Better You

Bertengkar & Tak Lagi Berteman dengan Sahabatmu? Baca Tips Ini

  by: Alvin Yoga       24/5/2021
  • Bertengkar dan tak lagi berteman dengan sahabat memang sangat menyedihkan. Tak seperti hubungan romantis dengan seorang kekasih dimana kamu bisa mencurahkan segala gundah dan kekesalan pada sahabatmu, kehilangan teman yang sangat dekat denganmu bisa meninggalkan perasaan yang lebih buruk, seakan-akan kamu merasa hampa dan terisolasi.

    Melewati masa-masa sulit ini bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti tak bisa dilakukan. Cosmo US bertanya pada Andrea Bonior, seorang penulis dan juga profesor jurusan Psikologi di Georgetown University, mengenai cara terbaik untuk menghadapi hal tersebut:




    1. Jangan sudahi perdebatan kalian tanpa penjelasan dari masing-masing pihak.

    Berhenti berdebat memang terasa seperti jalan keluar yang sehat untuk kesehatan emosional kalian berdua—karena kamu mungkin malas untuk melanjutkan perdebatan dengan sahabatmu. Cosmo mengerti. Namun sebaiknya hal ini tidak kamu lakukan. Jika kamu sedang berada dalam sebuah drama perdebatan yang kental bersama sahabatmu, akan lebih baik jika kalian berdua sama-sama menjelaskan apa yang kalian rasakan. Siapa tahu dengan begini kalian justru bisa sama-sama mengerti dan memahami apa yang dipikirkan satu sama lain. Jika setelahnya kalian memutuskan untuk tetap breakup, setidaknya kalian paham bahwa cara pandang kalian ternyata saling bertolak belakang.

    "Jika sebuah hubungan tidak lagi berfungsi seperti biasanya, maka faktor yang membuat hubungan tersebut terputus juga dapat menjadi alasan yang sama mengapa pengalaman tersebut tak menjadi suatu proses pendewasaan diri," ujar Dr. Bonior. "Singkatnya, kalian menerima bahwa persahabatan kalian terputus, tapi kalian berdua tidak menyadari mengapa hal tersebut terjadi. Ini yang keliru. Jika kalian tidak bicarakan dengan baik-baik, mungkin seumur hidup kamu akan terus berpikir bahwa temanmu tidak dapat menjadi orang yang kamu butuhkan karena alasan yang tidak tepat, padahal sebenarnya tidak begitu."


    Mungkin suatu hari nanti, dengan berjalannya waktu dan terpisahnya jarak, kamu akan mengerti apa yang dipikirkan sahabatmu. Saat ini, dengarkan saja dulu penjelasannya.


    2. Sibukkan dirimu dengan banyak hal.

    Putusnya sebuah persahabatan sama menyakitkannya (atau mungkin lebih menyakitkan) dengan putus dari pacar, dan ramuan obatnya—seperti menyibukkan diri—pun sama. Dr. Bonior merekomendasikan "teknik yang sama, yang dapat membantu meningkatkan suasana hati—mulai dari berolahraga, menghabiskan waktu di luar rumah, membantu orang lain, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang nyaman kamu ajak bicara, dan mempelajari berbagai hal baru."

    Ia juga menekankan bahwa membiarkan jadwal keseharianmu kosong mungkin bukanlah jalan keluar terbaik, dan ada baiknya kamu tetap melanjutkan hidup. "Mengatur goal baru untuk dirimu—baik di bidang karier, finansial, kesehatan, atau apapun—bisa membantumu untuk move on."


    3. Bertemulah dengan orang-orang baru—tapi jangan memaksa dirimu untuk menemukan seorang sahabat baru secepatnya.

    Jika kamu kehilangan seorang teman yang paling berharga bagimu, wajar saja jika kamu memiliki keinginan besar untuk segera mencari pengganti posisi tersebut secepatnya (sama seperti menginginkan kekasih baru ASAP setelah kamu putus dengan sang pacar). Namun catat: Hubungan persahabatan yang kuat biasanya tumbuh secara natural seiring berjalannya waktu. Sekarang ini, berteman dan membuka diri dengan banyak orang bukanlah hal yang buruk.

    "Fokuslah untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas, yang seringnya membantu membentuk persahabatan karena kalian terus menerus mengobrol. Kamu mungkin bisa mengikuti komunitas penggemar suatu artis K-pop, atau komunitas pembaca novel," ujar Bonior. Entah kamu menemukan teman baru yang juga menyukai hal yang kamu senangi, atau kamu menyibukkan diri dengan melakukan sesuatu yang dapat mengisi waktu kosongmu, it's a win win!


    4. Sesuaikan media sosialmu jika perlu.

    Adakah yang lebih menyebalkan dibanding melihat mantan-sahabatmu BERSENANG-SENANG dengan teman-teman barunya di Instagram? Teringat dengan mereka (terutama mengetahui bahwa mereka tampaknya tidak masalah kehilangan dirimu) bisa sangat menyakitkan, namun juga sebenarnya BISA kamu hindari.

    "Secara umum, kamu tidak mau melakukan sesuatu yang agresif yang hanya akan membuatmu merasa lebih buruk (atau membuat temanmu menjadi lebih marah), namun kamu juga tak ingin terus-terusan teringat dengan hal-hal yang membuatmu kecewa," ujar Dr. Bonior.



    Inilah mengapa tombol "unfollow" dan "untag" tercipta. Jangan memaksakan diri untuk "block" mereka jika kamu tak mau, namun menghindar dari keberadaan mereka mungkin menjadi jalan keluar yang terbaik saat ini.


    5. Persiapkan diri ketika bertemu dengan teman-teman yang mengenal kalian berdua.

    Jika kalian berdua sering hangout dengan beberapa teman, atau kalian kemungkinan besar bertemu satu sama lain dalam sebuah pesta yang digelar oleh seorang teman, kamu mungkin berpikir, "Apa alasan yang harus saya katakan pada orang-orang yang masih berpikir bahwa kami bersahabat?"

    Idealnya, jawabannya adalah: tak banyak yang bisa kamu lakukan, apalagi jika kamu ingin menghindari drama. "Ulangi sebuah mantra yang mungkin perlu kamu latih berulang kali—baik untuk dirimu sendiri, dan juga untuk orang-orang yang mungkin akan bertanya," ujar Bonior. "Ucapkan 'Saya dan dia tidak banyak bertemu dan mengobrol' dengan wajah yang datar. Jika kamu bertemu dengan mantan sahabatmu, ucapkan hal basa-basi seperti 'Apa kabar? Lama tidak bertemu. Semoga kamu sehat-sehat saja' bisa menghilangkan suasana aneh di antara kalian." Dan ya, jangan menghindar jika kalian sudah terlanjur saling berpapasan. Bersikaplah senormal mungkin.


    6. Berusahalah untuk belajar dari hal tersebut (jika memang ada yang bisa dipelajari).

    "Carilah sebuah pola," saran Dr. Bonior. "Apakah kamu sering menghadapi hal ini? Apakah alasan kalian tidak lagi berteman sama dengan alasan yang membuat kamu dan mantan teman-temanmu lainnya tidak lagi saling menyapa? Apakah kamu sering memilih untuk berteman dengan orang yang kepribadiannya seperti dirinya?"

    Hal terbaik yang bisa kamu pelajari dari hal menyedihkan ini adalah: Menyadari kebiasaan toksik yang ada, baik dari dirimu maupun dari dirinya. Jujurlah dengan dirimu sendiri, jika memang masalahnya berasal dari dirimu, maka akui dan perbaiki hal tersebut. Di sisi lain, jika ternyata akar permasalahan kalian berasal dari temanmu, maka tak ada yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki hal tersebut selain membiarkan dirinya sendiri menyadari hal tersebut dan memperbaikinya.


    7. Terima dengan kenyataan: Bahwa kalian mungkin tak akan bisa lagi berteman.

    Dua kemungkinan terbesar yang bisa terjadi, kamu tidak ingin lagi bertemu dengan orang tersebut...atau kamu diam-diam berharap bahwa kalian akan berbaikkan suatu hari nanti. Meski ide untuk memaafkan temanmu mungkin terdengar indah, kamu tak bisa terlalu bergantung pada kemungkinan tersebut.

    "Terkadang, ada hal-hal spesifik yang kamu harapkan—temanmu menyadari apa yang sebenarnya terjadi, atau ia akhirnya berhasil memperbaiki kesalahannya—namun kamu harus menyadari bahwa kamu tak memiliki kontrol apapun terhadap temanmu tersebut," ujar Bonior.

    Dalam beberapa tahun ke depan, salah satu dari kalian mungkin akan menghubungi pihak yang satunya, dan kalian mungkin akan memutuskan untuk membangun kembali persahabatan tersebut dari nol, serta menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Atau, kalian mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Memaafkan mereka (dan dirimu sendiri, ini juga penting!) pada akhirnya harus kamu lakukan. Apapun masa depan yang menanti kalian berdua, kamu harus berani membuat langkah maju sekarang. Time to move on, dear.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Cosmopolitan US)