Lifestyle

Monolog Inggit: Inspirasi dari Wanita yang Dikecilkan Perannya

  by: Redaksi       6/6/2012
  • “Sebagai seorang perempuan, saya sudah mengambil hak saya untuk berkata tidak pada seorang laki-laki yang bernama Kusno.” ~ Inggit Garnasih

    Lampu menyala, di tengah panggung seorang wanita berkebaya putih dengan rambutnya yang disanggul seadanya duduk sendiri di sebuah kursi. Di belakangnya terhampar tirai putih dan sebuah ranjang. Di bagian kanan panggung dihiasi meja panjang yang di atasnya tersusun figura memuat foto suaminya, Soekarno - yang lebih sering dipanggilnya Kusno. Dan sepanjang dua jam ke depan, wanita itu menjelma masuk dalam sosok Inggit Garnasih, seorang wanita sederhana yang hampir terlupakan di balik perjuangan kemerdekaan Indonesia. Romansa awal percintaannya dengan sosok Soekarno remaja sementara dirinya sudah bersuami menjadi rintangan pertamanya. Hingga akhirnya mereka menikah, dan Inggit menolak dipoligami, bahkan jika alasannya adalah karena Soekarno ingin memiliki keturunan.

    Pilihan-pilihan hidup tersebut kemudian membawanya dalam kesendirian saat Soekarno ada di puncak kemerdekaan Indonesia, dipuja dan dibanggakan sejarah. Yeap, Inggit memilih kembali pada keseharian hidupnya; meracik jamu, membuat bedak, dan berjualan hingga akhir hayatnya.



    Pada tanggal 4-5 Juni lalu, Gedung Salihara, Jakarta, menjadi tempat dipentaskannya kembali Monolog Inggit yang diperankan secara brilian oleh Happy Salma dibawah arahan sutradara Wawan Sofwan. Pementasan yang naskahnya ditulis oleh Ahda Imran ini diadaptasi dari buku Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. Selama dua hari yang sarat penonton tersebut, Monolog Inggit dengan sukses menghadirkan kembali sosok yang hampir terlupakan oleh sejarah, yaitu Inggit Ginarsih. Prinsip hidup dan semangatnya tentu dapat menjadi inspirasi bagi Anda semua, ladies. We can learn so many things from her. (Muhammad Muhtar/IR/Image: dok. Image Dynamics)