Celebrity

Ibnu Jamil Bicara Mengenai Film, Olahraga, dan Yayasannya

  by: Alvin Yoga       28/5/2020
  • Aktor, presenter, komentator, brand ambassador, pendiri yayasan, dan kini penggiat maraton. Meski sibuk menjalani berbagai profesi yang beragam, Ibnu Jamil seakan tak mengenal lelah untuk terus mengejar karier dan kebahagiaannya. Simak perbincangan Cosmo dengan aktor berumur 38 tahun tersebut mengenai kehidupannya sebagai aktor, hobinya berolahraga, perannya sebagai pendiri yayasan olahraga bagi anak kecil, serta kegemaran terbarunya: YouTube. Simak!


    Hai Ibnu! Jujur, Cosmo sudah lama sekali ingin melakukan wawancara dan photoshoot dengan Anda. Namun kalau dilihat dari akun Instagram pribadi Anda, boleh dikatakan Anda sibuk sekali sampai-sampai jarang memiliki waktu kosong.

    Hai Cosmo! Akhirnya kita bertemu, ya. Hahaha. Yah, begitulah. Saya memang suka sekali bekerja. Karena waktu kosong membuat saya seakan “mati gaya”.




    Berarti Anda jarang berdiam diri di rumah?

    Kalau hanya sehari saja di rumah tak masalah, tapi kalau lebih dari satu hari, otak saya langsung berpikir keras untuk melakukan sesuatu. Biasanya saya akan mengurus yayasan atau mencari ide untuk membuat konten di akun YouTube saya.


    Dari sekian banyak profesi yang Anda jalani dan segudang hal yang Anda lakukan, mana yang saat ini jadi prioritas?

    Selagi masih laku di depan layar, saya masih ingin di depan layar. Hahaha. Jujur sekali, ya.


    Kalau begitu, sedang sibuk apa di dunia perfilman?

    Saat ini sedang persiapan untuk syuting film baru, ada dua film yang akan saya mainkan. Kemarin saya baru saja potong rambut untuk persiapan film baru tersebut.


    Boleh beri sedikit bocoran soal film tersebut?

    Hmm, yang satu bertemakan tentang sejarah Indonesia, yang satu lagi bercerita tentang sebuah kasus pengadilan atas kekerasan seksual terhadap perempuan. Mudah-mudahan pertengahan tahun ini proses produksinya bisa selesai sehingga tahun ini bisa dirilis.



    Anda juga bermain dalam film Guru-guru Gokil.

    Ya, betul. Film tersebut seharusnya tayang pada April ini. Tapi karena pandemi yang ada, filmnya sedang di-postpone. Pasti akan kami kabarkan nanti kapan tanggal rilis yang baru.


    Sambil menunggu, boleh ceritakan sedikit peran Anda dalam Guru-guru Gokil?

    Tebak saya berperan sebagai apa? Guru olahraga! Hahaha. Lagi-lagi soal olahraga. Teman saya, Dian Sastro, menunjuk saya untuk mengambil peran tersebut, dan sutradara kita (Sammaria Simanjuntak) memercayai saya untuk memainkan karakter itu. Jadi ya, mengapa tidak? Untuk karakter di film tersebut sendiri, saya akan berperan sebagai guru olahraga yang – tentu saja – sehat, bersih, berpikiran logis, realistis, garda depan bagi para guru apabila ada sesuatu, dan yang paling penting saya akhirnya mencoba pakai kumis! 


    Ada alasan lain yang membuat Anda tertarik bermain dalam film itu?

    Yang membuat saya tertarik adalah film ini banyak bercerita tentang guru – terutama guru-guru di kota kecil dan perkampungan. Seperti yang kita tahu guru-guru di daerah perkampungan itu banyak yang honorer, dan masing-masing punya kisah yang menarik untuk diangkat ke dalam film. Setelah bermain dalam film ini, saya jadi tahu banyak hal menarik mengenai dunia pendidikan dan guru-guru di sudut-sudut kecil Indonesia. Semoga film ini sedikit banyak bisa merefleksikan pendidikan di Indonesia. Duh, terlalu berat ya bahasanya? Intinya, terkadang perlu ide-ide gokil untuk bisa terus berkembang, termasuk di dunia pendidikan. Semoga bisa dinikmati masyarakat.


    Anda sudah berperan dalam banyak film. Masih adakah genre tertentu yang ingin Anda mainkan?

    Mungkin bukan genre, tapi saya ingin sekali bermain dalam film independen dan film festival lagi. Seru banget! Konfliknya sangat menarik, jadi apapun yang ditawarkan pasti akan saya ambil. Sutradara dan skenario film independen dan film festival biasanya membahas sesuatu yang sangat spesifik dan unik, berbeda dari film lain pada umumnya. Memang biasanya akan kurang dikenal, tapi saya semangat sekali melakukannya.


    Kalau mendapat tawaran bermain film biografi, adakah peran tertentu yang ingin Anda mainkan?

    Bambang Pamungkas! Saya pernah mendapat peran kecil tentang sosok beliau, tapi rasanya belum puas. Kalau bisa, saya ingin bermain lagi sebagai Bambang Pamungkas, namun kali ini sebagai pemeran utama.



    Mari bicara mengenai kebiasaan Anda, bagaimana cara Anda membagi waktu antara akting dan berolahraga?

    Sejujurnya tidak sesulit itu. Ketika berakting, ada waktu-waktu kosong di mana saya tidak muncul dalam scene. Jadi bagaimana membagi waktunya saja. Biasanya saya akan berlari jogging di lokasi syuting.




    Pernah merasa letih akibat syuting sampai malas berolahraga?

    Justru kebalikannya, saya berolahraga untuk menghilangkan penat akibat syuting.


    Sejak kapan Anda jatuh cinta dengan dunia olahraga?

    Sejak saya berambisi menjadi Menpora. Hahaha. Bercanda. Sebenarnya saya sudah jatuh cinta dengan dunia olahraga sejak lama, tapi anehnya, di usia saya sekarang ini hidup saya semakin dipenuhi dengan hal-hal yang berbau olahraga.


    Anda juga memiliki yayasan olahraga. Apa yang membuat Anda akhirnya mendirikan yayasan?

    Idenya berawal ketika dulu saya masih menjadi penyiar sebuah acara sepak bola. Bisa dikatakan saat itu mulut saya “berbusa” mengomentari dunia olahraga indonesia. Mulai dari memberi kritikan, kasih masukan, bicara soal prestasi sampai kebobrokkan dunia olahraga. Masalahnya, makin ke sini, prestasi olahraga Indonesia sebenarnya agak menurun, terlihat dari perolehan jumlah medali yang kita dapatkan ketika multi-events. Nah, dari hal itu saya mulai berpikir, apa yang harus dan bisa saya lakukan? Dibanding menyalahkan pihak lain atas kemunduran kita, saya akhirnya memutuskan untuk membuat yayasan olahraga saja untuk anak-anak. Kenapa anak-anak? Karena mereka masih polos dan mudah diajarkan banyak hal – yang nantinya bisa menjadi bekal yang baik untuk mereka. Menurut saya grassroots yang sehat akan menciptakan tim yang kuat. Dan karena kita butuh regenerasi, maka dari itu ada baiknya kita mulai dari anak-anak yang masih kecil.


    Kalau Anda punya waktu terbatas, lebih pilih lari atau bermain sepak bola?

    Sepak bola seru dan menyenangkan, karena saya bisa bertemu dengan teman-teman. Di sisi lain lari juga sangat menantang, apalagi kalau jaraknya jauh. Sama-sama punya kelebihan, sih, dan saya suka dua-duanya. Tapi kalau harus memilih, lari merupakan salah satu induk olahraga. Banyak olahraga yang membutuhkan lari. Meskipun mungkin terkesan membosankan, tapi berlari sebenarnya menyenangkan. Apalagi lari itu tidak bergantung banyak hal. Anda tidak butuh teman untuk berlari – berbeda dengan sepak bola yang membutuhkan tim – selain itu Anda juga bisa berlari kapan saja, Anda juga tidak butuh lapangan karena berlari bisa dilakukan di sekitar komplek, di tempat gym, atau di lintasan lari. Seru banget.


    Anda juga mengikuti perlombaan lari. Seberapa sering?

    Kalau full-marathon setahun sekali. Tapi sekarang sedang mau mencoba ultra-marathon – lari marathon yang jaraknya di atas 42 km, antara 50-100 km.


    Adakah event maraton tertentu yang ingin Anda ikuti?

    Hmm, yang sudah saya lakukan adalah acara maraton di Berlin, Tokyo, Kyoto, Seoul, New York dan Beijing. Berarti yang belum ada London, Chicago dan Boston. Acara maraton itu seru, lho! Selain berlari, Anda juga bisa mengunjungi banyak tempat baru dan jalan-jalan setelahnya. Anggap saja sedang sport-tourism.


    Selain berlari dan sepak bola, adakah orang lain yang ingin Anda coba?

    Tenis. Tapi sampai saat ini belum kesampaian. Oh, saya juga pernah mencoba triatlon, lho. Susah dan capeeek banget. Tapi setelah selesai, puasnya minta ampun!


    Tadi Anda sempat menyebutkan mengenai akun YouTube, adakah konten tersebut yang ingin Anda buat namun belum sempat dilakukan?

    Ingin banget bikin konten tentang keluarga, dan dipersembahkan untuk ibu saya. Tidak tahu kenapa, tapi rasanya ingin saja memberikan sesuatu yang orangtua saya suka.


    (Alvin Yoga / FT)

    Fotografer: Hadi Cahyono

    Digital Imaging: Astis Abiprasiasti

    Makeup Artist: Vina Zhang (@vinazhangmua)

    Stylist: Hendry Leo

    Wardrobe: H&M, Sepatu: Milik Model