Better You

Zoom Meeting Membuatmu Lelah? Ini Penjelasan dari Ahli!

  by: Alvin Yoga       27/5/2020
    • Pandemi yang masih berlangsung di Indonesia membuat kita harus bekerja dengan cara WFH.
    • PSBB yang berlaku membatasi kita untuk bertemu orang lain secara langsung, membuat berbagai rapat kini harus dilakukan secara daring lewat aplikasi video seperti Zoom.
    • Panggilan video atau video call kini menjadi hal yang biasa.
    • Zoom meeting ternyata membuat kita merasa jauh lebih lelah dibandingkan dengan rapat tatap muka.


    Selama satu minggu kemarin, saya sibuk melakukan berbagai hal: mulai dari meeting mingguan bersama seluruh tim redaksi Cosmopolitan, kelas olahraga dengan personal training saya, kelas workshop bersama sebuah brand smartphone, liputan peluncuran sebuah produk terbaru, kelas seminar khusus yang berhubungan dengan mental health, dan tentu saja...bertukar sapa dengan teman-teman saya yang merayakan Hari Raya Idul Fitri.

    Sebelum kamu mengadukan saya pada polisi, tenang saja, saya tidak melanggar aturan social distancing dan PSBB yang diberlakukan oleh pemerintah, kok. Semua hal tersebut saya lakukan secara daring lewat panggilan video di rumah. Dan ternyata, hal tersebut membuat saya...benar-benar lelah! Like, REALLY exhausted. Saya bahkan kesulitan membuat pikiran saya tetap jernih saat berpindah dari satu panggilan ke panggilan lainnya. Bisa dibilang, saya merasa seperti bukan diri saya yang biasanya.



    Saya termasuk orang yang suka bersosialisasi (tanya saja semua rekan-rekan saya di Cosmo kalau tidak percaya). Ketika saya sedang berkumpul bersama dengan sahabat-sahabat dekat, saya bisa mengobrol bersama mereka mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam; saya juga bisa minum bergelas-gelas ketika sedang berpesta dan berjoget sampai larut; saya bahkan tidak suka berdiam diri di rumah karena saya. Butuh. Teman mengobrol.


    Jadi, sama seperti banyak orang lainnya, saya mulai khawatir ketika pertama kali mendengar bahwa PSBB akan diberlakukan. Lalu, bagaimana nasib saya nanti? Apakah saya tetap bisa melakukan segalanya dari rumah? Untungnya, kemajuan teknologi memberikan saya solusi yang jenius: Saya tetap bisa melakukan segalanya dari rumah, dengan cara berinteraksi lewat panggilan video. Problem solved.

    Atau setidaknya, begitulah pikir saya. Satu bulan setelah PSBB berlangsung—tidak, bahkan tidak sampai satu bulan, dua minggu setelah PSBB berlangsung—saya mulai kelelahan setiap kali melakukan panggilan video. Rasanya, tubuh saya lemas dan pikiran saya penuh dengan carut-marut. Perubahan berupa WFH ini seharusnya membuat saya merasa lebih baik dan lebih nyaman, karena toh saya tak perlu repot bangun pagi demi mengejar kendaraan umum ke kantor...namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Saya merasa energi saya terkuras habis, dan saya mengantuk setiap kali selesai melakukan panggilan video. Anehnya, teman-teman saya yang lain—atau lebih tepatnya saya melihat semua orang—di media sosial tampaknya sangat menyukai dan menikmati panggilan video tersebut—bahkan ada yang sampai mendekor kamarnya menjadi ruang disko, atau melakukan quaranTREND dengan membuat dresscode setiap kali panggilan video... Bagaimana mereka bisa melakukan hal tersebut? Hal ini membuat saya merasa ada yang salah dengan diri saya.

    Saya pun mulai bertanya pada teman-teman saya, juga menulis cuitan di Twitter, apakah ada orang lain yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Ternyata, saya dibanjiri dengan segudang respons dan komentar yang serupa. Banyak orang yang mengaku merasa "letih", "aneh", dan "lebih menegangkan". Bahkan beberapa orang tidak melakukan panggilan video tersebut untuk urusan pekerjaan, mereka justru melakukan panggilan telepon untuk bercengkerama dengan keluarga dan pasangan.

    Jadi, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan karena PSBB masih berlangsung, adakah hal lain yang bisa kita lakukan untuk tetap bekerja dengan nyaman dari rumah serta menghubungi keluarga tanpa membuat diri kita kelelahan?

    "Kini, masyarakat sedang belajar mengenai bagaimana caranya bersosialisasi dengan suatu kebiasaan baru," ujar Hilda Burke, seorang psychotherapist, konselor untuk para pasangan, sekaligus penulis buku The Phone Addiction Workbook. "Banyak klien saya merasa hal ini sulit dilakukan—mulai dari menjalankan etiket baru mengenai cara berkomunikasi, sampai berkomitmen lebih terhadap pekerjaan."





    Dan ternyata, mencoba untuk "memindahkan" seluruh kehidupan saya menjadi panggilan video adalah kesalahan pertama yang saya lakukan. Sebuah kesalahan yang bisa dimengerti. "Manusia tidak suka dengan perubahan yang drastis," jelas Hilda. "Jadi, banyak orang berpikir akan lebih mudah jika mereka tetap melakukan hal yang persis sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Kelas yoga di waktu yang sama, rapat mingguan di waktu yang sama, panggilan pada pasangan di waktu kencan yang sama, namun kini semuanya dilakukan lewat video. Padahal, melakukan segalanya dari depan layar tidaklah sama—kita harus bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kebiasaan baru ini harus diperlakukan dengan cara yang berbeda."

    Hal ini ternyata berhubungan dengan keadaan mata kita yang lelah: Jika kita bekerja dengan kebiasaan kantor yang sama, maka kemungkinan besar kita menatap layar tersebut lebih banyak dari sebelumnya. Mengapa? Karena biasanya rapat tidak dilakukan dari depan layar, dan interaksi bersama dengan kolega kantor biasa dilakukan secara tatap muka. Otak kita pun bekerja lebih keras dari biasanya, karena meskipun secara teknis kita "melihat" sang lawan bicara di depan layar, kita tak memandang keseluruhan dirinya di depan mata. Beruntung jika rekan kerjamu pandai mengatur angle kamera yang tepat dan memiliki koneksi internet yang mumpuni, karena jika tidak, panggilan video tersebut akan membuatmu memutar mata. Dan lagi, lewat panggilan video, kamu hanya bisa melihat wajah lawan bicaramu, namun kamu tak bisa melihat bahasa tubuhnya secara keseluruhan—apakah mereka diam-diam minum wine di tengah panggilan video, atau mengetukkan kakinya karena merasa tak sabar. "Pikiran bawah sadarmu berusaha untuk mencari tahu apa yang lawan bicaramu rasakan," ujar Hilda. "Layar tersebut menjadi suatu pemisah, yang menyebabkan kalian tidak benar-benar terhubung...dan hal ini pada akhirnya membuatmu lelah."

    Belum lagi momen-momen awkward pada panggilan video, seperti ketika kamu dan salah satu rekanmu berbicara di waktu yang bersamaan, dan satu detik kemudian kalian berdua sama-sama diam karena merasa tidak enak telah memotong pembicaraan satu sama lain...duh! "Oh, oke, kamu duluan saja..." sepertinya sudah masuk dalam salah satu kalimat yang paling sering saya katakan beberapa minggu terakhir ini. "Hal ini bisa dimengerti jika kamu sedang berada dalam rapat dengan kolega kantor. Namun, semisal kamu sedang merayakan pesta ulang tahun, kamu tak bisa berpesta dengan hanya membiarkan satu orang saja yang berbicara, kalian biasa memiliki beberapa percakapan sekaligus dalam satu waktu, dan suasananya tidak sehening itu, suasananya justru SANGAT ramai," jelas Hilda. "Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda di waktu yang berbeda-beda, namun panggilan video menyamaratakan seluruh kebutuhan tersebut."

    Jadi apa yang bisa kita lakukan? Rasanya ingin sekali berkata untuk "tidak" pada seluruh panggilan video tersebut, namun untuk beberapa orang—terutama mereka yang tinggal sendiri di kos atau apartemen—mendapatkan panggilan video merupakan hiburan kecil yang bisa membantu mereka menghabiskan waktu dan mengusir rasa bosan. Lagi, tak ada orang yang tidak ingin bersosialisasi di waktu-waktu seperti ini. Inilah yang membuat saya merasa sedikit bersalah, di satu sisi saya ingin membuat teman-teman saya terhibur (terutama di saat-saat seperti ini), namun di sisi lain saya juga ingin berkata tidak.

    Masalah berikutnya, saya tak tahu bagaimana cara menolak panggilan tersebut dengan halus. Sulit melakukannya ketika "Saya ada urusan di rumah," tak lagi bisa menjadi alasan. Menolak panggilan video tersebut sama saja seperti mengatakan, "Saya tak mau mengobrol denganmu," ke depan wajahnya.


    "Kita semua membutuhkan waktu untuk diri kita sendiri—me time—terutama di saat-saat seperti ini," ujar Hilda. Jadi kuncinya, menurut Hilda, adalah mengetahui seberapa jauh limitmu dengan kebiasaan baru ini. Cari tahu seberapa lama kamu bisa bertahan dalam satu panggilan video (bagi saya sendiri, biasanya satu atau satu setengah jam) dan cari tahu seberapa banyak panggilan yang bisa kamu lakukan dalam satu hari. Selain itu, ajukan opsi lain jika memungkinkan. Toh, tak semuanya harus dilakukan dengan panggilan video. Kamu boleh menggunakan panggilan suara untuk menelepon kerabat dekat dan sahabat-sahabatmu. Dengan begitu kamu bisa tetap mengobrol sambil, katakanlah, merapikan kamar atau mewarnai adult coloring book.

    "Pikirkan kembali, apakah panggilan video tersebut benar-benar penting? Jika ya, maka lakukan," saran Hilda. "Kalau jadwal panggilan videomu menumpuk dalam satu minggu, katakan dengan jujur bahwa mungkin kamu tak bisa melakukan satu atau dua panggilan. Tawarkan opsi lain, semisal via telepon atau email, atau mungkin lewat chat biasa. Apalagi jika panggilan video tersebut adalah panggilan bersama sahabat-sahabat dekatmu, seharusnya mereka bisa mengerti akan keadaanmu. Yang penting, jangan tiba-tiba keluar dari panggilan tersebut tanpa alasan yang jelas,"

    Ingat, kita tidak seorang diri dalam melaksanakan PSBB ini. Semua orang ikut melakukan social distancing dan WFH. Kamu mungkin tidak sadar, namun bisa jadi salah satu kolega atau sahabatmu ikut merasa bahwa panggilan video ini melelahkan namun mereka tak berani mengatakannya... Jadi tanyakan, lalu pahami keadaan mereka. We're all in this together, darl.


    Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. arnelhasanovic on Unsplash / fabspotato on Unsplash)