Better You

Berat Badan Naik Menjelang Lebaran? Coba Reverse Diet!

  by: Alexander Kusumapradja       8/6/2018
  • Ladies, setelah menjalani puasa, mungkin kamu merasa berat badan turun 1-4 kilogram. Namun, begitu Lebaran tiba dengan segala santapan lezat yang bisa membuatmu gelap mata, bisa jadi timbangan kamu akan langsung naik drastis! Hal itu karena saat puasa, asupan kalori yang kita serap memang lebih sedikit dibanding hari biasa dan metabolisme tubuh akan melambat secara alami. Setelah puasa, wajar bila kamu ingin menyantap makanan sepuasnya, namun metabolisme tubuh kamu sendiri sebetulnya belum siap untuk mengolah asupan makanan dengan kadar normal. Hasilnya, berat badan bisa langsung melonjak. 

    Salah satu metode yang bisa kamu lakukan untuk mengakali hal itu adalah reverse diet. Sederhananya, reverse diet adalah pola makan yang bertujuan untuk mengembalikan metabolisme dan tingkat kalori tubuh secara bertahap. Dengan menjalani reverse diet, kamu justru disarankan menyantap lebih banyak kalori tanpa takut naik berat badan!





    How To Do It?

    #1 Dengan menambah asupan kalori secara bertahap.

    Sesuaikan dengan kondisi terakhir metabolisme kamu. Setelah menjalani diet atau puasa, hitung berapa banyak rata-rata kalori yang kamu asup di hari terakhir puasa/diet. Selesai bulan puasa, tingkatkan asupan kalori sebanyak 50 kalori di minggu pertama, lalu tambahkan 50 lagi setiap minggunya sampai kamu merasa kembali ke tingkat metabolisme normal sebelum puasa. 


    Contoh:

    Kamu telah mencatat rata-rata kalori yang kamu santap di hari berpuasa adalah 1750 kalori. 400 saat sahur dan 1350 ketika buka puasa. Di minggu pertama berhenti puasa, kamu akan menargetkan 1800 kalori per hari (1750 + 50). Kecuali kamu penggiat fitness yang sempat rihat sepanjang bulan puasa dan ingin kembali menjalankan training yang cukup ketat, kamu boleh menargetkan lebih dari 50 kalori di minggu pertama, setidaknya di hari kamu akan menjalani training

    Di minggu kedua, target kalori kamu dinaikkan ke 1850, di minggu ketiga naik ke 1900, dan seterusnya sampai kamu merasa jarum timbangan naik, yang artinya metabolisme kamu sudah normal dan kelebihan kalori akan menambah berat badan.

    Misalnya kamu merasa berat badan kamu naik setelah menyantap 2300 kalori per hari, maka turunkan target kalorimu ke angka 2150 kalori per hari yang akan menjadi level metabolisme ideal bagimu.



    #2 Jangan lupakan protein!

    Banyak penelitian menunjukkan menambah rasio asupan protein saat sedang membatasi kalori akan mencegah hilangnya otot sekaligus mengurangi rasa lapar. Jika menghindari protein, kamu justru akan mudah lemas, cepat lapar, dan bisa jadi yang hilang saat menimbang badan bukanlah lemak, melainkan otot kamu. Jadi jangan hindari sumber protein berkualitas tinggi seperti ayam, telur, ikan, dan susu. 




    Fun Fact: Jaringan otot lebih kecil 20% dibanding jaringan lemak. Jadi bila kamu mendengar kata “otot”, jangan pikirkan kata “bulky”— fat is bulky, muscle is sleek.



    #3 Memilih sumber karbohidrat dan lemak

    Kurangi asupan karbohidrat dan lemak dari makanan olahan pabrik karena mereka biasanya punya nutrisi rendah per kalori serta kurang serat sehingga meningkatkan gula darah yang bisa menurunkan fungsi metabolisme dan membuat tubuh lebih cepat lapar. Pilihlah sumber karbohidrat dan lemak dari bahan alami untuk metabolisme yang lebih baik. Jadi, tidak perlu say no untuk lezatnya rendang dan opor ayam di hari Lebaran nanti!


    Selain itu, reverse diet pun bisa membantu kamu menghilangkan ketakutan pada makanan (fear of food), karena alih-alih menghukum diri sendiri dengan membiarkan tubuh kelaparan, kamu justru belajar memberi nutrisi pada tubuh dan menjaga metabolisme tetap stabil dan kuat. 


    Baca juga:

    6 Tips Menjaga Kesehatan Jantung Selama Puasa

    Identik Saat Ramadhan, Ternyata Ini Khasiat Buah Kurma

    Tips Tetap Bugar Saat Puasa Menurut Ahli Nutrisi


    (Image: Monika Mlynek©123RF.com)