Better You

Less Is More: Ini Cara Memaksimalkan Gaya Hidup Minimalis

  by: Redaksi       15/5/2021
  • Mengadopsi gaya hidup minimalis bukanlah suatu hal baru. Konsep akan hal ini sudah lama ada, dan biasanya merujuk pada memfokuskan diri terhadap hal-hal dan barang yang dibutuhkan serta membuang barang yang dinilai sudah tidak ada lagi manfaatnya. Meski sering dikaitkan dengan gaya hidup modern, kenyataannya minimalisme dapat dilihat dalam berbagai sejarah. Seperti contohnya pada ajaran agama Buddha yang cenderung menghindari harta benda duniawi dan menyimpan barang yang dimiliki hingga bertahun-tahun.

    Memasuki abad ke-20, gaya hidup ini kembali mendapat popularitas ketika para penulis, fotografer, arsitek, dan berbagai tokoh publik menerima ide tersebut. Menurut New York Times, gerakan minimalis dimulai pada dunia seni. Setelah ratusan tahun, tentu banyak perubahan terjadi dalam prinsip minimalis itu sendiri, terkait definisi serta apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan gaya hidup tersebut. Ditambah lagi dengan fenomena meningkatnya kesadaran akan lingkungan dimana kegiatan berbelanja dinilai dapat menambah jejak karbon dan meningkatkan limbah sisa produksi. Alhasil, banyak orang mulai menyadari bahwa sesuatu yang lebih sedikit bisa memberi manfaat lebih banyak baik bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.




    Apa itu hidup minimalis?

    Secara sekilas, hidup minimalis memiliki satu tujuan utama: Memiliki barang yang lebih sedikit. Namun, di bawah itu semua, minimalis membahas tentang hal yang lebih besar. Menurut Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus, seorang penulis, pemilik podcast, pembuat film, dan public speaker tentang menjadi seorang penggiat minimalis, minimalisme adalah sebuah “alat” yang dapat membantumu mendapatkan kebebasan. Kebebasan dari rasa takut, kekhawatiran, kebingungan, rasa bersalah, depresi, dan dari perangkap budaya konsumerisme yang telah lama mendarah daging di masyarakat modern.


    Menjadi seorang yang hidup dengan minimalis berarti kamu memilih untuk hidup dengan jumlah kepemilikan yang sedikit, namun dengan nilai yang lebih tinggi. Permasalahan yang sering ditemukan sekarang adalah kebanyakan orang memiliki kecenderungan untuk menilai suatu benda lebih tinggi dari semestinya, biasanya hal ini dilakukan secara tidak sadar. Minimalisme memungkinkan dirimu untuk membuat keputusan ini secara lebih sadar dan disengaja, sehingga kamu benar-benar tahu bahwa benda yang kamu pilih untuk kamu simpan benar-benar penting keberadaannya di hidupmu.


    Keuntungan apa yang didapat dari minimalisme?

    Seperti yang telah disebutkan di atas, hidup sebagai seorang minimalis berarti mendapatkan suatu kebebasan dan kendali akan apa yang kita miliki dalam hidup. Secara garis besar, terdapat dua keuntungan utama dalam mengadopsi gaya hidup ini: Menghemat waktu dan uang.

    Semakin sedikit barang yang menumpuk di hidup kita, semakin berkurang waktu yang diperlukan setiap harinya untuk membersihkan dan merapikan barang-barang tersebut. Minimalisme membuat kita lebih fokus dalam hal-hal yang kita prioritaskan, mengalokasikan waktu terhadap hal yang dapat meningkatkan produktivitas diri. Selain itu, menurut sebuah penelitian oleh Darby Saxbe dan Rena Repetti di tahun 2009, memiliki barang yang lebih banyak dapat meningkatkan kortisol (hormon yang memicu stres) dalam diri seseorang. Maka dari itu, membebaskan rumah dari barang tidak terpakai dapat membantu membebaskan pikiranmu. Gaya hidup minimalis juga memiliki dampak positif dalam keuangan seseorang (duh!). Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi minimalis, biasanya mereka akan lebih sadar dan cenderung mengurangi aktivitas belanjanya. Mereka akan mengadopsi pola pikir “yang saya inginkan belum tentu apa yang saya butuhkan.” Secara tidak langsung, hal ini akan membantumu untuk lebih mengontrol pengeluaran.


    Bagaimana cara memulai hidup minimalis?

    Ketika sedang membicarakan tentang gaya hidup minimalis, biasanya terdapat tiga tipe orang:

    1. Orang yang berada di posisi denial, merasa bahwa semua hal yang ia miliki penting dan bermakna.
    2. Orang yang langsung semangat dan merubah hidupnya 180 derajat.
    3. Orang yang masih ragu harus memulai dari mana.

    Untuk orang pertama, biasanya mereka akan mulai tertarik mengikuti gaya hidup ini ketika melihat orang kedua dan ketiga bahagia dengan minimalisme. Sayangnya, apa yang dilakukan oleh orang kedua kemungkinan besar tidak dapat bertahan dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan, meski semangat mereka bagus, melakukan sesuatu dengan ekstrem dan gegabah dapat mengindikasikan bahwa apa yang dilakukan terjadi tanpa pikir panjang. Untuk orang ketiga, mereka hanya butuh arahan yang tepat.

    Memulai hidup minimalis, atau memulai apapun di dunia ini yang rencananya ingin kamu pertahankan untuk jangka panjang, sebisa mungkin sebaiknya kamu lakukan secara bertahap. Hal ini untuk melihat apa yang cocok dan tidak cocok dengan hidup kita. Karena itu, ada beberapa hal kecil yang harus kamu lakukan ketika ingin mengadopsi hidup minimalis:



    1. Tulis apa yang biasanya membuatmu tertekan. Hal ini memungkinkan dirimu untuk mengetahui hal apa saja yang harus kamu lepaskan dalam hidup. Kamu juga bisa melakukannya dengan pengeluaranmu, mungkin kamu akan terkejut sebanyak apa pembelian yang sebenarnya tidak begitu penting untuk dilakukan.
    2. Tentukan sebuah zona bebas barang”. Kamu bisa memulai dengan tidak menumpuk barang di meja makan atau meja tidur di sebelah kasurmu. Setelah terbiasa, kamu bisa mulai memperluas area ini.
    3. Tanyakan ini pada dirimu: “Apakah kamu pernah memakai atau mengingat benda tersebut dalam lima tahun terakhir?” Jika jawabanmu tidak, mungkin sudah saatnya untuk memindahkan semua itu ke tempat sampah (atau mendonasikannya jika masih bagus).
    4. Mulai menabung. Dengan “memaksa” diri untuk menyimpan sebagian dari pendapatanmu, secara tidak sadar kamu pun akan mengurangi pengeluaran yang tidak penting (karena tidak ada lagi uang untuk membayarnya).
    5. Masukkan barang yang kamu miliki ke dalam kategori tertentu… dengan jujur! Misalkan, kamu bisa menetapkan beberapa kategori barang yang ingin kamu simpan: Keperluan makan, rumah tangga, kesehatan, keluarga, dan pakaian. Setelah itu, mulai masukkan barang-barang yang ada di rumahmu berdasarkan, dan hanya berdasarkan, kategori tersebut. Jika kamu menemukan barang yang tidak termasuk kategori manapun, kamu tahu apa yang harus dilakukan.


    (Nabila Nida Rafida / VA / Image: Dok. Alisha Hieb on Unsplash)