Fashion

Rekomendasi Brand Lokal Dengan Konsep Zero Waste

  by: Redaksi       28/5/2021
    • Gaya hidup modern telah mendorong kita untuk berlaku konsumtif. Tanpa kamu sadari, tempat pembuangan sampah telah menggunung dan lautan tercemar dengan jutaan ton sampah yang tidak dapat terurai.
    • Konsep zero waste merupakan salah satu konsep hidup berkelanjutan yang paling dikenal. Tidak hanya dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, namun zero waste juga sedang naik daun di antara merek-merek lokal.


    Jika kamu sudah lama mengadopsi gaya hidup sustainable, kamu pasti sering mendengar istilah zero waste atau bebas sampah. Wajar saja, ini dikarenakan zero waste merupakan salah satu konsep dari hidup berkelanjutan yang paling dikenal. Gaya hidup ini mengajak kita untuk lebih sadar akan hal yang kita konsumsi dan limbah yang ditinggalkannya. Untuk mewujudkan zero waste, kita bisa mengurangi penggunaan produk sekali pakai dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih tahan lama. Tapi, apakah kamu tahu kalau ternyata konsep zero waste ini tidak hanya suatu prinsip gaya hidup melainkan dapat diaplikasikan dalam industri fesyen?

    Zero waste dalam konteks fesyen merujuk pada pembenahan sistem produksi yang dinilai terlalu mencemari lingkungan. Tidak hanya menambah kandungan gas emisi di udara, tapi sisa-sisa kain hasil potongan yang tidak terpakai pun juga ditinggalkan begitu saja dan meningkatkan jumlah limbah buangan. Ada banyak cara untuk menghasilkan produk fesyen berkualitas dengan tetap mempertahankan praktik zero waste, entah itu dengan pendaurulangan (recycle) atau pengalihfungsian (upcycle). Tidak percaya? Beberapa brand lokal di bawah ini telah membuktikan bahwa berbisnis dengan prinsip zero waste bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.




    Sejauh Mata Memandang




    Kerap membangun instalasi untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap limbah dalam industri fesyen, SMM juga memfasilitasi penggemarnya untuk berpartisipasi dalam pendonasian baju tidak terpakai untuk dilakukan recycle dan upcycle. Selain dari segi edukasi, ternyata SMM juga berusaha menerapkan prinsip zero waste ini dalam produk mereka. Tidak hanya menggunakan serat organik sebagai bahan dasarnya, SMM juga seringkali menggunakan bahan daur ulang dan deadstock. Seperti pada koleksi terakhir mereka yang bernama #SejauhDaur yang menggunakan sisa kain tidak terpakai dan tekstil daur ulang limbah pra-produksi, misalkan.


    Sukkha Citta



    Sukkha Citta merupakan brand lokal yang hadir di Indonesia sejak tahun 2016 dan didirikan oleh Denica Riadini-Flesch. Denica yang saat itu masih bekerja di World Bank memiliki keinginan untuk lebih berkontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia dengan langsung terjun ke lapangan.Sukkha Citta mengusung 3 pilar utama yang bersifat sebagai pedoman bisnis: Pemberian upah yang layak, dampak baik terhadap lingkungan, dan penjagaan budaya Indonesia. Dengan ini, Sukkha Citta berhasil membangun sebuah label yang tidak hanya ramah lingkungan  tetapi juga memberdayakan para ibu-ibu pengrajin di desa binaan mereka. Oh, satu lagi, Sukkha Citta juga menekan pembuangan limbah tekstil mereka dengan cara mengolah kembali potongan kain sisa menjadi packaging pakaian mereka, lho.



    Pijak Bumi



    Pijak Bumi merupakan merek sepatu lokal asli Bandung yang sudah bisa dikatakan go international. Sejak tahun 2016, Pijak Bumi secara konsisten menyajikan deretan koleksi sepatu berkualitas dan ramah lingkungan. Sepatu yang mereka produksi diklaim berasal dari bahan natural dan daur ulang seperti kulit kelapa, ban bekas, dan recycled cotton.


    Imaji Studio



    Tidak hanya mengusung prinsip zero waste, tetapi Imaji Studio juga berusaha untuk memasukkan unsur budaya Indonesia ke dalam setiap desainnya. Imaji Studio menyediakan berbagai jenis fashion item, mulai dari pakaian hingga aksesori. Yang menarik dari brand satu ini adalah, seluruh kain sisa produksi pakaian akan dikumpulkan dan diolah kembali untuk membuat aksesori-aksesori cantik yang berkualitas. Pssst, Imaji Studio juga sangat transparan, lho, dengan proses produksinya! Mereka menjelaskan secara rinci apa, dimana, dan bagaimana mereka mengolah bahan bakunya hingga produk jadi.


    Osem



    Osem merupakan sebuah brand lokal yang hadir pertama kali di Jakarta pada tahun 2014. Salah satu ciri khas produk Osem sendiri adalah pengaplikasian teknik tie-dye khas Indonesia yang sering disebut dengan istilah jumputan. Untuk meminimalkan limbah produksi, Osem mengolah kembali sisa kain produksi mereka menjadi produk yang lebih kecil dan memberikannya kepada label lain yang membutuhkan. Tidak hanya itu, mereka juga menghindari penggunaan resleting dan kancing berbahan plastik. Hal ini dilakukan untuk memastikan kalau produk mereka dibuang, seluruhnya dapat terurai secara alami.


    Setali





    Sejak tahun 2018 lalu, Andien Aisyah mendirikan Setali untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan limbah pakaian. Memiliki makna satu tali. Penamaan ini dilatarbelakangi karena Setali memiliki fokus utama untuk memperpanjang usia pakaian dengan cara menjualnya kembali atau melakukan upcycle pada pakaian tersebut.


    Threadapeutic



    Threadapeutic terkenal dengan produk mereka yang dihasilkan melalui teknik manipulasi tekstil bernama faux chenille di mana potongan-potongan kain akan ditumpuk satu persatu dan dijahit kembali untuk menghasil sebuah produk dengan permukaan yang lembut. Threadapeutic bekerja sama dengan berbagai studio fesyen, pabrik tekstil, hingga toko interior untuk mendapatkan kain sisa produksi mereka. Hasilnya, Threadapeutic pun memiliki serangkaian produk unik yang tidak dapat kamu jumpai dimanapun.


    Hlaii


    Percayakah kamu kalau saya berkata bahwa merek satu ini tidak melakukan pemotongan kain dalam proses produksinya? Yup, brand lokal yang berdiri sejak 5 tahun silam ini telah mengembangkan sebuah teknik yang memungkinkanmu untuk memproduksi pakaian tanpa memotong kain. Hlaii biasanya bekerja dengan sebuah kain berbentuk persegi panjang dan membentuknya dengan teknik draping, crumpling, dan folding hingga menjadi sebuah pakaian yang cantik. Meski lebih memakan waktu, namun teknik ini terus dipertahankan karena memungkinkan Hlaii untuk mengubah kain apapun, entah itu chiffon atau brokat, menjadi sesuai dengan keinginan klien.


    (Nabila Nida Rafida / Image: Instagram @_hlaii, @threadapeutic, @setali.indonesia, @_osem, @imaji.studio, @pijakbumi, @sejauh_mata_memandang, @sukkhacitta)