Beauty

Alasan Di Balik Kepopuleran Parfum Unisex

  by: Redaksi       14/5/2022
  • Menentukan parfum yang tepat adalah sebuah hal yang personal bagi setiap orang. Biasanya hal paling simpel ketika akan memilih sebuah parfum selain jenis aroma yang diinginkan, gender sering kali jadi acuan. Sederhananya, aroma bunga yang manis ditujukan bagi perempuan. Sementara pria akan memakai wewangian yang lebih woody karena lebih maskulin.

    Namun anggapan tersebut tampaknya telah usang. Kini semua orang bebas menentukan jenis parfum sesuai dengan keinginan mereka. Tak heran bila parfum unisex kembali populer. Sebelumnya wewangian jenis ini booming di era ‘90an lewat parfum ikonis CK One.

    Mintel pada surveinya melaporkan terjadi lonjakan penjualan unisex. Pada tahun 2010, total penjualan jenis parfum hanya 17 persen lalu pada tahun 2018 meningkat hingga 51 persen.





    Tak bisa dipungkiri bahwa terjadinya perubahan persepsi mengenai identitas gender jadi faktor yang memengaruhi tren ini. Di era milenium ketiga ini identitas gender dan gender pronouns makin beragam. Kini sering kita jumpai dalam sejumlah laman pendaftaran pada kolom gender juga terdapat opsi ‘non-binary’.

    “Saya terkejut ketika seorang pria memilih wewangian flora, jasmine, dan freesia,” terang Linda Pilkington, pendiri label parfum Ormonde Jayne seperti dikutip dari The Guardian. Pilkington sendiri telah memfokuskan kreasinya pada parfum lintas gender. “Lalu pria lainnya membeli parfum wangi bunga mawar Ta’if dari sebuah department store. Kemudian, ia mengeluh karena telah membeli parfum perempuan. Saya mengatakan kepadanya, ‘jika kamu menyukainya, mengapa harus dipermasalahkan?’ sejak itu saya menyadari bahwa saya harus mengubah pemikiran mengenai mengkategorikan berdasarkan gender,” tambahnya.

    Sejumlah label mewah juga mulai membidik kembali segmen ini. Gucci melansir Mémoire d'Une Odeur. Sementara Celine langsung menawarkan 9 parfum.


    Byredo jadi salah satu parfum unisex yang populer. Ben Gorham selaku pendiri mengaku baginya parfum bukan hanya jadi sebuah identitas dari si pemakai. “Personal chemistry dan gaya hidup individu saling terkait dan memengaruhi wangi sebuah parfum di kulit. Menurut saya, untuk menggeneralisasi berdasarkan gender tidaklah akurat. Selama proses kreatif pembuatan saya tidak selalu siapa yang akan memakai kreasi saya, ini adalah tentang ekspresi personal,” ujarnya seperti dilansir Vogue India.




    Teks: Malcolm Rei/Foto:Freepik, Gucci, Celine




    tags: parfum