Better You

Semua Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Cyberbullying

  by: Givania Diwiya Citta       17/5/2021
  • Fenomena bentuk kekerasan di dunia maya tidak bisa lagi dianggap permasalahan yang sepele. Bahkan sebenarnya, Cosmo rasa tak ada yang bisa dianggap remeh terhadap bentuk kekerasan apapun, seperti cyberbullying yang merupakan salah satu perpanjangan dari tindakan negatif tersebut. Saat melepas tahun 2019, kita semua diingatkan beberapa tragedi dari wujud dampak cyberbullying, seperti salah satunya kasus Sulli yang mengejutkan dunia. Benar adanya jika bentuk intimidasi di dunia maya bisa berdampak di dunia nyata… Cyberbullying adalah bentuk kekerasan di dunia maya yang melibatkan kejadian di mana seseorang diejek, diintimidasi, dipermalukan, melalui internet, ponsel seluler, atau teknologi digital. Dan tahukah kamu bahwa perempuan lebih rentan mengalami bullying di media sosial? Yep, mengutip Dyhta Caturani selaku pendiri PurpleCode yang mengampanyekan #PositionOfStrength, perempuan kerap direndahkan karena penyerangan dilakukan terhadap atribut seksual, tubuh personal, atau referensi lain yang menghina dirinya. 


    Mengapa cyberbullying bisa terjadi? Para psikolog menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena disinhibition effect. Faktor anonimitas, ketidaktampakan karena tak bertemu secara langsung, serta minimnya otoritas, memicu lahirnya budaya kebencian. Tujuannya? Untuk merasa superior, atau sesederhana merasa puas dengan menganggap orang lain lebih rendah. Faktanya, seseorang yang mengalami cyberbullying juga pernah menjadi korban bullying tradisional, lho (yaitu tindak kekerasan yang dilakukan langsung di depan korban). Isu cyberbullying yang kompleks ini juga terjadi di tanah air. Hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 saja menyebutkan bahwa 49% responden mengaku pernah jadi sasaran bullying di media sosial. Dan dari 49% tersebut, 31,6% mengaku kerap membiarkan perlakuan tersebut dan tak melakukan apa-apa, sementara 7,9% membalas perlakuan tersebut dengan tindakan bullying yang serupa. 




    THE CHANGING WAVES


    Namun di balik fenomena ini, kesadaran dari berbagai lapisan masyarakat dalam memerangi fenomena cyberbullying pun semakin menguat. Banyak orang menggunakan media sosial seperti Instagram untuk menyebarkan kampanye melawan cyberbullying. Contohnya David Beckham selaku duta UNICEF. Pada kunjungannya di bulan Maret 2018, ia menggunakan Instagram Stories untuk menyebarkan pesan anti-bullying. David juga berkolaborasi dengan Sripun, siswi berumur 15 tahun dari Jawa Tengah, untuk menunjukkan bagaimana media sosial bisa menjadi platform tepat dalam menjangkau lebih banyak remaja dan membuat perubahan positif di komunitas. Ada pula Choi Siwon selaku Regional Ambassador UNICEF Asia Timur dan Pasifik yang mengunggah video pada feed Instagram miliknya dalam tajuk kampanye #ENDviolence, tentang ajakan berpikir (lebih dari) dua kali saat akan memulai aksi yang berujung cyberbullying, selang dua pekan tragedi Sulli terjadi. Post tersebut pun berhasil ditonton lebih dari 500 ribu kali!


    Cosmo pun sempat berbincang dengan Putri Silalahi selaku Manajer Komunikasi Instagram Asia Pasifik tentang gerakan perubahan ini. Dalam pengamatannya pun, persona publik di Indonesia seperti Ucita Pohan, Maudy Ayunda, Prilly Latuconsina, Ayla Dimitri juga angkat suara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya bullying terhadap kesehatan mental. Tak hanya grassroots dan figur publik yang bergerak, komunitas, organisasi, institusi seperti Yayasan Sejiwa sampai Sudah Dong yang ada di Indonesia juga terus menggalakkan pesan-pesan anti-bullying. Lebih dari itu, berbagai brand pun turut mengkampanyekan tentang isu anti-bullying, di antaranya #stopbeautybullying, Dove Self-Esteem Project, #LUXberanicantik, sampai #ForEveryFace gagasan Clean & Clear. Tak luput, media sosial Instagram yang konstan mencanangkan gerakan anti-bullying, juga melanjutkan komitmennya lewat dua jenis koleksi stiker Create Don’t Hate yang bisa ditemukan di Instagram Story. “Kami ingin Instagram menjadi tempat yang otentik dan aman untuk semua orang dalam menyalurkan inspirasi dan ekspresi mereka,” ujar Putri tentang misi Instagram. Sebagai platform global yang menjadi wadah keragaman pendapat, latar belakang, dan kultur dari seluruh dunia yang harus dihormati dan dihargai, Instagram pun memahami bahwa mereka harus memiliki aturan tentang apa yang boleh dan tidak diperbolehkan dalam media sosial ini. Panduan Komunitas yang mereka rancang pun salah satunya melarang akun atau konten yang sengaja dibuat dengan tujuan mengganggu, melecehkan, atau mempermalukan orang lain. “Konten atau akun yang melanggar Panduan Komunitas ini, akan kami hapus,” tambah Putri.




    BEING SOBER IN CYBER WORLD

    Esensinya, berekspresi diri memanglah detak jantung dari penggunaan media sosial. Dan tentunya, kita pun akan merasa leluasa dalam mengekspresikan diri jika kita merasa aman dan didukung oleh orang-orang sekitar kita. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memahami seni beretika dalam beraktivitas di media sosial. Seperti cara Instagram dalam melakukan perlawanan terhadap cyberbullying yang terjadi di dalam platformnya. “Kami membuat fitur dan program yang dapat mencegah cyberbulllying, mendorong pengguna untuk menyebarkan lebih banyak kebaikan dan cinta di Instagram, serta memberdayakan korban bullying untuk membela diri, mengambil tindakan, dan bangkit dari pengalaman bullying yang mereka alami,” ujar Putri. See? Selalu ada cara untuk menjadi waras di dunia cyber, girls! Jika platform sebesar Instagram mampu mengubah arus di dalam batang tubuhnya yang raksasa, maka kita pun bisa mengubah arus negatif cyberbullying dimulai dari diri sendiri. Trace these little steps!


    Jika kamu menjadi korban cyberbullying:

    • Pengobatan pertama yang bisa dilakukan adalah mencari dukungan orang lain, semisal dari keluarga, guru atau mentor, bahkan pihak berwajib. Jika bullying sudah mulai mengganggu kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari pertolongan para ahli. Your mental health matters, bb!
    • Jangan ragu memanfaatkan fungsi fitur yang ada pada media sosial, karena kamu *memang* punya kontrol akan siapa yang bisa berinteraksi dengan kamu, plus terhadap apa yang mereka katakan pada kamu. “Instagram sendiri dilengkapi serangkaian fitur yang digunakan oleh para pengguna untuk menghadapi serta melawan tindakan bullying, seperti fitur Blokir, Batasi, Lapor, Filter Komentar, Mute, dan sebagainya,” ujar Putri. Remember that the control is in your hand!
    • Selalu update dengan perkembangan teknologi dan bagaimana kamu bisa memanfaatkannya untuk memerangi bullying. Seperti tentang fitur dalam Instagram dengan AI yang mampu membatalkan komentar dan caption jika konten bersifat ofensif hendak diunggah, hingga tampilan Like privat yang akan lebih berfokus pada foto dan video yang diunggah, alih-alih tentang berapa jumlah like yang didapatkan. Embrace the healthier ecosystem!


    Jika kamu jadi saksi dalam kasus cyberbullying:

    • Bantu mereka yang menjadi korban. Stand up bagi mereka yang mengalami cyberbullying, baik persona tersebut teman kamu ataupun persona online lain. Kirim pesan pada mereka untuk menyemangati, atau jika kamu lebih berani, terbukalah bahwa kamu tidak mendukung tindakan bullying. Jika sang korban adalah teman kamu, tawarkan mereka sesi untuk bertemu agar bisa mengingatkannya bahwa mereka tidak seorang diri.
    • Jangan like, repost, atau bahkan share unggahan yang kontennya menyinggung atau mempermalukan seseorang. Gosip adalah gosip, ladies. Memperpanjang rantai cyberbullying adalah mimpi buruk. Berpikirlah dua atau bahkan berkali-kali sebelum kamu menyukai atau membagi unggahan. Dan tanyakan pada diri sendiri, "Apakah masih akan terasa lucu jika konten tak pantas ini adalah tentang saya?"
    • Jadilah bagian dari solusi cyberbullying. Ada banyak pledge atau organisasi yang bisa kamu dukung untuk bisa tergabung dalam menggerakkan kampanye anti-bullying. Tapi kalaupun langkah ini masih terasa jauh, cobalah menjadi role model bagi diri sendiri, dimulai dari bijak dalam berinteraksi online. Kadang langkah kecil dari kamu bisa memberi jejak bagi yang lain untuk mengikuti kamu.


    Jika kamu ingin mengentaskan cyberbullying bersama-sama:

    • Mari mulai percakapan bahwa cyberbullying adalah problem yang nyata. Tak perlu dimulai dari lingkungan yang jauh, jika kamu bisa membahas tentang masalah cyberbullying dengan keluarga, the girls, rekan kerja, dan bae pun, itu amat bagus! Dalam grup-grup yang meski kuantitasnya tak masif ini, tapi senjata esensial untuk memerangi cyberbullying bersama-sama adalah awareness. Percayalah, bahasan ini bisa menularkan (bahkan mengajari diri kita sendiri) tentang membuat keputusan online yang bijak.
    • Unplug diri sendiri. Tidak untuk selamanya, kok, maksudnya adalah hadirkan diri di waktu yang nyata, di luar dunia perangkat digital masing-masing. Rutinitas kecil dari mematikan media sosial saat waktu bersantap bersama bisa menciptakan pengalaman sosial real-time. Dengan berada di dunia ‘nyata’, kamu bisa menolong diri serta orang lain untuk mendiskusikan komunikasi negatif yang terjadi di dunia virtual ke perspektif yang lain.
    • Selalu percaya pada insting. Jika kamu tahu bahwa ada sesuatu di internet yang membuat kamu atau bahkan orang lain merasa tak nyaman, maka pahamilah bahwa itu merupakan sebuah warning sign. Bawa bahasan ini sebagai bahan diskusi apakah sesuatu yang mengganggu perasaan tersebut merupakan hal yang pantas atau tidak pantas dilakukan. Memahami perasaan diri sendiri akan membantu mengasah empati, and that’s when we can call this issue off.


    (Givania Diwiya / FT / Image: Elijah O'Donnell from Pexels)