Career

5 Seni Menyampaikan Feedback untuk Rekan Kerjamu

  by: Redaksi       19/5/2022
  • Cosmo babes, pasti banyak kan di antara kamu yang ingin memberikan masukan atau kritikan kepada rekan kerjamu di kantor? Akan tetapi, kamu menemui kendala dimana kamu tidak ingin menyakiti hati mereka yang ingin kamu kritik. Alhasil, proses pemberian feedback darimu tidak maksimal, atau bahkan tidak jadi kamu sampaikan.

    Padahal, setiap orang terkadang memerlukan feedback dari orang lain lho, babes! Sebab salah satu syarat bagi individu untuk berkembang ialah masukan dari orang-orang di sekitarnya. Lantas, apabila feedback tersebut tidak disampaikan, bagaimana seseorang bisa mengetahui letak kesalahannya yang perlu dievaluasi? Hal tersebut akhirnya akan memengaruhi kinerja dalam sebuah pekerjaan.




    Untuk itu mari kita simak 5 seni menyampaikan feedback untuk rekan kerjamu berikut ini:



    1. Ketahui setiap dampak dari umpan balik




    Umpan balik memang diperlukan karena dapat memberikan pengaruh yang positif, tetapi kamu harus mengetahui pengaruh negatifnya pula. Pengaruh positif atau baiknya adalah seseorang dapat termotivasi untuk menjadi individu yang lebih baik lagi dan mampu meningkatkan semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya.

    Sebaliknya, pengaruh negatif atau buruknya dari penyampaian umpan balik adalah menurunkan semangat orang lain karena kalimat-kalimat yang terlalu kaku atau cenderung seadanya oleh pengumpan dinilai melukai hati dan harga diri mereka.

    Jadi pilihlah kata-kata yang bijak namun tetap to the point saat hendak menyampaikan feedback kepada rekan kerjamu. 

    2. Memposisikan diri sebagai ‘teman’




    Mungkin kamu berada di sebuah kondisi dimana kamu hendak menyampaikan masukan atau kritikan kepada bawahanmu atau seseorang yang lebih muda darimu. Meskipun begitu, coba sampaikan masukan atau kritikan tersebut seperti kamu berbincang dengan seorang teman dekat.

    Dalam menyampaikan umpan balik, penting sekali untuk menjalin komunikasi yang baik dengan sasaran kita. Koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian harus diberikan dengan cara yang tepat dan efisien, bukan hanya perkara atasan dan bawahan.

    Menilik survei yang dilakukan Jobstreet, terdapat 53% dari total 17,623 koresponden karyawan yang mengaku memiliki atasan dengan gaya kepemimpinan militer, partenalis, dan laissez faire. Paternalis dan laissez faire yang dimaksud di sini adalah tidak pernah memberikan kesempatan pada bawahan untuk mengembangkan daya kreativitasnya. Dalam menyampaikan umpan balik, maka kita harus berada di lingkungan yang mendorong orang-orang di dalamnya untuk berkembang.


    3. Mengubah pola pikir kita menjadi sesuatu yang positif




    Feedback atau umpan balik dapat disampaikan dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berupa koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian. Membangun pola pikir bahwa umpan balik adalah hal yang kita butuhkan dalam menjalani hidup dapat membantu kita pula ketika hendak menyampaikan umpan balik pada orang lain.



    Ketahui bahwa umpan balik diberikan untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik lagi, bukan untuk menjatuhkan mental seseorang. Feedback sebaiknya tidak diberikan atas hal yang ‘memenuhi target’, seperti halnya rapot sekolah yang diberikan tiap setengah tahun sekali. Pahami bahwa umpan balik bisa diberikan setiap kali kamu melihat seseorang memerlukan koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian. 

    Posisikan dirimu sebagai pemerhati dan pengawas di sini, sehingga dengan frekuensi tersebut orang yang mendapatkan umpan balik darimu juga akan memahaminya.


    4. Feedback bukanlah suatu bentuk komunikasi satu arah




    Sebagai pemberi umpan balik yang hendak memberi, pastikan bahwa komunikasi yang saat itu tengah dilakukan adalah komunikasi dua arah. Artinya, kita sebagai pemberi umpan balik tidak boleh langsung mencerca dan menghujani orang tersebut dengan kritikan. Berikan waktu untuk mereka menanggapi, dan beri mereka waktu juga untuk mencerna pesan yang kita maksud.

    Dilansir Journal of Palliative Medicine, kunci dalam memberikan kritik ialah telah memiliki solusinya meskipun tetap meminta orang yang kita kritik untuk mencoba mencari dulu jawabannya dengan mandiri. Solusi tersebut juga dilengkapi dengan petunjuk, agar orang lain bisa memahami apa yang kita maksud dan tercipta komunikasi yang efektif.

    Kritikan yang kita berikan juga harus menekankan pada pekerjaan mereka, bukan pribadi mereka sehingga orang tersebut tidak merasa diserang. Jangan lupa bahwa kamu tidak harus menunggu seseorang untuk memberikan umpan balik bagimu ya, girls.


    5. Mau untuk menerima umpan balik dari orang lain juga




    Terakhir, setelah kita mempelajari bagaimana menyampaikan feedback untuk rekan kerja kita, maka kita harus juga belajar menerima umpan balik yang mereka berikan pada kita. Fokuslah pada pesan yang disampaikan, lupakan hal-hal yang menurutmu menyakiti hatimu. Satu hal yang perlu Cosmo babes ingat, apabila kita takut dalam menerima feedback dari orang lain, maka kita pun tidak akan berani untuk menyampaikan feedback pada mereka.

    Kamu juga bisa langsung memintanya kepada orang lain sebagai pemerhati dan pengawas kinerjamu. Hal tersebut tentunya akan mempercepat proses belajarmu di dunia kerja yang sedang kamu geluti saat ini.


    Penyampaian umpan balik atau feedback pada seseorang memang harus diperhatikan dan dilakukan dengan hati-hati ya, girls! Namun, hal itu bukan berarti kamu malah mengurungkan niatmu untuk memberikan umpan balik pada orang lain. Coba terapkan seni menyampaikan feedback di atas untuk rekan kerjamu!


    (Fishya Elvin/ GIO / Images: Photo by Mentatdgt on Pexels, Photo by Startup Stock Photos on Pexels, Photo by Moose Photos on Pexels, Photo by Monstera on Pexels, Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels)