Better You

Cosmo Opinion: Ini Pengaruh Pandemi Pada Persahabatan Saya

  by: Alvin Yoga       29/5/2021
  • Kalau boleh jujur, pandemi ini mengubah banyak hal dalam keseharian saya. Apakah kamu juga merasa demikian? Jika ya, apa saja yang berubah dalam jadwal keseharianmu?

    Bagi saya, bahkan rutinitas pagi sebelum saya memulai kerja pun telah berubah. Tebak, apa yang kini biasa saya lakukan setiap pagi selama pandemi? Jawabannya: Menikmati secangkir kopi hangat bersama para sahabat terdekat saya.

    Well, secara teknis memang tidak langsung bertemu dan menikmati secangkir kopi bersama. Yang sebenarnya kami lakukan: Membuat segelas kopi di rumah masing-masing, mengambil ponsel dan melakukan panggilan video, kemudian masuk ke kamar dan duduk di spot favorit sambil saling bercerita mengenai (masalah) kehidupan masing-masing. Memang, tidak setiap pagi kami bisa melakukannya, karena terkadang (oke, seringnya) ada panggilan rapat atau diskusi dari rekan kerja yang tak boleh ditinggal.



    Apa saja yang kami bicarakan? Banyak. Like, A LOT. Pasalnya, ada banyak hal yang terjadi pada kita selama pandemi ini. Mulai dari membicarakan resep terbaru yang kami coba dari TikTok, membahas dekorasi rumah yang menggemaskan untuk mempercantik kamar, berbagi masalah percintaan, sampai serial drama Korea. Dan kalau tidak kami bicarakan lewat panggilan video, maka kami akan mengobrol lewat pesan teks di WhatsApp, yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1000 pesan dalam kurun waktu 24 jam. Kami juga saling mengirim DM di Instagram, yang kebanyakan isinya adalah potongan klip drama Korea yang mengocok perut serta tingkah laku binatang-binatang peliharaan yang menggemaskan.

    Yang paling menarik tentunya adalah obrolan dengan beberapa teman saya yang baru saja menikah, serta beberapa sahabat yang kini memiliki bayi! Guess life keeps going on, even in this pandemic.


    Di antara himpitan jam kerja yang kini rasanya tidak ada hentinya, melakukan panggilan video dan saling mengirim pesan ini terasa seperti...rute kabur sementara dari kehidupan nyata yang menyesakkan. Ketika saya membutuhkan waktu untuk "menemukan" diri saya kembali, saya akan menghubungi sahabat-sahabat saya dan mengobrol panjang-lebar dengan mereka. Ya, sambungan video ini seakan menjadi "tali penyelamat" yang mengikatkan saya pada kewarasan saya, terutama sepanjang setahun terakhir ini.

    Ada banyak alasan yang membuat 2020 menjadi tahun yang paling panjang dalam sejarah hidup saya: Kita semua tahu kenapa—dan kira-kira apa yang akan terjadi sampai akhirnya virus ini bisa berada dalam kontrol. Meski rasanya sulit untuk mengambil pesan positif dari hal ini, saya banyak menghabiskan waktu untuk mencari-cari: Apa sih, yang bisa saya syukuri dari peristiwa ini? Satu fakta menonjol yang bisa saya temukan adalah bahwa hubungan persahabatan saya dengan teman-teman terdekat dalam hidup saya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Like, ever.

    700 hari yang lalu—sebelum teman-teman dan saudara saya menggelar pernikahan-pernikahan kecil di masa pandemi, sebelum bayi-bayi menggemaskan lahir dan memberikan kebahagiaan di masa sulit ini, sebelum teman saya mendapatkan pekerjaan baru, dan sebelum semua perubahan besar terjadi dalam hidup kita—saya dan sahabat-sahabat saya sedekat...sepasang kaus kaki. Kami sering sekali bertemu, well, setidaknya satu minggu sekali, hanya untuk sekadar mengobrol santai sambil menikmati makanan favorit di restoran pilihan. Atau untuk sekadar berkendara mengelilingi kota Jakarta dan mencoba kafe baru yang katanya menyajikan kopi enak. Lalu tiba-tiba saja, hidup saya berhenti di tahun 2020, dan semua hal berubah. Impian dan rencana kami untuk berlibur bersama? Canceled. Mengunjungi kafe baru demi mengambil foto-foto menarik untuk diunggah di Instagram? Canceled. Menghadiri pernikahan teman? Canceled.

    Bulan Maret tahun lalu, ketika COVID-19 mulai masuk ke Indonesia, jiwa ekstrover saya mulai gelisah. Saya tahu bahwa "berdiam di rumah" tidak akan menguntungkan diri saya. Hal ini juga terjadi pada beberapa teman, terutama mereka yang masih single, dan mereka yang terperangkap di rumah bersama dengan orang tua mereka. Dan benar saja, dalam hitungan minggu, hal ini membuat jiwa sosial kami meronta. Alasannya jelas: Dengan adanya aturan self-quarantine dan imbauan untuk seminim mungkin keluar dari rumah, kita semua terpisah secara fisik untuk jangka waktu yang sangat lama. Di sisi lain, tak banyak yang bisa kita lakukan di tengah situasi ini. Alhasil, orang-orang yang tadinya saya kenal dengan baik pun perlahan-lahan mulai menjauh.



    Kehidupan saya pun mulai terkesan membosankan. Jika tadinya kegiatan favorit saya adalah me-time di rumah sambil membaca novel yang baru saya beli, kini hal tersebut tak lagi semenarik sebelumnya. Jika tadinya kami bisa bersenang-senang sambil berpesta di sebuah kelab (sambil tentunya berkenalan dengan gebetan baru, oh, kangen sekali masa-masa ini!), kini saya harus bersyukur dengan segelas bubble tea dari layanan pesan-antar di tangan kiri dan ponsel dengan panggilan video di tangan satunya. Jika tadinya saya mencari seribu alasan untuk menunda rencana bertemu dengan teman-teman saya karena, "Ah, malas keluar," kini saya menyesali keputusan tersebut.

    Untungnya, teknologi menyelamatkan kami. Hari-hari yang biasa saya lewatkan hanya dengan duduk di depan laptop, perlahan berubah. Sedikit demi sedikit, saya mulai menghubungi sahabat saya kembali, atau sebaliknya, mereka mulai menghubungi saya, baik lewat balasan InstaStory di Instagram, atau pesan singkat di WhatsApp. Perlahan-lahan obrolan pendek kami pun berubah menjadi percakapan panjang. Dan akhirnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan kami, kami membuat komitmen untuk bertemu secara daring setidaknya seminggu sekali: Kami berjanji untuk menggelar makan malam sambil melakukan panggilan Zoom, diselingi dengan cerita-cerita mengenai kehidupan kami selama seminggu terakhir. Atau kalau kami sedang malas, kami akan melakukan group call sambil rebahan di atas tempat tidur, yang berujung saling menyemangati satu sama lain atas masalah yang kami miliki.

    Selagi hari terus berjalan, kami pun belajar untuk merayakan ulang tahun dengan cara yang berbeda. Kami juga banyak berdebat, mengenai apakah gebetan yang ini pantas untuk teman kami, atau apakah skincare yang satu itu benar-benar sebaik yang dibicarakan orang-orang, dan sebagainya dan sebagainya.

    Kini, lebih dari satu tahun telah berlalu sejak semua ini bermulai. Ada banyak hal yang terjadi pada saya dan sahabat-sahabat saya: pernikahan pandemi, PHK, bayi yang baru lahir, terpaksa pindah dari Jakarta ke kota kecil, rumah baru, patah hati, pekerjaan baru, kekasih baru, bisnis baru, sampai kehilangan orang tercinta. Di antara ratusan kisah yang saling kami bagikan, obrolan kami tak pernah lepas dari harapan yang rapuh akan masa depan yang penuh ketidakpastian.

    Meski begitu, karena kami berusaha untuk melewati semua hal ini bersama, setidaknya beban yang kami rasakan tidak seberat sebelumnya. Kini kami juga saling berbagi mimpi yang sama: Makan malam di restoran favorit tanpa peduli soal masker dan hand sanitizer, traveling ke destinasi impian tanpa perlu khawatir soal karantina, serta hal-hal lain yang membuat persahabatan kami kini lebih kental dibanding sebelumnya. Dalam banyak hal, pandemi ini memang memisahkan kita, namun saya juga bisa berkata bahwa pandemi ini mendekatkan kami dengan cara yang tidak pernah kami sangka sebelumnya.

    (Alvin Yoga / Image: Dok. Katarzyna Grabowska on Unsplash)