Better You

7 Masalah Kesehatan yang Patut Kamu Waspadai Selama Puasa!

  by: Giovani Untari       5/5/2020
    • Di balik segala kegembiraan momen bulan puasa, sebagian dari kita tak jarang harus dihadapkan dengan berbagai masalah kesehatan.
    • Ini dia 7 masalah kesehatan yang wajib kamu waspadai selama bulan puasa!


    Sebenarnya ada alasan mengapa tubuh lebih rentan mengalami masalah kesehatan saat bulan puasa. Salah satunya karena perubahan jam biologis dalam tubuh yang disebabkan bergesernya pola makan dan waktu tidur saat periode puasa berlangsung. Fase starving yang berlangsung selama kurang lebih 13 jam tersebut juga membuat tubuh beradaptasi dan mengefisiensikan sistemnya dengan cara menurunkan kemampuannya. Ini juga yang akhirnya memicu datangnya beberapa problem kesehatan tertentu. Dan Cosmo mengerti, bahwa salah satu goals kamu adalah menjalankan puasa dengan kondisi prima tanpa harus berurusan dengan segala drama kesehatan (yang mana hidup kita pun sudah dipenuhi berbagai drama, huft!).

    Jadi inilah 7 masalah kesehatan yang patut kamu waspadai di bulan puasa berikut cara tepat menanganinya.




    1. GERD

    Gastroesophageal reflux disease alias GERD menjadi salah satu penyakit yang populer muncul di bulan puasa. Gangguan pencernaan khususnya area lambung ini terjadi karena katup kerongkongan bagian bawah (sfingter) yang menjadi pemisah kerongkongan dengan lambung melemah dan membuatnya mudah terbuka. Akhirnya ini membuat isi lambung (berupa enzim dan asam) yang seharusnya turun ke lambung, justru mengalir secara berulang ke area kerongkongan sehingga membuat iritasi.

    GERD ditandai dengan beberapa gejala seperti: mual dan muntah, sakit tenggorokan, sensasi panas yang membakar di area dada (heartbun), kesulitan dalam menelan, bahkan gangguan pernapasan seperti sesak napas, batuk, dan sakit tenggorokan.


    FIX IT:

    Sebaiknya kamu menghindari mengonsumsi makanan yang memicu GERD di saat sahur dan berbuka puasa. Contohnya makanan yang pedas, berlemak, dan gorengan. Hindari juga porsi makan langsung dalam jumlah yang besar. Kamu dianjurkan menerapkan pola makan dalam porsi yang kecil namun sering, agar seluruh makanan tersebut lebih mudah diterima lambung. Serta jangan makan menjelang tidur supaya mengurangi presentasi asam lambung naik ke bagian kerongkongan. Beri jeda dua hingga tiga jam setelah makan baru tidur.


    2. MAAG

    Tidak hanya GERD, maag juga kerap dikeluhkan terjadi saat menjalani bulan puasa. Ada dua penyebab utama terjadinya maag yaitu maag fungsional dan maag organik. Maag fungsional timbul lantaran kebiasaan makan kamu yang tidak teratur sehingga lambung sulit beradaptasi dan menyebabkan iritasi pada dinding mukosa lambung. Lifestyle yang buruk seperti sering mengonsumsi alkohol, merokok, serta mengonsumsi makanan pedas, bersantan, serta asam juga dapat memicu maag ini. Sedangkan pada maag organik, penyakit ini disebabkan masalah kesehatan serius seperti terdapat polip, luka lambung, bahkan tumor yang bisa kamu ketahui dengan melakukan pemeriksaan endoskopi.

    “Jam makan yang berubah lalu komposisi makanan saat berbuka puasa yang manis, kaya karbohidrat, dan disantap dalam jumlah besar juga menjadi faktor pemicu maag. Perilaku makan yang salah saat berbuka puasa membuat lambung ‘kaget’ dan teriritasi sehingga berakhir membuat perut Anda sakit,” ujar Dokter Spesial Penyakit Dalam, Dr. Jeffri Aloys Gunawan, SpPD dari Brawijaya Hospitals. Berbeda dengan GERD, gejala maag yang sering dirasakan di antaranya: nyeri ulu hati disertai sensasi terbakar di bagian dada, perut kembung, nyeri perut yang terasa begitu menyakitkan seperti ditusuk-tusuk, mual, muntah, mudah terasa kenyang.


    FIX IT: 

    Kunci bagi para penderita maag agar tetap nyaman saat berpuasa adalah selektif dalam memilih menu makanan dan minuman. Sebaiknya kamu menjauhi makanan yang terlalu pedas, asam, berminyak, dan berlemak. Hindari juga makanan yang bisa memicu produksi asam lambung berlebih seperti umbi-umbian dan sayuran yang mengandung gas di dalamnya. Bahan makanan yang mengandung kafein seperti teh, kopi, dan cokelat juga patut diperhatikan porsinya. Pilih alternatif mengolah makanan dengan cara yang lebih sehat seperti dipanggang, dikukus, atau direbus.




    3. Irritable Bowel Syndrome (IBS)

    Area saluran cerna jelas jadi sistem organ lain yang ikut pengaruh dalam aktivitas puasa. “Selain area lambung, usus sebagai tempat mencerna makanan juga terkadang terganggu prosesnya selama puasa. Salah satu yang sering dikeluhkan pasien adalah timbulnya penyakit irritable bowel syndrom (IBS). Penyakit ini diduga disebabkan dari kebiasaan pasien yang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat, gluten, asam, serta lemak yang sulit dicerna. Iritasi usus besar (IBS) juga timbul karena adanya pergerakan abnormal dari kontraksi otot dinding usus yang memicu penumpukan gas serta diare. Sebaliknya jika kontraksi terlalu lemah juga bisa menimbulkan sembelit. Untuk mendiagnosa IBS ini perlu dilakukan pemeriksaan oleh Spesialis Penyakit Dalam agar dapat segera ditangani,” terang Dr. Jeff.


    IBS ini bisa dikenali dengan beberapa tanda seperti: rasa tidak nyaman pada perut, diare, lalu pola buang air besar yang tidak teratur dan jelas. “Dalam beberapa penelitian aktivitas puasa sebenarnya justru baik bagi penderita iritasi usus besar, karena membuat perut menjadi lebih tenang. Hanya saja, Anda perlu melakukan pemeriksaan dahulu ke dokter apakah iritasi usus Anda tergolong aman untuk berpuasa atau sebaliknya," tambah dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktik di Brawijaya Hospital Antasari tersebut.


    FIX IT:

    Menurut dokter Jeff, selain faktor makanan yang kurang tepat, waktu tidur yang kurang juga bisa memengaruhi sistem saraf usus. Ini juga yang membuat usus dan perut bawah kamu menjadi rentan bermasalah. Jadi usahakan agar kamu tetap beristirahat cukup dan teratur selama bulan puasa. Ganti pula makanan ke pilihan yang rendah lemak, karbohidrat, dan gluten.




    4. SARIAWAN DAN BAU MULUT

    “Sariwan bisa terjadi karena mikroflora di mulut mengalami perubahan keseimbangan karena konsumsi makanan, terutama karbohidrat berubah drastis. Biasanya ada bakteri tertentu juga yang mengakibatkan bau mulut dan berkembang biak lebih banyak, sehingga membuat mulut mengeluarkan aroma kurang sedap,” tutur Dr. Jeff. Tidak hanya itu, asam lambung yang tinggi juga bisa membuat bau mulut dan sariawan. Itu karena asam lambung bersifat asam sehingga memicu iritasi yang berkembang menjadi radang di membran mukosa saluran cerna.

    Sariawan juga bisa juga disebabkan karena lemahnya imun tubuh jadi membuat tubuh mudah mengalami infeksi atau radang. “Yang menjadi concern adalah saat sariawan Anda tidak sembuh-sembuh dan gejala lain seperti nyeri sendi berpindah atau rambut rontok. Itu bisa saja pertanda dari gejala auto imun dan bukan berasal dari asam lambung yang tinggi. Anda perlu memeriksakan diri ke Spesialis Penyakit Dalam jika ini sering dialami,” tambah Dr. Jeff.

    FIX IT: 

    Cukupi cairan tubuh kamu dengan minum air putih saat sahur dan berbuka puasa. Mulut yang kering dapat membuat bau mulut yang menyengat. Jaga kesehatan mulut dan lakukan pemeriksaan gigi rutin serta pembersihan karang gigi agar mulut selalu sehat. Hindari pula beberapa makanan yang memiliki aroma menyengat seperti bawang dan durian.



    5. PUSING

    Rasa pusing saat puasa bisa saja datang dari beberapa penyebab. Salah satunya kurangnya asupan vitamin B1, B6, dan B12 atau vitamin neurotropik. “Suplai vitamin neurotropik tersebut biasanya didapat dari makanan. Hanya saja karena puasa, suplai tersebut juga menjadi berkurang. Akhirnya ini dapat menjadi salah satu faktor yang menimbulkan pusing karena pola makan yang berubah. Akhirnya ini membuat kepala Anda pusing,” tutur Dr. Jeff. Menurut Dr. Jeff juga gejala pusing selama bulan puasa bisa dipicu multi faktorial lainnya seperti kadar kolesterol yang tinggi atau karena tekanan darahmu naik. Atau sebaliknya pusing juga tekanan terlalu rendah.

    FIX IT: 

    Perbanyak asupan vitamin B1, B6, dan B12 dalam menu buka puasa dan sahurmu, dear! Beberapa bahan makanan seperti daging sapi, daging ayam, telur, salmon, tuna kaya akan vitamin B1, B6, dan B12 tersebut. Beberapa buah contohnya alpukat, blueberry, pisang, mangga, dan nanas juga memiliki kandungan vitamin B yang memadai. Jika rasa pusing ini sampai menganggu aktivitas, sebaiknya segera periksakan ke dokter.




    6. DIARE

    Kamu termasuk yang sering kali mengalami diare saat berpuasa? Hold on! Penyakit tersebut sebenarnya bisa saja muncul karena kamu mengonsumsi makanan pemicu diare, misalnya makanan yang terlalu pedas dan asam saat berbuka puasa dan sahur. Makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit juga menjadi penyebab kamu mengalami diare. Dan diare ternyata juga bisa terjadi 10 hari pertama kamu berpuasa, sebab itu merupakan bagian dari proses detoksifikasi tubuh.


    FIX IT: 

    Selalu cuci tangan kamu sebelum makanan dan mengolah makanan menggunakan sabun dan air bersih. Meski beberapa jajanan, takjil, dan menu makanan sahur dan berbuka yang dijual di luar terlihat menggoda, hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak terjaga kebersihannya. Ada baiknya kamu mengolah sendiri menu makanan dan minuman supaya selalu terjaga kualitas dan kebersihannya. Kurangi juga menu makanan yang terlalu pedas dan asam.


    7. HIPERTENSI

    Penyakit metabolik seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi juga kerap ‘menghantui’ saat berpuasa. Terutama bagi mereka telah memiliki riwayat penyakit tersebut sebelumnya. Lagi-lagi jam tidur yang kian berkurang juga menjadi pemicu adanya tensi darah naik alias hipertensi. “Selain itu, tekanan darah tinggi juga bisa muncul karena Anda mengonsumsi makanan yang menjadi pemicu hipertensi seperti yang mengandung garam, santan dan jeroan dalam jumlah banyak. Saat ini mereka yang berusia produktif pun rentan mengalami hipertensi," tekan Dr. Jeff.


    FIX IT:

    Tekanan darah yang tinggi patut diwaspadai terlebih bagi mereka yang sakitnya sudah parah dan mengonsumsi obat dalam jumlah tertentu. Untuk itu sebelum berpuasa kamu sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Karena penyakit ini memerlukan penanganan serta dosisi pengobatan yang tepat agar tidak berimbas ke beberapa penyakit lainnya seperti stroke, sakit jantung, dan ginjal. 


    (Giovani Untari / Images: Dok. Freepik.com/ Artikel disadur dari rubrik MAJOR HEALTH yang terbit di COSMOPOLITAN INDONESIA edisi April - Mei 2020 dengan Judul WAKTUNYA PUASA BEBAS DRAMA (KESEHATAN)!"