Lifestyle

Mengenal Desa Umoja, Desa Khusus Wanita di Kenya, Afrika

  by: Alexander Kusumapradja       12/5/2020
    • Desa Umoja di Kenya didirikan untuk menjadi tempat perlindungan wanita yang terdampak kekerasan domestik dan seksual.
    • Pendiri Umoja, Rebecca Lolosoli kerap menjadi figur feminisme dan memperjuangkan hak wanita di Afrika.


    Kalau kamu pernah menonton film Wonder Woman yang dibintangi oleh Gal Gadot tahun 2017 lalu, kamu pasti mengetahui tentang pulau asal Wonder Woman bernama Themyscira yang semua penduduknya adalah wanita di mana kaum pria dilarang masuk apalagi menetap. Cerita tersebut dilatari oleh legenda suku wanita Amazons dari mitologi Yunani dan ternyata kisah tentang masyarakat yang hanya dihuni oleh kaum wanita bukan hanya isapan jempol atau legenda dari masa lalu saja. Di masa modern seperti saat ini, masih ada beberapa tempat yang mengusung sistem matriarki, mulai dari suku Mosuo di Tibet, Bribri di Kosta Rika, Nagovisi di Nugini, hingga suku Minangkabau di Sumatra Barat. Namun, bila suku-suku tersebut mengusung sistem matriarki umumnya berdasarkan adat istiadat dari leluhur, bagi para wanita di Desa Umoja yang terletak di Kenya, Afrika, desa khusus wanita yang mereka dirikan adalah tempat perlindungan dari kekerasan domestik, pelecehan seksual, serta adat istiadat yang dibangun oleh sistem patriarki.



    Dikenal sebagai Umajo Uaso oleh masyarakat setempat, Umoja yang berarti “persatuan” dalam Bahasa Swahili adalah desa khusus wanita yang didirikan oleh Rebecca Lolosoli di tahun 1990 sebagai sebuah tempat berlindung bagi para penyintas kekerasan terhadap wanita dan para gadis muda yang melarikan diri dari budaya kawin paksa, khususnya mereka yang berasal dari Suku Samburu. Dalam masyarakat Samburu yang berbasis patriarki, wanita adalah warga kelas dua yang tak diizinkan memiliki tanah ataupun properti lain seperti hewan ternak. Mereka pun kerap dihadapkan dengan budaya sunat perempuan, kawin paksa dengan pria yang jauh lebih tua, kekerasan seksual dan kekerasan domestik.


    Banyak wanita Samburu yang mengalami kasus pemerkosaan justru mengalami kekerasan oleh suami mereka karena dianggap membawa aib dan penyakit serta diusir dari rumah ataupun kabur karena terancam dibunuh. Ketika banyak wanita berada di kondisi tak punya rumah dan harta, sebuah gagasan pun muncul untuk menciptakan sebuah desa di mana wanita bisa merasa aman dan bertahan hidup tanpa harus tergantung sosok lelaki. Salah satu pencetusnya adalah Rebecca Lolosoli yang punya pengalaman pahit di desa kelahirannya di mana ia membuka usaha menjual barang-barang dan suatu hari dirampok dan dipukuli oleh empat pria sampai masuk rumah sakit. Motif penyerangan itu tak hanya karena uang tapi karena Rebecca juga dikenal sebagai sosok yang vokal menyuarakan hak-hak wanita di sukunya. Wanita kelahiran 1962 ini sendiri telah dinikahkan di umur 18 tahun dengan mas kawin 17 sapi. Ketika sang suami tak bertindak apapun untuk membelanya, setelah keluar dari rumah sakit ia pun pergi meninggalkan suami dan desanya lalu mendirikan Desa Umoja bersama 15 wanita lainnya.


    Untuk mencari nafkah, awalnya para wanita Umoja hanya menjual kembali sayur-mayur yang mereka beli dari sumber lain karena mereka belum tahu caranya bertani sendiri. Cara ini tak terlalu berhasil dan akhirnya mereka banting setir menjual kerajinan tradisional suku Samburu untuk para turis yang datang ke desa mereka ataupun Cagar Alam Nasional Samburu. Usaha mereka mendapat perhatian dari Kenya Wildlife Service yang membuka kesempatan bagi wanita Umoja untuk belajar dari suku yang lebih sukses seperti Maasai Mara dan juga mendapat bantuan dari Kementrian Budaya Kenya. Perlahan, Desa Umoja pun bisa bertahan hidup dan menjalankan masyarakatnya sendiri. Hal ini menimbulkan kemarahan dan iri dari sebagian pria yang kemudian mendirikan desa di sekitar Umoja untuk memblokade turis mengunjungi Umoja dan menjual barang kerajinan buatan mereka sendiri. Untungnya, hal itu tak menyurutkan semangat dan dukungan untuk wanita Umoja dan desa-desa rival tersebut akhirnya gagal dan malah tanahnya dibeli oleh para wanita Umoja untuk memperluas wilayah mereka.

    Rebecca Lolosoli pun diundang ke kantor PBB di New York pada tahun 2005 di mana ia mendapat banyak ancaman mati dari pria-pria di desa sekitar yang juga mengajukan tuntutan hukum untuk menutup desa Umoja. Kemarahan itu pun beberapa kali menjadi ancaman serius bagi keselamatan wanita Umoja, Karena budaya Samburu tak mengenal proses perceraian secara formal, terkadang suami-suami tersebut memaksa masuk Umoja untuk menyeret pulang istrinya kembali dan bila ditolak dan melakukan ancaman kekerasan, para wanita Umoja akan segera melaporkannya ke otoritas setempat. Tak terkecuali yang pernah dialami oleh Rebecca sendiri di tahun 2009 ketika mantan suaminya datang ke desa Umoja dengan tujuan menghabisi nyawanya. Beruntung, saat itu Rebecca sedang tak berada di desa dan untuk sementara waktu, para wanita Umoja pun meninggalkan desa untuk keselamatan jiwa mereka. Setahun setelahnya, Rebecca mendapat penghargaan Global Leadership Award dari Vital Voices.


    Masyarakat Umoja tinggal di rumah tradisional bernama manyata dan memakai pakaian tradisional serta aksesori suku Samburu. Desa ini menampung para wanita yang dibuang oleh keluarga atau kabur dari desa dan membesarkan anak-anak terlantar, anak yatim-piatu, dan anak terinfeksi HIV yang dibuang oleh keluarga. Mata pencaharian utama wanita Umoja adalah menjual barang-barang kerajinan tradisional Samburu yang dijual di Umoja Waso Women's Cultural Center dan juga dijual online di situs mereka. Setiap wanita mendonasikan 10 persen pendapatan mereka ke desa sebagai pajak untuk membiayai sekolah dan kebutuhan bersama.



    Bila di desa lain anak-anak umumnya dipekerjakan membantu merawat hewan ternak, di Umoja setiap anak berhak mendapat pendidikan di sekolah dasar desa tersebut yang bisa menampung 50 anak dan desa ini juga telah membangun sekolah perawat sendiri. Selain berkegiatan di desa mereka, wanita Umoja pun kerap bertandang ke desa-desa lain untuk mempromosikan hak-hak wanita dan berkampanye menolak budaya sunat perempuan.


    Walaupun Rebecca Lolosoli adalah pendiri dan sosok pemimpin di Desa Umoja, namun setiap wanita di desa ini punya status kedudukan yang sederajat satu sama lain dan setiap keputusan diambil berdasarkan musyawarah di bawah pohon yang disebut sebagai “tree of speech”. Meskipun hanya wanita dan anak-anak yang diizinkan tinggal di desa ini, kaum pria sebetulnya masih diizinkan untuk mengunjungi desa ini baik itu sebagai pasangan atau menjadi pekerja bayaran, namun mereka tak boleh tinggal. Hanya pria yang waktu kecil dibesarkan di Umoja yang boleh tidur di desa tersebut. Catatan populasi terakhir Umoja di tahun 2015, desa ini dihuni oleh 47 wanita dan 200 anak-anak.


    (Alex.K./Foto: Ethan McArthur on Unsplash )