Fashion

Mengenal Istilah Greenwashing dalam Sustainable Fashion

  by: Redaksi       5/5/2021
  • Oke, jadi kamu ingin berbelanja dengan lebih sustainable dan ethical? Itu adalah sebuah kabar yang sangat baik! Tetapi, begitu banyak hal tentang sustainable fashion yang harus kamu mengerti sampai dapat membuatmu kewalahan. Dengan banyaknya merek fesyen berkelanjutan, baik itu merek pakaian yang baru saja rilis maupun label lama yang mengeluarkan inisiatif baru yang digadang sebagai gerakan ramah lingkungan, bagaimana kamu bisa tahu apakah caramu berbelanja telah mendukung perusahaan yang melakukan hal baik untuk bumi dan karyawannya?




    Sementara banyak merek yang benar-benar mendedikasikan kegiatannya untuk lebih sustainable dan ethical, ada beberapa oknum yang memanfaatkan gerakan tersebut tanpa menginvestasikan uang maupun tenaga mereka sedikitpun. Inilah yang sering dinamakan “greenwashing.” Ini hal-hal yang perlu kamu tahu dan bagaimana cara mengidentifikasi apakah suatu bisnis benar-benar melakukan apa yang mereka janjikan:



    Apa itu greenwashing?

    Greenwashing adalah sebuah istilah yang pertama kali dikenalkan di tahun 1980an untuk mendeskripsikan perusahaan yang mengklaim telah melakukan upaya pelestarian lingkungan hanya untuk mengikuti tren saja. Hal ini juga dapat diterapkan pada ethical fashion, walaupun secara umum greenwashing lebih sering dikaitkan dengan label ‘sustainable.’ Sering kali bisnis fesyen melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa mereka “melakukan bagian mereka.” Yah, ini bisa saja benar, sih. Tapi, mengganti sebagian material pakaian mereka dengan kapas organik saat masih menerbangkan pengiriman barang mereka ke seluruh dunia (tanpa memperhitungkan emisi karbon), memproduksi pakaian yang tidak tahan lama, dan tidak membayar pekerja mereka dengan upah yang layak menunjukkan bahwa perilaku greenwashing ini dapat kita artikan sama dengan gaslighting dalam industri fesyen.


    Kenapa greenwashing dianggap bermasalah?

    Mengesampingkan fakta bahwa setiap orang tentu tidak ingin ditipu dengan berpikir telah belanja dengan bertanggung jawab padahal tidak, greenwashing dapat meningkatkan popularitas sebuah brand dengan alasan yang salah. Clare Lissaman, pendiri label pakaian laki-laki yang berkelanjutan, Arthur & Henry, serta Impact Director di Common Objective, berkata bahwa “Beberapa label mungkin mencoba untuk menarik perhatian konsumen dengan cara ini karena mereka melihat adanya peluang pasar, tetapi mungkin ada juga beberapa yang secara naif menginterpretasikan dampak baik mereka terhadap lingkungan dengan berlebihan. Bagaimanapun, hal ini berbahaya karena dapat membuat para konsumen berhenti mempercayai pesan apapun terkait sustainability.


    “Tantangan dari greenwashing ini adalah, sebagai konsumen, kita ingin merasa baik tentang apa yang kita lakukan. Jadi, ketika sebuah merek menjual produknya dengan menggambarkan sesuatu yang sepertinya dapat memberi dampak positif pada manusia dan alam, kita pasti akan langsung jatuh cinta pada gambaran tersebut. Dan, buruknya, terkadang kita tidak berpikir ulang atau menanyakan lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan sampai berani memberi gambaran seindah itu.”


    Bagaimana cara mengenali merek fesyen yang benar-benar sustainable?

    Tidak ada yang ingin dibohongi untuk membeli dari suatu bisnis yang tidak menepati apa yang mereka janjikan, tetapi dengan banyaknya merek yang memperkenalkan inisiatif baru mereka, bagaimana caranya kita mengenali yang benar-benar melakukan hal tersebut?


    Pada akhirnya, kita sebagai konsumen harus mencari tahu sendiri, tentu saja hal ini dipermudah dengan adanya internet dan sosial media. “Futerra, sebuah agensi yang berfokus pada perubahan yang berkelanjutan, memiliki sebuah alat yang dapat membantu untuk menemukan tanda-tanda apakah sebuah perusahaan melakukan greenwashing atau tidak. Mulai dari pengertian istilah asing (seperti apa arti sebenarnya dari “eco-friendly”) hingga pemberian gambaran buruk tentang kondisi lingkungan saat ini,” jelas Claire.


    “Saya sendiri lebih memilih untuk menggunakan skema sertifikasi, meskipun terkadang metode ini juga tidak sempurna. Misalkan saja ada dua perusahaan yang mengatakan bahwa kapas yang mereka gunakan berdampak baik untuk lingkungan dan para petani. Tetapi, hanya salah satu dari mereka yang memiliki sertifikat untuk kapas tersebut. Maka, sertifikasi itu memberikan dua hal: Tingkat kepastian yang lebih tinggi terkait apa yang telah mereka lakukan dan mereka memberi definisi yang jelas tentang dampak yang mereka beri.


    “Sebagai contoh, kapas bersertifikat Fairtrade mungkin memiliki harga yang lebih mahal karena memberi upah yang layak untuk para pekerjanya atau bisa saja merujuk pada bebas akan bahan kimia. Tapi, jika suatu perusahaan hanya menyatakan bahwa mereka melakukan sesuatu yang baik, maka antara mereka harus memberi rincian tentang apa yang mereka lakukan terkait penggunaan bahan kimia, pengendalian polusi, pengembalian harga, dan sebagainya atau kamu harus menanyakan itu sendiri ke mereka.”


    Contoh lain dari sertifikasi yang dapat kamu perhatikan ketika ingin berbelanja dengan lebih sustainable adalah: Fairtrade, The Soil Association, dan GOTS (Global Organic Textile Standard). Ketiga sertifikasi itu memiliki seleksi yang ketat untuk menetapkan kriteria standar pemberian sertifikatnya. Clare juga menyarankan untuk memeriksa beberapa hal berikut:



    • Jika suatu label menggunakan istilah “ethical”, “sustainable”, atau “eco-friendly”, telusuri lebih lanjut atau tanyakan pada mereka apa yang mereka maksud dengan menggunakan istilah-istilah tersebut. Tiap bisnis mungkin saja memiliki interpretasi yang berbeda.
    • Jika suatu label mengatakan sesuatu seputar bagaimana pekerja mereka memiliki kondisi bekerja yang baik, tanyakan apa maksud dari hal tersebut. Hanya karena mereka menggunakan sebuah pedoman kode etik bukan menjadi jaminan mereka benar-benar menerapkannya.
    • Jika suatu label mengklaim bahwa mereka melakukan “fair trade” tanyakan apakah definisi mereka dengan istilah tersebut sejalan dengan definisi oleh FINE yang mencakup bagaimana kegiatan jual beli yang baik dan adil harus dilakukan sebagaimana mereka mementingkan kualitas produk. Hal ini menjanjikan dukungan terhadap para produsen serta meningkatkan kepedulian untuk merubah industri ke arah yang lebih baik. Cari tau hal ini lebih lanjut pada situs ini.


    Kalau kamu masih belum yakin, kamu bisa memulai dari mengikuti eco-influencer di sosial media atau membaca tentang janji dari perusahaan terkait lingkungan dan hak pekerjanya di situs mereka. Knowledge is power.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Nabila Nida Rafida / Image: Dok. Edward Howell on Unsplash)