Love & Sex

4 Gaya Komunikasi Yang Bisa Bikin Hubungan Kamu Gagal!

  by: Redaksi       26/5/2022
  • Keharmonisan hubungan adalah hal yang sangat penting, tapi seperti yang kita tahu menjaga rasa harmonis itu ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Ada banyak faktor yang menjadi hal dasar penting dalam hubungan, salah satunya adalah komunikasi. Komunikasi sangat penting dalam suatu hubungan karena dapat menimbulkan rasa empati dan kepercayaan ke pasangan kita serta menghindari terjadinya konflik.

    Namun, tidak semua orang mengerti bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik dan benar. Kali ini Cosmo akan membahas 4 gaya komunikasi yang bisa bikin hubungan asmara kamu kandas, berdasarkan teori Four Horsemen of The Apocalypse dari Gottman (1977).

    Curious to know more?



    1. Criticism / kritik


    Horsemen yang pertama adalah criticism atau kritik. Menurut Gottman mengkritik dan menyuarakan sebuah keluhan adalah dua hal yang berbeda. Aksi mengkritik adalah sebuah serangan terhadap karakter inti seseorang dan dapat membuat pasanganmu merasa ditolak dan disakiti. Apabila kamu dan pasanganmu sangat kritis akan satu sama lain, bukan berarti hubunganmu akan kandas ya Cosmo babes tapi memberikan terlalu banyak kritik membuka jalan untuk para horsemen lain yang jauh lebih membahayakan untuk masuk ke hubungan kamu.

    Mengenali perbedaan diantara menyampaikan sebuah keluhan dan mengkritik adalah hal yang penting. Coba simak perbedaan tersebut di kalimat di bawah ini:

    Keluhan - “Aku merasa takut kalau kamu pulang malam dan enggak memberi kabar. Aku kira kita berdua sudah janji untuk saling berkabar.”


    Kritik - “Kamu enggak pernah mikirin bagaimana kelakuan kamu bisa nyakitin perasaan orang lain. Kamu nggak pernah mikirin aku! Aku nggak percaya kalau kamu lupa untuk berkabar sama aku, kamu hanya egois saja!”


    2. Contempt / penghinaan


    Horsemen yang kedua adalah contempt atau penghinaan. Saat kita berkomunikasi dengan intensi untuk menghina kita melebihi batas menyampaikan kritik dan mulai memperlakukan orang lain secara kasar. Salah satu contoh dari contempt adalah mengejek dengan sarkasme atau menggunakan body language yang negatif seperti eye-rolling atau scoffing. Tujuan utama dari contempt adalah untuk membuat lawan bicara merasa dibenci dan tidak berharga.

    Kunci dari menjauhi penggunaan contempt dalam komunikasi keseharian kita adalah untuk menempatkan diri di posisi pasangan kita dan menjauhkan rasa superior saat berbicara, simak contohnya di bawah ini:

    Tidak dengan Contempt - “Aku mengerti kalau kamu lelah, tapi aku sudah seharian mengurus rumah. Aku berharap kamu bisa ikut membantu aku untuk beres-beres sedikit ya.”

    Respon Contempt - “Kamu lelah? Aku seharian sudah mengurus rumah lho dan kamu pulang-pulang mau langsung tiduran di kasur seperti anak kecil? Kenapa sih kamu enggak berguna?”


    3. Defensiveness / sikap defensif


    Menuju horsemen yang ketiga adalah defensiveness atau sikap defensif. Seringkali dalam hubungan, saat kita merasa dituduh reflek utamanya adalah untuk menjadi defensif dan melontarkan alasan kepada pasangan kita atau playing victim. Menurut Gottman hal ini sebenarnya membuat pasangan kita merasa bahwa kita tidak mau bertanggung jawab atas kelakuan kita sendiri dan tidak menyikapi perasaan mereka secara serius.

    Respon yang tidak defensif seharusnya mencerminkan rasa tanggung jawab kita, mengerti kesalahan yang telah diperbuat dan mengedepankan perspektif atau perasaan pasangan kita, contohnya dibawah ini:

    Tidak Defensif - “Maaf aku lupa membuat reservasi di restoran untuk kita. Tadi pagi aku sangat sibuk, seharusnya aku bertanya pada mu tadi pagi. Coba aku telepon sekarang ya.”

    Respon Defensif - “Tadi pagi aku sangat sibuk dan banyak urusan. Kenapa enggak kamu saja yang membuat reservasi? Kenapa kamu enggak berinisiatif untuk menelpon restorannya?”


    4. Stonewalling



    Horsemen yang terakhir adalah stonewalling atau ketika kita memilih untuk menutup diri dan berhenti merespon pasangan kita sepenuhnya. Ciri-ciri utama dari stonewalling adalah mengabaikan masalah, menolak untuk berkomunikasi dan mengolah perasaan bersama pasangan.

    Walaupun menghindari konfrontasi terlihat seperti solusi yang lebih baik dibanding menghadapi secara langsung masalah yang ada, ternyata hal ini sebenarnya dapat memperburuk konflik karena didiamkan begitu saja.

    Untuk menghindari stonewalling, lebih baik kamu meminta waktu kepada pasanganmu agar dapat menenangkan diri dan meluruskan pikiran sebelum berbicara lagi.

    (Ameina Dewi / Images: Ready made from Pexels, Alex Green from Pexels, Timur Weber from Pexels, Vera Arsic from Pexels).