Lifestyle

Ini Alasan Traveling Pakai Itinerary Sendiri Lebih Seru

  by: Alvin Yoga       9/6/2018
  • Traveling kini menjadi salah satu hobi yang paling banyak digemari. Well, tak mengejutkan, karena traveling merupakan salah satu cara terbaik untuk menghabiskan liburan. Belum lagi kamu jadi tahu lebih banyak soal dunia di luar sana. Nah, tak jarang, ketika sedang solo traveling, kamu harus berhadapan dengan hal-hal yang menyebalkan seperti travel delays, atau cuaca yang buruk sehingga kamu tak bisa keluar hotel, atau AirBnb yang tak sesuai dengan harapan, atau mungkin tempat wisata yang ingin kamu datangi tutup karena renovasi. Hal ini pasti membuatmu kecewa, belum lagi kamu jadi repot karena harus menggonta-ganti itinerary-mu dengan kegiatan lain. But here's the positive side, hal-hal tersebut justru membuatmu jadi mencoba hal-hal baru dan membuat pengalamanmu jadi lebih menarik. Hal ini tentu jauh lebih menarik dibandingkan kamu harus mengikuti paket tur wisata. That's why, Cosmo tantang kamu untuk solo traveling kali ini. Here are the other reasons why.


    Lebih Hemat Uang



    Jujur, kamu pasti sering tergoda untuk memilih paket all-inclusive "serba murah" yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan tur wisata karena malas membuat itinerary sendiri. Padahal, sebenarnya paket tersebut tetap lebih mahal dibandingkan kamu membuat itinerary sendiri, belum lagi tak semua tujuan wisata tersebut sesuai dengan keinginanmu Here's the tip: ambil selebaran yang diberikan oleh paket tur wisata, dan contek tujuan wisata utama yang sesuai dengan keinginanmu. Untuk sisanya, cari tempat wisata lain yang sekiranya lebih menarik dan lebih ramah di kantong. Nah, serunya membuat itinerary sendiri, dibanding mencoba restoran yang sudah dipilihkan, kamu jadi bisa mencoba jajanan lokal atau makan di restoran lain yang lebih murah. Plus, kamu jadi bisa memilih menu sendiri yang kamu inginkan. Jadi lebih hemat, kan?


    Lebih Sustainable

    Belakangan ini, isu traveling yang ramah lingkungan menjadi salah satu hal yang paling sering diperbincangkan. Tak mengejutkan sebenarnya, karena tak sedikit tempat wisata yang populer, kini tercemar dengan sampah karena banyaknya turis yang tidak bertanggung jawab.

    Nah, dengan membuat itinerary sendiri, kamu jadi bisa lebih sustainable: memilih-milih wisata yang lebih ramah lingkungan, mendukung budaya lokal, serta memajukan ekonomi lokal dengan cara mengunjungi tempat-tempat tersebut ketika berlibur. Dengan membuat itinerary sendiri, kamu jadi tidak hanya terobsesi dengan tujuan wisatanya saja, namun juga proses menuju tempat tersebut.

    Tak jarang mereka yang solo traveling justru jadi lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat sekitar: mencoba hidangan khas di tempat makan lokal dibanding makan di restoran fast food (yang banyak menggunakan plastik dan kertas - oh, plastic waste) atau di restoran lain yang lebih populer. Kamu juga jadi lebih sering menggunakan transportasi lokal dan berinteraksi dengan supirnya - membuatmu memajukan ekonomi lokal sekaligus mempelajari satu dua hal mengenai budaya lokal dan bahasa mereka, dibanding memaksa mereka untuk berbicara dalam bahasa Inggris.

    Memang, hal ini mungkin membuatmu tak bisa menempuh tujuan traveling sebanyak tur wisata, namun dijamin, pengalaman yang kamu dapat pasti lebih unik dan lebih meaningful dibanding mereka.


    Mendapat Lebih Banyak Informasi



    Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini - sebut saja aplikasi seperti Google Map, Google Translate, atau Uber - kamu jadi tak perlu banyak bertanya pada orang lain jika tersesat di tengah jalan. Dengan kata lain, berinteraksi dengan orang lokal kini menjadi suatu hal yang semakin langka, terutama jika kamu mengikuti paket tur wisata. Padahal dengan solo traveling, bisa saja kamu jadi berkenalan dengan solo traveler lainnya, atau bahkan mendapat tips wisata yang lebih menarik dari orang-orang lokal. Dijamin, masyarakat lokal pasti lebih mengerti mana restoran terbaik dengan menu utama yang harus dicoba, memberitahu kamu hal-hal apa saja yang tak boleh dilakukan, serta mengajarkanmu satu-dua hal soal budaya lokal. Menarik, kan?


    Lebih Terbuka Mencoba Hal Baru

    Terkadang, ketika tidak membuat itinerary, kamu jadi punya lebih banyak waktu kosong dan lebih fleksibel. Hal ini membuatmu jadi punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk solo traveler lainnya. Hey, siapa tahu kamu justru bisa traveling bersama mereka, atau bertukar ide soal tujuan wisata yang menarik. Dibanding mengikuti tour leader kesana kemari, kamu jadi lebih bebas mengatur tujuan wisata dan menjajal tempat baru sesukamu. Seru!


    Skip The Crowds!

    The harsh truth is: bucket lists aren’t all that unique. Dan ketika kamu yakin bahwa angle foto yang tadi bagus untuk Instagrammu, angle tersebut justru sudah terlalu sering dipakai oleh orang lain. Belum lagi kamu jadi membuang-buang waktu menyibukkan diri untuk kepentingan dunia maya, dan melupakan keindahan dan keramahan orang-orang sekitar karena hal tersebut. Saran Cosmo: skip the crowds! Let yourself breathe. Take in the beauty of the trip that is meaningful to you—not to the random followers who will like your next post. Ambil foto seperlunya, dan biarkan mereka menilaimu apa adanya.

    Kali berikutnya kamu merencanakan sebuah liburan, masukan daftar tempat yang kamu ingin kunjungi. Tapi jangan biarkan dirimu terpaku hanya pada itinerary tersebut. Instead, be open to adventure. Hanya dengan begitu kamu bisa menikmati liburanmu - away from the crowds.


    (Artikel disadur dari: cosmo.ph. Alih bahasa: Alvin Yoga. Image: Alexey Poprotsky©123RF.com. Perubahan telah dilakukan oleh editor)