Fashion

Trashion: Mengenal Tren Sustainable Fashion Terbaru

  by: Redaksi       27/5/2021
  • Trash·ion

    /traSHən/

    Gabungan dari kata trash dan fashion yang merupakan sebuah bentuk seni, perhiasan, fesyen, dan objek lain yang diproduksi menggunakan elemen barang bekas, dibuang, ditemukan, atau tidak terpakai untuk dialihfungsikan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.




    Tidak bisa dipungkiri, di balik keindahannya, industri fesyen memberi dampak buruk yang cukup signifikan terhadap lingkungan. Bahkan, melansir dari Business Insider, 10 persen emisi karbon di dunia datang dari proses produksi yang dilakukan dalam industri ini. Angka ini diprediksi akan terus meningkat, terutama dengan menjamurnya merek fast fashion di seluruh dunia. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah solusi dan alternatif baru untuk mengatasi masalah tersebut. Langkah pertama dapat diawali dengan membangun kesadaran dan kemauan untuk berubah.


    Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “sustainable” dan “sustainability” seringkali dijumpai dalam perbincangan di sosial media. Istilah ini sendiri merujuk pada sebuah sistem yang lebih berkelanjutan, baik dengan menjadi ramah lingkungan atau memberi hak yang layak pada para pekerja dalam suatu industri. Menjadi salah satu industri dengan pergerakan yang cepat, industri fesyen pun dituntut untuk mulai mengadopsi sistem bisnis yang lebih sustainable.

    Untuk mengusung prinsip sustainable fashion, ada banyak hal yang dapat dilakukan seseorang. Mulai dari mengurangi konsumsi barang baru, menggunakan pakaian berbahan dasar organik, menghindari merek fast fashion, bahkan mendaur ulang atau mengalihfungsikan barang yang tidak terpakai. Mendaur ulang suatu barang biasa dikenal dengan istilah recycle dan pengalihfungsian dikenal dengan upcycle. Produk yang dihasilkan nanti tergolong dalam suatu kategori bernama trashion, gabungan dari kata trash dan fashion.


    Mengapa kita harus mempertimbangkan untuk menggunakan trashion?

    Dengan meningkatnya merek fast fashion di dunia, produksi dan konsumsi akan produk fesyen sudah hampir bisa dipastikan akan terus meningkat. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh McKinsey&Co. pada tahun 2014, produksi garmen terhitung sebanyak 100 triliun. Dengan kata lain, dalam setahun setiap orang di seluruh dunia diperkirakan membeli 14 pakaian baru. Terlebih lagi, untuk mengolah kapas, material yang paling umum digunakan dalam membuat pakaian, sangat bergantung pada penggunaan air, pestisida, dan pupuk dalam jumlah yang banyak. Diestimasikan untuk membuat 1 kilogram kain akan menghasilkan 23 kilogram zat rumah kaca. Padahal, rata-rata konsumen membuang sekitar 31.75 kilogram pakaian tiap tahunnya. Di sinilah peran trashion dibutuhkan.

    Dengan mengolah kembali tekstil yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru, limbah produksi akan berkurang. Selain itu, karena trashion tidak membuat pakaian dari bahan mentah, emisi karbon yang dihasilkan pun akan sangat sedikit. Kini banyak juga desainer dan peneliti yang mengembangkan garmen dari daur ulang sampah seperti botol-botol plastik dan sisa makanan yang terbuang. Dari sini dapat dilihat bahwa peran trashion memiliki cakupan yang luas dan dapat membantu industri lain selain fesyen.




    Bagaimana cara mengolah barang tidak terpakai hingga menjadi trashion?

    Seperti yang sempat dijelaskan di awal, umumnya trashion dibagi menjadi dua kategori: recycle dan upcycle. Recycle atau daur ulang artinya mengolah kembali suatu limbah menjadi sebuah material baru sedangkan upcycle biasanya lebih mengarah pada pengalihfungsian suatu barang tidak terpakai. Saat ini, mungkin ada satu keraguan yang muncul di pikiranmu: Kalau ini dari barang bekas, bagaimana cara memastikan agar saya mendapat kualitas yang tetap terjamin? Untuk kamu yang ingin mulai mencoba recycle atau upcycle, ada beberapa tips dari Cosmo yang dapat kamu ikuti:

    1. Cuci bersih material yang ingin kamu olah. Hal ini akan sangat membantu jika kamu mengolah kembali pakaian lamamu. Selain lebih higienis, kamu juga dapat mendeteksi apakah ada kelunturan warna pada pakaian tersebut.

    2. Rencanakan apa yang akan kamu buat. Semisal kamu ingin membuat tas dari celana denim lamamu, pikirkan sebesar apa tas yang ingin kamu buat dan bagian mana saja yang kamu butuhkan dari celana tersebut. Jangan sampai di tengah jalan kamu menyadari bahwa celana itu tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang kamu inginkan dan pada akhirnya proyek tersebut kamu terlantarkan.

    3.Kesabaran adalah hal yang utama! Mengolah barang tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru bisa menguras banyak waktu, tenaga, dan biaya. Dibutuhkan kesabaran lebih jika kamu ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang berkualitas dan keren.

    Bagaimana? Sudah siap memberi kontribusi lebih pada alam?


    (Nabila Nida Rafida / VA / Image: Dok. Jilbert Ebrahimi on Unsplash)