang menilai saya karena penampilan saya. Tidak perlu lagi menghabiskan berjam-jam untuk bersiap-siap berkencan ketika topi beanie yang cute dan sweater nyaman saja cukup! Ini juga berguna ketika kencan tidak berjalan lancar—kamu tak hanya menghemat waktu bersiap-siap, tapi juga menghemat uang yang dihabiskan untuk bepergian dan makanan/minuman yang dipesan selagi mencari alasan untuk mengakhiri kencan. Ini adalah cara yang bagus untuk memilih calon match yang cocok." 


    Kata Michelle* (24)...

    "Saya telah berkencan lewat FaceTime sebelum pandemi dan akan terus melakukannya setelah pandemi berakhir. Jauh lebih mudah untuk mencari orang yang bersedia untuk kencan lewat video sekarang, karena ini adalah satu-satunya opsi untuk berkencan. Sebelumnya orang-orang tidak menawarkan untuk bertelepon atau FaceTime, tapi mereka juga tidak merasa aneh ketika saya menyarankan ide tersebut. Saya menganggap diri saya seorang extrovert yang introvert. Saya tidak memiliki masalah berbicara dengan orang secara langsung atau via video date, tapi saya suka berkencan lewat video chat karena dapat memastikan bahwa kita memiliki chemistry. Dengan cara ini, saya tidak perlu menghabiskan waktu bertemu seseorang yang saya rasa tidak menarik setelah berbicara dengannya selama lima menit saat berkencan." 


    Berdasarkan kisah Peggy (27)...

    "Sebagai seseorang yang sangat introvert dan gemar internet, saya senang dan merasa nyaman untuk menggunakan platform video untuk bertemu orang-orang sekarang. Bahkan setelah pandemi ini berakhir, saya akan tetap menggunakan Zoom untuk memudahkan sisi introvert saya selagi tetap merasa terhubung. Saya lebih menyukai Zoom daripada FaceTime/WhatsApp karena saya tidak harus memberikan nomor telepon saya, so saya hanya perlu mengirimkan link tanpa harus berkomitmen penuh untuk memberikan informasi pribadi saya. Saya juga lebih familier dengan Zoom daripada fitur video chat aplikasi kencan yang saya gunakan." 


    Pendapat Jane* (26)...

    "Saya penggemar berat bertelepon sebelum berkencan, bahkan sebelum virus corona, dan saya pasti akan terus melakukan ini setelah [pandemi ini] berakhir. Saya menyukai bertelepon sebelum kencan karena memberi kesempatan untuk menguji chemistry si dia tanpa harus berdandan dan pergi ke luar. Pada kencan nyata, biasanya dalam waktu lima menit saya bisa tahu jika saya ingin bertemu dengannya lagi, yang berarti kemungkinan saya telah menghabiskan waktu dan uang saya untuk sebuah kencan ketika saya bisa merasakan vibe mereka lewat telepon terlebih dahulu. Saya lebih memilih untuk membuang lima menit untuk percakapan telepon yang buruk daripada menghabiskan dua jam untuk kencan yang buruk."


    Gabby (24) mengatakan bahwa...

    "Saya lebih memilih kencan lewat Zoom daripada 'kencan normal.' Saya adalah seorang full-time travel blogger dan berkencan secara langsung sebagai seorang traveler selalu merugikan—para pria yang ingin bertemu ternyata selalu avoidant (ingin menghindar) yang berasumsi bahwa karena saya akan segera pergi, saya tidak tertarik dengan hubungan jangka panjang. Saya juga cenderung menarik perhatian orang-orang avoidant pada kencan normal (sepertinya ada sesuatu tentang wanita berusia mid-20s!), so saya kira tipe pria yang oke dengan kencan Zoom kemungkinan lebih sabar, aman, dan dewasa dan secara keseluruhan kemungkinan mereka pria yang baik lebih besar." 




    Alasan Lou (26) adalah...

    "Saya menyukai berkencan lewat Zoom karena membuat kamu bisa merasakan chemistry tanpa harus sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan kencan pertama. Ini agak seperti foreplay digital, karena membantumu kesulitan mengetahui jika kamu dapat mempertahankan hubungan dengan seseorang selagi makan malam. Tidak ada ekspektasi fisik dengan Zoom atau kencan virtual—jika seseorang menginginkan sesuatu yang lebih eksplisit, maka mereka harus berkomunikasi tentang hal tersebut. Dengan kencan Zoom, ada batas dan persetujuan yang lebih jelas, sedangkan di kehidupan nyata, hal-hal bisa menjadi sedikit lebih koersif. Saya lebih sering menggunakan Zoom untuk kencan pertama, di mana saya benar-benar mencoba menyiapkan penampilan saya, dan FaceTime (yang menurut saya lebih mudah digunakan) adalah seperti kencan ketiga ketika kamu sudah lebih nyaman dengan si dia. Saya pasti akan melakukan kencan Zoom setelah [pandemi ini] berakhir. I mean, saya menyukai kencan pertama yang awkward dan lucu di kehidupan nyata, tapi saya menyukai Zoom sebagai langkah pemeriksaan."


    Delaney (24) menjelaskan...

    "Pada awalnya saya kira saya akan lebih menyukai berkencan IRL daripada menggunakan video chat, NAMUN saya telah berbicara dengan seseorang yang saya temui di Hinge via FaceTime selama dua minggu terakhir, dan sejauh ini berjalan dengan baik. Kami benar-benar nyambung—lebih dari siapa pun yang pernah saya temui secara langsung selama kira-kira lebih dari dua tahun terakhir. Tampaknya berkomunikasi via telepon dan FaceTime sebelum bertemu telah memungkinkan kami untuk menemukan kesamaan dan minat sebelum apa pun yang fisik terjadi. Namun kami masih bisa melihat satu sama lain melalui layar, so kita tahu bahwa daya tariknya masih ada. Kami belum bertemu secara langsung dan hanya chatting dan FaceTime hingga bisa ke luar rumah. Rasanya agak kuno, tapi saya menyukainya." 


    Pengalaman Victoria (21)...

    "Sebenarnya saya telah menggunakan FaceTime atau Snapchat untuk memilih pasangan kencan sebelum virus corona, sejak sekitar delapan bulan yang lalu. Saya berkencan dengan seseorang yang tidak cocok dengan saya dan sadar bahwa kamu tidak bisa menebak tingkah laku seseorang melalui chatting. Sejak itu, saya membuat sebuah standar untuk melakukan setidaknya melakukan satu video call sebelum bertemu seseorang secara langsung. Orang-orang dulu mengira ini aneh, tapi kini COVID-19 membuat kencan pertama melalui video call normal. Saya cukup senang ada perubahan dalam hal ini. Saya lebih memilih melakukan kencan pertama dari rumah. Saya bisa menutup telepon jika merasa tidak menikmatinya daripada harus duduk sepanjang makan malam atau meneguk minum agar kencan yang buruk bisa berakhir lebih cepat. Plus, tak ada yang harus dibayar, jadi situasi rebutan bill tidak terjadi. Begitu pengguna sadar bahwa video dating lebih mudah dan bebas stres, ini akan menjadi suatu kebiasaan—atau setidaknya itulah harapan saya!"  


    * Nama telah diubah.

    Jawaban telah sedikit diubah untuk kejelasan.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan US / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Shamira Natanagara / Ed. / Opening image: Vlada Karpovich on Pexels)