Lifestyle

Kisah Lain di Balik Gemerlapnya Dunia K-Pop yang Kita Kenal

  by: Alvin Yoga       15/5/2020
    • Gemerlap dunia K-pop terasa seperti mimpi, namun di baliknya ada banyak kisah kelam yang tidak kita ketahui.
    • Kematian dua bintang ternama K-pop di tahun 2019 lalu seharusnya membuka mata kita terhadap apa yang terjadi di balik panggung megah mereka.


    Bagi para penggemar K-pop, riuh rendah musik tersebut terasa seperti mimpi—sebuah fantasi yang memabukkan. Mirisnya, begitu juga ketika kabar kematian dua bintang ternama K-pop di tahun 2019 lalu muncul, semua terasa seperti mimpi yang tidak bisa dipercaya. Kenyataannya, mereka mungkin tidak mati karena bunuh diri, tapi "dibunuh" atas komentar-komentar keras dan kejam yang dilemparkan oleh para warganet.

    Oktober 2019 lalu, mendiang penyanyi K-pop Goo Hara sempat mengunggah kesedihannya di Instagram, dan tampaknya ia benar-benar hancur. Ia menangisi kepergian dari teman baiknya, sesama penyanyi K-pop, mendiang Sulli, mantan anggota dari sebuah girl group terkenal, f(x). Almarhum Sulli meninggal akibat bunuh diri, jenazahnya ditemukan oleh sang manajer sehari setelahnya. Ia tak meninggalkan pesan apa-apa.



    Dalam IG Live, wajah Goo Hara terlihat penuh dengan air mata, dan mukanya penuh dengan raut penyesalan serta kehilangan. Ia tidak mengatakan apa-apa soal kematian Sulli—alih-alih, selama tiga menit penuh ia berbicara seakan-akan ia mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya tersebut. "Adikku," ujarnya saat itu. Ia kemudian meminta maaf karena ia sepertinya tidak bisa datang ke pemakaman, ia sedang berada di luar negeri untuk bekerja.

    Ribuan penggemar yang menonton bisa melihat dengan jelas bahwa Hara sedang mengeluarkan rasa sakit yang selama ini ia pendam dalam hatinya. Mereka meninggalkan ratusan, bahkan ribuan, emoji patah-hati dalam kolom komentar, dan bertanya apakah ia baik-baik saja. "Saya akan hidup dua kali lebih baik dari saat ini," ucap Hara. "Untuk para penggemarku, saya akan baik-baik saja. Tak perlu mencemaskan keadaan saya."

    Sebulan kemudian, Goo Hara ikut mengakhiri hidupnya.


    The thing about K-pop

    Ketika musik lain membuat perasaanmu jadi moody atau membuatmu marah pada mantanmu, K-pop membuatmu merasa...bersemangat, dan ingin berjoget bersama mereka.

    Lagu-lagu K-pop memiliki irama upbeat yang seakan "menempel" di pikiran, membuat kita candu dan tak bisa berhenti mendengarkan lagu tersebut. Artis K-pop adalah ikon, juga meme yang menarik, dan penampilan mereka yang sempurna serta memukau di atas panggung tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Jika harus menilik ulang, semuanya berasal dari tahun 1989, ketika Lee Soo-man, sang penggagas yang juga founder dari SM Entertainment, mendirikan perusahaan atas inisial namanya, SM Studio. Dengan modal awal sekitar 200 juta won, lima tahun kemudian ia "melahirkan" HOT, grup idola pria pertamanya. Dari sinilah semuanya dimulai.

    Musik K-pop kemudian semakin dikenal ketika pada tahun 2012 lalu Psy merilis lagu Gangnam Style. Lagu tersebut benar-benar viral, Psy pun tampil pada sederet panggung terkenal di Amerika Serikat; sebut saja American Music Awards, iHeartRadio Music Festival, serta MTV Video Music Awards. Psy juga muncul di berbagai acara seperti The Ellen DeGeneres Show, Saturday Night Live, serta The Tonight Show with Jay Leno. Bisa dikatakan, ia "membuka jalan" bagi industri K-pop untuk semakin meluas di dunia musik Barat yang selama ini mendominasi.

    Kini, industri K-pop telah menjadi bisnis bernilai miliaran—bahkan biliunan. Salah satu yang paling terkenal, boy band BTS, mendatangkan US$3,6 miliar pada ekonomi Korea Selatan setiap tahunnya, hanya dengan penampilan mereka seorang.



    Jumlah tersebut hanya untuk penampilan mereka di Korea Selatan, sedangkan BTS sendiri sibuk berkeliling dunia sepanjang 2019 kemarin. Seluruh tiket konser mereka (dengan venue konser seukuran stadium) habis dalam hitungan menit. Ketika BTS memutuskan untuk mengadakan konser di New York City pada menit-menit terakhir, tiketnya bahkan habis hanya dalam 20 menit.

    Seiring dengan meningkatnya popularitas, jadwal mereka pun semakin padat. BTS tak lagi cuma sekadar menggelar konser, mereka pun tampil secara reguler di berbagai morning show, juga late-night show. 

    Truth be told, seluruh kegiatan tersebut merupakan contoh dari apa yang diminta perusahaan pada para artis K-pop, serta apa yang diperbolehkan dari sang perusahaan bagi para idolamu.

    Yang tidak boleh dilakukan oleh para idola K-pop adalah membeberkan seberapa toxic, manipulatif, dan tidak berperi-kemanusiaan hal-hal di balik panggung yang mendorong para idola tersebut untuk melakukan hal-hal yang ekstrem. "Sejarah K-pop merupakan serangkaian kisah yang ditutup-tutupi," ujar John Lie, penulis K-Pop: Popular Music, Cultural Amnesia, and Economic Innovation in South Korea. "Eksploitasi adalah salah satu penyalahgunaan kekuasaan yang terburuk."

    Mengekspos masalah-masalah ~tersembunyi~ dari industri ini bisa dikatakan hampir mustahil, sebagian besar karena sang pelaku sendiri adalah atasan dari sang penyanyi itu sendiri. "Satu hal yang membuat K-pop berbeda—dan lebih eksploitatif dari segala sisi—adalah bahwa sang artis sendiri merupakan pegawainya, dan bukan sebaliknya,” jelas Lie. Seluruh perusahaan hiburan yang besar tersebut mendikte setiap gerakan publik (dan terkadang pribadi) dari para idola K-pop. Nyatanya, para artis seringkali terikat dengan kontrak kuat yang menghalangi mereka untuk mengatakan apa yang ingin mereka katakan.

    Cosmo akhirnya paham. Kami berusaha untuk menghubungi lusinan orang dalam industri K-pop mengenai masalah ini, dan kami terus menerus diabaikan, atau pesan kami tak dibalas. Tulisan ini hampir saja menjadi angan-angan belaka. Hingga akhirnya satu seniman setuju untuk berbicara pada kami.

    "Banyak artis memilih untuk tetap diam karena mereka mendapat ancaman—mereka takut dicoret dari industri, dan merasa jauh tidak berdaya dibandingkan dengan perusahaan mereka," artis K-pop, penulis lagu, serta YouTuber Grazy Grace secara eksklusif memberitahu Cosmo. "Tapi penting bagi saya untuk bicara dengan terbuka seperti ini, sehingga orang lain tak perlu melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah saya lakukan."



    Semuanya berawal dari asrama

    Berbeda dengan di sini, di mana kamu perlu bergantung pada koneksi yang luas serta setumpuk keberuntungan untuk bisa mendapatkan perhatian seorang produser atau seorang eksekutif label, satu-satunya cara yang berlaku di dunia K-pop untuk bisa menjadi seorang idol adalah dengan berpartisipasi dalam program pelatihan yang dimiliki oleh berbagai perusahaan entertainment—yang tentu saja bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Tujuan dari perusahaan tersebut tentu saja mengorbitkan barisan bintang-bintang baru secara terus menerus setiap tahunnya, menampilkan artis-artis dengan kemampuan lebih-dari-sempurna ke atas panggung megah mereka.

    Sang trainee—sebutan untuk mereka yang terpilih untuk berlatih menjadi seorang idol—boleh ikut masuk sejak umur 11 tahun. Usia yang tentunya masih sangat belia. Mereka kemudian dijejalkan dalam sebuah ruangan (dalam kasus Grace, bersama dengan delapan orang lainnya), tidur di ranjang tingkat atau di lantai dengan alas. Tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman mereka (suatu hal yang tipikal di Seoul), mereka lalu dipaksa untuk "bekerja" selama 12 jam penuh sehari, atau bahkan lebih. "Pekerjaan" mereka adalah menghafal lirik lagu dengan cepat, mengingat gerakan tari yang rumit, serta berlatih hingga tingkat kesalahan mereka turun menjadi nol. Semua mereka lakukan secara cuma-cuma. "Pembayaran" datang berupa tempat tinggal (kamar) gratis, pelajaran menari dan kelas menyanyi gratis...dan terkadang operasi wajah pada hidung atau kelopak mata sehingga sang idola terlihat semakin sempurna.




    “Mimpi saya adalah menjadi seorang penyanyi," ujar Grace, yang pernah menjalani pelatihan dengan harapan bisa terpilih untuk sebuah girl group. "Sampai saya menyadari seberapa buruk hal tersebut untuk kesehatan mental. Saya mendapat insomnia. Saya tak bisa tidur selama enam bulan berturut-turut. Saya mulai merasa cemas dan khawatir namun saya tidak tahu apa itu anxiety attack. Saya memilih untuk tidak menyampaikan apa yang saya rasakan karena saya tidak ingin dipecat oleh perusahaan. Saya berpikir jika saya terlihat depresi, mereka akan melepaskan saya."



    Grace pun harus menerima serangan verbal setiap kali ia menangis. Ia tetap diam setiap pemeriksaan berat badan mingguan. Perempuan-perempuan seperti Grace tidak diperbolehkan untuk bertambah seratus gram pun, jelasnya. (Di tahun 2018 silam, Momo, seorang penyanyi dari grup K-pop Twice, menggunggah di sosial media VLive bahwa ia hanya diperbolehkan untuk menelan satu dadu es untuk satu hari sampai ia bisa menurunkan berat badannya sebanyak 7 kilogram.)



    “Perlahan-lahan, kamu mulai kehilangan dirimu," ujar Grace. Dan hal tersebut terjadi karena aturan-aturan yang ada. Beberapa ruangan trainee bahkan dimonitor dengan kamera, dan ponsel harus dicek secara reguler oleh para manajer. Unggahan di sosial media pun harus mendapatkan persetujuan, dan setiap foto selfie harus dilihat terlebih dahulu sebelum diunggah. (Salah satu alasannya adalah untuk memastikan bahwa tidak ada interaksi dengan trainee lain dari lawan jenis. Hubungan romantis bisa membuat pelatihanmu berakhir—bahkan idola K-pop, yaitu sebutan bagi mereka yang sudah lolos masa pelatihan dan telah debut, seringnya dalam kontrak dilarang untuk berkencan selama beberapa tahun pertama karier mereka agar terlihat "available" bagi para penggemar.)

    Dan begitu kamu terpilih, maka kamu masuk dalam aturan tersebut. Beberapa trainee menandatangani kontrak yang mengatakan bahwa jika mereka keluar, mereka harus membayar kembali semua program yang telah mereka jalani. Jumlahnya jelas tergantung dari perusahaan tersebut, namun jumlahnya bisa mencapai ratusan juta rupiah, atau bahkan lebih.

    Kebanyakan tidak terpilih. Begitu juga dengan Grace. Setelah tiga tahun yang berat, dan tanpa dibayar, perusahaan tersebut melepasnya.


    Bagi mereka yang beruntung dan terpilih menjadi Idol

    Keadaan tetap tidak membaik. Terkadang, keadaan justru semakin buruk, karena kamu diiming-imingi ilusi bahwa kamu akan menjadi artis terkenal dan kaya raya. Karena meskipun tiket konser K-pop bisa terjual dalam hitungan menit, beberapa artis bahkan tidak mampu membelikan teman mereka tiket untuk pertunjukkan mereka. Ketika Lee Lang memenangkan Best Folk Song di Korean Music Awards, ia menggunakan kesempatan pidatonya untuk melelang pialanya untuk membayar biaya sewa kamar. Sesaat, muncul tawa dari para penonton, lalu kemudian mereka menyadari bahwa hal tersebut bukanlah sebuah candaan. Ruangan pun menjadi sunyi—sampai seseorang mulai mengeluarkan suaranya dan membeli piala tersebut seharga kurang lebih Rp6.000.000,-. Lee pun berkata di atas panggung, "Hal ini mungkin terlihat seru dan menyenangkan bagi Anda yang menonton, namun tidak menyenangkan bagi saya."



    "Banyak musisi K-pop yang tidak bisa menikmati kekayaan," ujar John Lie. Alih-alih, kontrak mereka yang ganas, yang mungkin berlangsung sepanjang karier mereka, hanya memberikan mereka kompensasi dalam jumlah yang sangat kecil. Hal ini terjadi karena kebanyakan artis tidak dilihat sebagai seorang seniman namun sebagai aset perusahaan.

    Mengambil keuntungan dari bintang pop bukanlah suatu hal baru (lihat kembali: Lou Pearlman, sang manajer Backstreet Boys serta NSYNC yang dikenal sangat ekspolitasi artisnya), namun hal ini terjadi secara lebih intens dalam dunia K-pop. "Perusahaan-perusahaan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan mereka dalam jangka waktu sesedikit mungkin," ujar ahli K-pop Lee Hye-jin, PhD, seorang asisten profesor klinis di USC Annenberg School for Communication and Journalism. "Masa hidup karier seorang Idol sangat pendek." Hanya beberapa yang tetap terkenal di atas umur 30.


    Bagi para perempuan, problemnya berlipat ganda. Meski idola perempuan biasanya tidak diperbolehkan untuk menjalani hubungan romantis, hal ini tak menghentikan manajer untuk menjual (bukan dalam tanda kutip) imej seksi mereka pada para penggemar. Bahkan seorang investor pria pernah mencoba untuk membuat persetujuan dengan mengajak Grace "makan malam". Ia dijual seharga Rp400 juta rupiah.

    Untungnya, hal tersebut tidak terjadi, dan Grace baru mengetahui hal tersebut ketika seorang mentor memberitahunya setahun kemudian. "Mungkin sebenarnya hal tersebut terjadi di belakangku sepanjang waktu," ujarnya. Orang lain di industri tersebut terpaksa masuk ke dalam industri prostitusi—salah satu CEO perusahaan entertainment besar bahkan dipenjara karena berani menjual artis mereka. Cosmo yakin kamu tahu siapa yang Cosmo bicarakan.

    Add it all up—sikap serakah dari mereka yang berada di posisi tinggi perusahaan; tekanan yang tiada henti untuk bisa menunjukkan hasil sempurna; serta siksaan tiada henti baik pada tubuh maupun mental—jelas sudah bahwa kematian dari Hara dan Sully bukanlah sekadar tragedi yang menyedihkan namun juga suatu peringatan yang serius.

    Banyak artis K-pop yang memiliki masalah mental, dan ya, mereka membutuhkan bantuan. Sayangnya, mereka bergelut di industri yang terobsesi pada imej sempurna di atas maupun di bawah panggung, serta tinggal di negara di mana membicarakan kesehatan mental merupakan suatu hal yang tabu, sehingga hanya segelintir yang berani mengatakannya secara gamblang.

    Jangan lupakan Kim Jong-hyun, seorang penyanyi dari boyband K-pop terkenal SHINee. Di tahun 2017 silam, ia juga mengakhiri hidupnya, meninggalkan sebuah pesan yang mengatakan bahwa tekanan dari industri di mana ia bekerja berkontribusi besar terhadap depresi yang tak dapat ia hadapi seorang diri.



    About the future

    Beberapa calon Idol mulai menapaki karier mereka melalui media sosial, memberi mereka kesempatan untuk menyingkirkan sistem abusive dan lebih fokus pada musik. "Kini keadaan sudah membaik, dan banyak yang bisa lebih mandiri dibandingkan keadaan beberapa tahun lalu," ucap Grace, yang, selama tiga tahun terakhir, perlahan-lahan membangun akun pribadi YouTube-nya sehingga kini ia punya lebih dari 200.000 pengikut. "Kalian bisa melihatnya: banyak orang memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan mendirikan perusahaan mereka sendiri."

    Dan meskipun topik kesehatan mental telah lama dianggap sebagai suatu hal yang sebaiknya tidak dibicarakan, kini makin banyak artis yang peduli terhadap hal tersebut. Sebut saja artis K-pop Taeyeon dari Girls' Generation, yang akhirnya terbuka pada para penggemarnya di Instagram dan mengatakan bahwa selama ini ia turut menggunakan obat anti-depresi. Juga rapper dari BTS, yaitu Suga dan RM, yang secara terus menerus menggunakan platform media sosial mereka untuk berbicara seputar isu depresi dan anxiety.

    “Seiring bertambahnya artis K-pop yang semakin vokal membicarakan keadaan diri mereka, para perusahaan akan mulai menyadari bahwa mereka perlu melakukan langkah spesifik," ujar John Lie. Kim Ju Oak, PhD, seorang asisten profesor dari Texas A&M International University juga menambahkan, "Perubahan dramatis mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, namun mau tidak mau perubahan pasti akan terjadi, sedikit demi sedikit."

    Here’s one: BTS baru-baru ini diberikan perpanjangan waktu untuk liburan mereka—untuk yang pertama kali setelah enam tahun debut.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. BRUNO CERVERA on Unsplash / Edwin Andrade on Unsplash / Giphy)