Better You

4 Sikap Impulsif Dan Cara Mengontrolnya

  by: Givania Diwiya Citta       8/5/2020
    • Impulsif adalah sifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati, yang juga bisa memengaruhi kamu dalam memutuskan pilihan hidup. 
    • Mari pahami impulsivity lebih dalam, agar mengenali cara untuk meredamnya. Kata kunci yang harus diingat: You got the control in you!


    Nyatanya, impulsif juga mencakup berbagai jenis perilaku keseharian yang terkadang kerap kita toleransi, atau dijustifikasi benar saat kita beraksi melakukannya, kemudian di masa depan, hal tersebut tidak terjadi sekali dua kali saja. Bahkan pada kasus penderita Borderline Personality Disorder (BPD), gejala impulsif ini bisa memengaruhi fungsi kehidupan keseharian secara signifikan, lho. Ada yang tampaknya tak bisa mengontrol pengeluaran, ada juga yang tampak terus-terusan meledakkan emosi, bahkan dalam kasus yang lebih gawat, bisa impulsif menyakiti dirinya sendiri. Untuk itu, mengatasi impulsif yang termasuk ke dalam kesehatan mental ini patut dikenali lebih dalam. Karena ada cara untuk meredamnya, dan ada cara untuk memunculkan kembali kontrol dalam diri yang sejatinya dimiliki masing-masing individu. Journey starts now!




    Overspending

    Salah satu contoh impulsif yang paling konkret terjadi di era milenial ini adalah overspending. Ya, hasil riset Mastercard pada tahun 2015 saja mengemukakan bahwa generasi milenial di Indonesia (50%) dan Thailand (60%) merupakan pelanggan paling impulsif di Asia Pasifik. Dalam riset tersebut disebutkan bahwa setidaknya setengah dari pembelian barang mewah dilakukan berdasarkan spontanitas. Oopsie… Terkadang rasanya seperti adiksi bahwa setiap rupiah dari rekening bisa melayang untuk membeli atau dihabiskan terhadap barang atau hal yang dirasa bisa memberi kebahagiaan. Yang jadi bahayanya, sikap ini bisa berjalan di luar kontrol. Ingat apa yang dialami Rebecca dalam Confessions of a Shopaholic?



    Take over control:

    Tetap izinkan diri kamu berbelanja, namun dalam budget yang ditentukan secara reasonable dan affordable selama periode tertentu. Itulah uang yang bisa dipakai untuk anggaran memanjakan diri. Tapi berkomitmenlah terhadap budget tersebut. Meski sulit menghalau niatan overspending dari dalam diri, namun sebelum memutuskan untuk bertransaksi, cobalah pisahkan faktor emosi yang memicu keinginan untuk berbelanja. You know that deep down you’re wise enough to shop or not to shop.


    Oversharing

    Sindrom ini juga merupakan bentuk sikap impulsif yang tak disadari kerap kita lakukan sehari-hari. Baik itu sesederhana menceritakan tentang pengalaman personal saat berkenalan dengan orang baru (ehm, seperti Emma Corrigan dalam Can You Keep a Secret?), atau membeberkan detail hidup orang lain saat pesta cocktail berlangsung demi menambah keseruan. Mungkin tampak seperti karakter ekstrover, tapi sesungguhnya, oversharing adalah wujud dari rasa gelisah dan stres. Mengutip Elizabeth Bernstein, kolumnis ‘Bonds’ di The Wall Street Journal, psikolog menyebut oversharing sebagai sebuah self-regulation. Yaitu saat kita mencoba menciptakan kesan baik dengan seseorang, seperti bos, klien, kenalan baru, kita mengerahkan energi mental yang cukup banyak agar bisa jadi witty dan atraktif. Tapi yang terjadi… ada kelemahan emosi untuk mensensor diri sendiri. Kita cenderung gugup, dan babbling pun tumpah ruah.



    Take over control:

    Pepatah kuno yang mungkin selalu kita dengar wejangannya dari orangtua rasanya benar: pikir baik-baik sebelum buka mulut. Meski sulit untuk mengingatkan diri untuk kontrol bicara, tapi jika kamu sudah terlanjur setengah mengekspos pengalaman hidup, cobalah untuk berhenti saat itu juga. Lalu ucapkan mantra, “Diam itu emas,” dan sampaikan maaf jika kamu telah membocorkan rahasia orang lain.


    Easily Angry

    Sifat mudah marah dapat berubah jadi sebuah agresi yang membuat kita melontarkan berbagai kata panas saat emosi memuncak. Entah itu untuk konteks kemarahan besar, ataupun jika kesal dengan hal-hal berlevel kecil. Jika kamu gampang marah hingga kerap menyesali telah mengucapkan beberapa kata pahit (yang selalu terulang lagi-dan-lagi), maka kemarahan ini telah menjadi sikap impulsif. Mengutip Black Dog Institute, kemarahan adalah emosi yang berguna jika disalurkan pada waktu yang tepat, karena bisa menstimulasi diri untuk melindungi dan membela nilai-nilai yang dianut. Tapi di saat frustasi, sebisa mungkin kendalikanlah ledakan emosi dengan bilang pada diri sendiri, “Ya, bisa dipahami jika saya marah karena ini, tapi apakah marah akan menyelesaikan masalah?”





    Take over control:

    Mungkin ada beberapa sifat introver yang bisa diserap untuk mengambil alih kontrol dari impulsif mudah marah. Seperti mengobservasi situasi membingungkan dan mengecewakan apa yang sedang terjadi pada kamu. Dengan mengamati dan memecah skenario buruk yang terjadi ke dalam potongan-potongan kecil untuk mengambil alternatif solusi, bisa memberi perubahan reaksi kamu dalam meresponsnya. 


    Digital Blurting

    Ya, terlalu banyak mencuit atau berkomentar di media sosial juga merupakan wujud impulsif di era modern. Kita pun tahu sendiri risiko berkomunikasi di media sosial, karena meskipun sebuah komentar bisa dihapus, namun jejak buktinya bisa tersebar dan tak hilang dari dunia maya sekaligus dunia nyata. 



    Take over control:

    Mulai dari menggunakan email, Instagram, Twitter, dan berbagai aplikasi pesan instan, ada satu moto yang bisa diterapkan untuk mereduksi impulsif dalam dunia maya: Pause your fingers before hitting send. Ada baiknya juga untuk mengingat statement Dialectical Behavior Therapy (DBT) berikut ini, “Hanya karena kamu *bisa* melakukan sesuatu, bukan berarti kamu *harus* melakukannya.” Meski tergoda ingin harus-segera-balas, tapi ambillah jeda untuk memikirkan apakah kata-kata ini sudah pantas dan layak untuk dipublikasikan. Lalu jika kasusnya kamu pun blurting saat chat dengan si dia karena ia tak segera balas pesan kamu… girl, cobalah distraksi pikiran dengan mengkreasikan Pinterest board, atau membaca cerita pendek, atau menonton video menggemaskan tentang puppy yang berhasil naik tangga pertama kali.


    Jika impulsif serasa semakin parah dan kian menjalar, jangan sungkan untuk menemui psikiater. Ada beberapa treatment yang bisa mengelola gejala impulsif ini, mulai dari DBT, mindful meditation, mood stabilizers, sampai beberapa pengobatan resmi untuk mengatasi perilaku impulsif yang ekstrem. You got this, bb.


    (Givania Diwiya / FT / Image: Andrea Piacquadio from Pexels)