Career

Panduan untuk Melakukan Self-Expression dalam Berkarier

  by: Givania Diwiya Citta       16/5/2021
  • Sebelum kita menyelami lebih dalam, self-expression dalam bekerja ialah kesempatan untuk membawa keseluruhan bakat, kemampuan, kreativitas, motivasi yang dimiliki dalam diri, ke tempat kerja. Tujuan idealnya adalah untuk menjaga keotentikan kemampuan masing-masing, dan tidak mengecilkan satu sama lain. Karena gambarannya, sebuah organisasi akan bergerak maju jika masing-masing anggotanya berfungsi baik dalam kapasitas serta peran yang mereka emban, hingga membuat satu ‘tubuh’ organisasi tetap vibran dan konstan progresif.


    Salah satu situs ketenagakerjaan terbesar di Inggris, CV-Library, pernah melansir bahwa 90,2% tenaga kerja profesional di sana sepakat tentang seseorang haruslah bisa mengekspresikan diri saat bekerja. Apalagi ditambah fakta dari Harvard Business Review yang meluncurkan pernyataan bahwa jika perusahaan membantu karyawannya dalam mengekspresikan diri saat bekerja, maka ikatan perusahaan terhadap karyawan akan lebih kuat, dibanding mencoba untuk memaksakan organizational pride terhadap mindset individu. Bahkan rasanya menjadi vital bagi perusahaan untuk mendorong terciptanya kesempatan karyawan dalam mengekspresikan karakter unik masing-masing, demi menghadirkan tempat kerja yang lebih menyenangkan, dan pada akhirnya, mampu mereduksi turn-over!




    Penelitian lebih lanjut tentang proses ‘sosialisasi’ terhadap self-expression dalam bekerja juga digelar oleh Daniel M. Cable dari London Business School, Francesca Gino dari Harvard University, dan Brad Staats dari University of North Carolina di Chapel Hill. Riset pun menyatakan bahwa karyawan yang diizinkan untuk berekspresi diri saat bekerja mampu berkomitmen lebih lama dengan perusahaan, bahkan bagi mereka yang baru direkrut oleh perusahaan. Hal ini juga mengkonstruksi perspektif bahwa sebuah perusahaan bisa meraih keseimbangan (bahkan keuntungan!) saat mereka memposisikan organisasi mereka sebagai tempat yang baik bagi para karyawan dalam menyalurkan energinya. Mungkin yang menjadi landasannya adalah karena pada dasarnya, gairah dan antusiasme akan tersalurkan saat seseorang punya kesempatan untuk berekspresi diri. Dan saat itu terjadi, seseorang akan bekerja lebih kuat, berani, berdedikasi, dan kreatif. 



    Evolusi kultur dalam dunia pekerjaan tentang self-expression ini juga kian meningkat dengan adanya dominasi generasi milenial yang mengisi industri profesional. Karena bagi para milenial profesional, self-expression dimanifestasikan melalui wujud personal style, baik dari cara berbusana maupun perwujudan aspirasinya melalui karya dan karier. Hingga tak terlalu janggal lagi saat standar etika serta toleransi berpakaian, sampai transisi desain kantor yang kian dirancang tak monoton, kini mulai berevolusi di ranah korporat. Seperti yang dilansir dari survei PwC (PricewaterhouseCoopers) Global, bahwa 77% CEO melabeli kreativitas sebagai kemampuan terhebat generasi milenial. Jadi, menyediakan lingkungan ekspresif yang mampu mendorong kreativitas karyawan adalah esensial. 


    Tip untuk mampu mengerahkan self-expression di kantor

    Lalu bagaimana untuk menggerakkan diri dalam berkespresi diri saat bekerja? Pertama-tama, ingatlah bahwa pekerjaan adalah refleksi gairah dan ambisi kamu. Jadi, simak tip berikut untuk tetap mampu berekspresi diri dalam bekerja:

    1. Panaskan hasrat untuk aktualisasi diri. Sesederhana berani mengutarakan opini untuk alternatif solusi dari error issue yang tengah terjadi dalam proyek bisnis tim. Karena percayalah bahwa satu ide dari satu anggota tim saja punya potensi yang berdampak pada kesuksesan organisasi.

    2. Jadikan pekerjaan sebagai platform aspirasi kamu. Karena lebih dari menyokong kehidupan dan menimba karier, pekerjaan juga merupakan wujud ekspresi kamu dalam membuat perubahan, baik bagi perkembangan diri sendiri, maupun publik yang terkena dampaknya. Toh, kamu mendarat di sebuah organisasi atau perusahaan karena setidaknya satu visi dengan gairah dan ambisi kamu, bukan?



    3. Tanyakan ke diri sendiri, bagaimana kamu ingin berkontribusi pada perusahaan? Karena dengan membuka sudut pandang personal ini, kamu bisa tahu kapabilitas apa saja yang bisa kamu hadirkan ke meja kerja. Dan peran apapun yang kamu jalankan, akan semakin produktif jika kamu berusaha untuk menampilkan versi terbaik dari gagasan dan bakat otentik kamu, seunik apapun itu. Namun yang perlu diingat juga, tetaplah menjadi diri yang otentik dengan bijaksana serta profesional. You go for it!


    Tambahan: Tip bagi para pemimpin milenial untuk mendorong self-expression di kantor

    Untuk meraih tercapainya self-expression sekaligus objektif bisnis dari perusahaan, para pemegang titel dan otoritas di sebuah organisasi musti jeli dalam menyeimbangkannya. Pertama dan fondasinya adalah dengan membuat semua karyawan merasa kerasan seperti berada di rumah. Sesederhana tanyakan pada diri sendiri, jika bisa menciptakan lingkungan kerja yang ideal, apa lima elemen yang harus ada? Survei dari CV-Library juga menjelaskan bahwa karyawan bisa merasa kerasan dalam mengekspresikan diri jika (26,4%) dapat mendiskusikan secara terbuka hambatan yang dialami saat bekerja, (23,9%) dapat terbuka tentang apa yang terjadi dalam kehidupan personal, dan (21,4%) dapat berperilaku sebagai diri sendiri layaknya sedang bersama dengan teman-teman. Berikut tip untuk kamu, millennial leaders, dalam mengaplikasikan cara agar tim kamu mampu meraih self-expression at work:

    1. Biasakan awali meeting dengan menanyakan kabar tim masing-masing, baik personal serta proyek bisnis, untuk memantik antusiasme mereka terhadap tugas dan pekerjaan yang diemban. Meski ingatlah, vital pula untuk menjaga profesionalitas dalam hubungan pekerjaan ini. Tapi dengan cara sesederhana bertanya kabar, kamu bisa memicu level kreativitas tim untuk menyampaikan gagasan serta pendapat mereka. Meski akan penuh diversity, namun hal ini akan menciptakan cara berpikir dan problem solving yang inovatif.

    2. Selalu gelar sesi bertemu atau berbagi dengan tim secara berkala, untuk mengidentifikasi kekuatan, kesukaan, dan kebutuhan kemampuan mereka untuk improvements. Melalui ini, mutual respect antara kamu sekaligus antar anggota tim akan muncul, karena dengan mengapresiasi kelebihan serta kekurangan masing-masing, akan membuat karyawan merasa menjadi diri mereka sendiri, dan pada akhirnya, aspek ini akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Bahkan dampaknya bukan hanya bagi karyawan terkini, namun calon-calon yang tertarik untuk melamar ke perusahaan kamu! Tentu jangan lupakan untuk merayakan setiap kesuksesan yang diraih para anggota serta kesuksesan kolektif tim kamu.

    3. Leading by example. Seperti hasil survei CV-Library bahwa (30,6%) karyawan akan memutuskan untuk berekspresi diri berdasarkan cara berperilaku koleganya, dan bahwa (22,6%) karyawan akan cenderung terbuka jika superior mereka pun melakukan hal yang sama (baca: self-expression at work). Karena dengan menjadi ‘display’ bagi tim, kamu pun turut berbagi diri kamu yang kreatif dan inovatif pada anggota tim, dan pada akhirnya, akan menjadi landasan koneksi yang kuat untuk kamu dengan mereka. Jadi, biarkanlah kreativitas dalam masing-masing individu mengalir, dimulai dari kamu!


    (Givania Diwiya / FT / Images: Alexander Suhorucov from Pexels)