Lifestyle

Alasan Mengapa Kamu Terobsesi Membaca Berita Virus Corona

  by: Alvin Yoga       23/5/2020
  • Virus corona merupakan salah satu hal pertama yang dipikirkan dan dibicarakan oleh semua orang di seluruh dunia selama tiga-empat bulan ke belakang. Dan kalau kamu memutuskan untuk membaca artikel ini, kemungkinan besar kamu pun sama seperti Cosmo, berusaha untuk membaca semua artikel mengenai saran menghadapi COVID-19 dari sumber-sumber informasi yang terpercaya (seperti World Health Organisation). Di samping membaca berita, Cosmo juga tak bisa berhenti untuk scrolling Twitter dan Instagram di tengah malam—mencari dan melahap seluruh berita serta informasi terbaru mengenai virus corona yang, terkadang menyeramkan atau menyedihkan...

    Penasaran mengapa kita tak bisa berhenti mencari dan mengonsumsi berita-berita tersebut? Sebuah studi terbaru mungkin bisa membantu menjelaskan hal tersebut—yang ternyata berhubungan dengan keinginan untuk tetap berada di bawah kendali diri. Para peneliti dari Tiongkok telah menemukan bahwa meskipun ada penurunan tingkat emosi dan mental pada masyarakat sebesar 74% selama pandemi ini berlangsung, mereka yang merasa memiliki banyak informasi mengenai COVID-19 tetap berada dalam situasi mental yang baik (di luar kenyataan apakah informasi yang mereka terima benar atau tidak mengenai penyakit tersebut). Orang-orang ini menyimpulkan bahwa perilaku mengonsumsi informasi tersebut membuat mereka memiliki kontrol terhadap diri sendiri, yang ternyata menurunkan tingkat kecemasan atau anxiety.

    "Di luar fakta apakah pengetahuan dan informasi (yang dimiliki para partisipan) tersebut benar adanya, mereka yang merasa dirinya lebih teredukasi ternyata bisa melindungi dan menjaga stabilitas emosional secara lebih baik di tengah pandemi," ujar sang penulis, Haiyang Yang dan Jingjing Ma, yang membandingkan dua set data oleh lebih dari 11 ribu partisipan—satu set dari Desember 2019 dan yang kedua dari Februari 2020.






    Inilah alasan pertama mengapa kita tak bisa berhenti membaca berita, namun adakah alasan lainnya? Lalu bagaimana ketika kita membaca berita yang menyedihkan dan menyayat hati? Bukankah hal tersebut bisa memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental kita—seperti ketika kamu membaca berita mengenai perawat yang meninggal akibat menangani kasus corona di rumah sakit, dan mood-mu langsung memburuk.

    Dr Elena Touroni, seorang konsultan psikolog sekaligus co-founder dari The Chelsea Psychology Clinic, bersikeras bahwa "kita membaca berita tersebut tanpa intensi khusus untuk menakut-nakuti diri sendiri." Alih-alih, ia menjelaskan bahwa, "mengecek dan mencari informasi secara terus menerus ialah suatu kebiasaan yang kita sebut sebagai 'perilaku keselamatan diri', dan hal ini didorong oleh keinginan diri untuk tetap merasa aman."

    Sang psikolog juga mencatat bahwa 'perilaku keselamatan diri' ini serupa dengan kebiasaan yang kita kenal sebagai OCD. "Merasa cemas mengenai suatu hal kemudian menggunakan tekanan sebagai sebuah cara untuk mengatur perasaan cemas tersebut merupakan hal yang sering ditemukan dalam banyak anxiety disorder," ujar Dr Elena pada tim Cosmopolitan UK. Namun masalahnya, "'perilaku keselamatan diri' yang seharusnya menghilangkan rasa cemas, justru seringkali malah menggandakan perasaan tersebut."

    Ada juga alasan lain mengapa kita memutuskan untuk mengonsumsi begitu banyak konten mengenai virus corona yang berujung membuat kita merasa tidak bersemangat: yaitu sebuah keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia.

    "Ketika kita dihadapkan pada begitu banyak situasi dan keadaan yang tidak menentu, kita menjadi lebih tertarik pada hal-hal yang bisa membantu kita mendapatkan pengertian mengenai apa yang sedang terjadi," ujar Dr Elena. "Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang awalnya terlihat menyeramkan dan tak bisa ditebak, namun strategi ini sendiri terkadang pada akhirnya membuat perasaan cemas kita justru bertambah."





    Sekarang kamu pasti mengerti mengapa kamu tak bisa berhenti membuka Twitter lebih dari 75 kali sehari, atau mengapa kamu jadi lebih rajin membaca dan menonton berita-berita terbaru mengenai virus corona. Dan di samping keinginanmu untuk tetap teredukasi, ingatlah bahwa kamu juga memiliki opsi untuk berhenti membaca berita-berita tersebut, kalau-kalau kebiasaan tersebut justru membuatmu keadaan mentalmu memburuk.

    Karena di samping menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental juga merupakan hal yang penting, dan saat ini—tanpa kamu sadari—kesehatan mentalmu sedang sangat rentan. Saat ini kita sedang tak bisa melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan untuk menghibur diri; mulai dari bertemu the girls, pergi shopping dan berkeliling mal, atau berolahraga di gym. Alih-alih kita justru menggunakan seluruh waktu kosong tersebut untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia.

    Jadi, saatnya mencintai diri sendiri dan jauhkan dirimu dari media sosial jika hal tersebut membuatmu stres; toh kamu tak bisa mengubah keadaan di luar sana dengan membaca berita-berita tersebut. Biarkan mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memperbaiki keadaan melakukan tugasnya, dan mari kita tetap berdiam diri di rumah sambil mengikuti instruksi social distancing dari pemerintah untuk memutus rantai pandemi. Dan sambil berdiam diri, fokuslah mencari cara untuk menghibur diri meski harus terus menerus berada di dalam rumah.

    Butuh saran? Kamu bisa mencoba bermain puzzle untuk menjauhkan pikiranmu dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Atau coba cek IGTV @cosmoindonesia untuk mencoba berbagai hal seru yang bisa kamu lakukan di rumah, mulai dari resep masakan baru sampai mencoba meditasi.

    'Til we can hug each other again, stay safe, y'all! <3


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. robman on Unsplash / lcs _vgt on Unsplash / jessicasirvin on Unsplash / Giphy.com )